
"Baiklah, ayo gelang si pato gelang."
Kata Zizi sambil berdiri,
"Apa itu Ma?"
Tanya Bobi,
"Mari pulang."
Kata Zizi.
Zia menghela nafas, sambil berpandangan dengan Maria.
"Rasanya saya lama-lama ingin menangis lumpur panas."
Kata Maria.
"Ya, apalagi aku, rasanya aku kadang melihat kepala Zizi lebih mirip hiasan saja."
Lirih Zia seperti putus asa punya anak macam Zizi, lalu melahirkan anak-anak macam kelima cecunguk pembuat onar.
Ali lantas menyusul Zizi berdiri, meski keduanya memiliki karakter bagai bumi langit, tapi nyatanya, Ali sangat menyukai kakak sepupunya itu.
Bagi Ali, tetap saja Zizi adalah seniornya dalam banyak hal.
Dari Zizi, ia juga belajar menjadi pemberani, dan juga tulus.
"Eh Nenek buaya darat."
Kata Zizi kemudian, sebelum ia berbalik ke arah pintu untuk keluar dari pondok cicilan si nenek buaya.
"Buaya putih Zi, kenapa jadi buaya darat."
Kesal Maria,
"Lho, buaya putih yang ada di darat, emangnya salah?"
Ngeyel Zizi,
Ya pastinya, kalau tidak ngeyel bukan Zizi to?
"Ya terserahlah, mau buaya darat kek, buaya muara kek, buaya laut kek, buaya udara juga tidak apa-apa."
Kesal Nenek buaya,
__ADS_1
Lama-lama ia menyesal membiarkan abdinya menolong Bobi yang hampir menjadi korban para kemangmang.
Niatnya ingin menemui Zia untuk membuat kesepakatan karena merasa mereka punya hutang budi, tapi nyatanya sakit hati Nenek dan harga diri Nenek juga harus rela diinjak-injak.
Oh oh... sungguh malang melintang.
"Ayo Bobi, berpegangan pada Paman."
Kata Ali yang mengulurkan tangannya pada Bobi,
Tampak Bobi meraih uluran tangan Ali, dan menggenggamnya dengan erat.
Mereka akhirnya berpamitan pada si Nenek, dengan tetap diantar Nenek buaya hingga pintu menuju perkampungan hantu di satu sisi danau yang pernah menjadi istana bagi Paman Jaka Lengleng.
"Danau ini masih tetap sama, apakah ini juga bisa kami sampai di dekat hotel wisata?"
Lirih Zia seolah sambil mengenang masa lalu.
Nenek buaya mengangguk,
"Hotel wisata sekarang menjadi bangunan kosong lagi, sejak ada banyak yang bunuh diri."
Kata si Nenek buaya,
Tanya Zia seraya menghentikan langkahnya dan menatap Nenek buaya.
"Beberapa gadis desa di sekitar hotel banyak yang bunuh diri, ada juga yang dari luar desa."
Tutur Nenek buaya,
"Kenapa mereka bunuh diri? Apa ulah bujukan lelembut?"
Tanya Zizi yang jelas langsung penasaran.
Nenek buaya terdiam sejenak,
"Aku malas membahas ini, ah... sial!"
Nenek buaya menggetok kepalanya sendiri, lalu...
Plak!!
Bobi yang semula berjalan bersama Ali di belakang Nenek buaya dan nenek Zia serta Mamanya tiba-tiba melompat dan menabok kepala nenek buaya juga.
Yang tentu saja membuat semuanya langsung menoleh ke arahnya,
__ADS_1
"Nenek sakit kepala, Bobi bantu biar meler."
Kata Bobi.
Haiiish...
Nenek buaya mendesis.
Ini sungguh menyalahi aturan alam semesta, seekor buaya mendesis.
"Aku tidak perlu dibantu di keplak!!"
Kesal bukan main nenek buaya,
Andai bocah itu bukan anak Zizi dan juga bukan keturunan Bandapati, pasti sudah Nenek buaya bikin rica-rica, atau malah dibuat geprek pakai lombok ijo.
"Kau terlalu banyak rahasia Nek, sangat mencurigakan."
Ujar Zizi.
"Aku bukan ingin merahasiakannya, aku hanya malas membahas."
Kata Nenek buaya.
"Ya apa bedanya!!"
Zizi jadi kesal.
Zia menggelengkan kepalanya,
"Sudah... sudah... kita lebih baik pulang dulu, Mama khawatir Papamu nanti stres mengurus Scot dan Gil sendirian."
Kata Zia menengahi,
Zizi menatap danau di hadapannya,
"Apa ada hantu kurangajar yang mengganggu wilayahmu Aunty?"
Gumam Zizi.
Maria terdiam, ia merasakan ada hal yang tak biasa, seperti saat dulu ia juga pernah mengalaminya.
Apa mungkin dia kembali juga? Pikir Maria.
**---------------**
__ADS_1