The Pandawa

The Pandawa
19. Berbagi Tugas


__ADS_3

"Sayang, bawa semua pulang, biar aku di sini dengan Arya, toh ada Ali dan Marthinus serta beberapa pengawal yang lain."


Kata Zia dengan tatapan memohon pada Zion.


Zion tampak menghela nafas, meski berat tapi ia tahu bahwa ia memang harus menuruti keinginan Zia kali ini.


Anak-anak Zizi bagaimanapun harus dibawa pulang ke rumah secepatnya, karena jika tidak, mereka pasti akan menambah rusuh keadaan saja.


Mungkin, tidak masalah jika yang ada di sana hanya Rain dan Aron, tapi Scot dan Gil...


Ah tidak, tidak!


Mereka jelas adalah malapetaka untuk para mahluk tak kasat mata.


"Baiklah Zia."


Jawab Zion akhirnya, sama sekali tak berniat berdebat dengan Zia lagi.


Zia mengangguk lega, tampak Zia kemudian memandang ke arah Arya.


"Tidak apa-apa kan kak Arya temani Bibi Zia sampai Zizi kembali? Atau minimal sampai Ali dan Marthinus kembali."


Tanya Zia pada Arya.


Arya, pemuda tampan berseragam polisi itu tampak mengangguk tanpa ragu,


"Tenang saja Bibi, saya masih akan di sini sampai tengah malam nanti untuk memastikan bus dan pick up juga bisa segera dievakuasi."


Kata Arya.


Zion yang mendengar Arya akan tetap berada di sana akhirnya langsung terlihat lega.


Bagaimanapun, tentu keselamatan Zia secara fisik sudah bisa dijamin karena ada kepolisian yang berada di sana.


"Kak Ziyan, aku akan ke rumah Bogor sekarang, Kak Ziyan dan Kak Aisyah serta Eva akan ke rumah Bogor juga atau..."

__ADS_1


"Tidak Zion, kami akan ke rumah Kemang saja, kamu tidak apa jika akan pulang ke rumah Bogor, biar aku dan Aisyah yang gantian mengurus rumah Kemang jika nanti ada kolega yang baru sempat datang."


Kata Ziyan.


"Tapi kau baru saja pulang dari New York, kak, pasti akan sangat melelahkan bukan?"


Zion terlihat tak enak, tapi Ziyan menepuk bahu Zion.


"Tidak apa, tenang lah, aku jauh lebih kuat dibandingkan dirimu, aku akan handle semuanya di Kemang, sebaliknya justeru kau yang butuh istirahat sekarang. Nanti, aku akan pastikan pengawal senior Alpha Centauri datang ke rumah Bogor."


Ujar Ziyan.


Zion tersenyum, lalu akhirnya mengangguk.


Memang sejujurnya Zion juga rasanya tubuhnya sudah teramat lelah hari ini, mata juga teramat berat untuk terbuka lebar.


"Ya baiklah Kak, aku serahkan semuanya pada Kak Ziyan hari ini."


Ziyan mengangguk,


"Kami pergi dulu Zia, kalau ada apa-apa, jangan malu beritahu kami."


Kata Aisyah memeluk Zia sebentar.


Zia mantuk-mantuk.


"Ya Kak Aisyah,"


Aisyah lantas masuk ke dalam mobil mendahului yang lain, baru kemudian disusul Eva dan baru kemudian Ziyan.


Mereka pergi dengan dikawal satu mobil pengawal saja.


Zion tak lupa juga memeluk Zia.


"Kamu akan menunggu Zizi di sini saja?"

__ADS_1


Tanya Zion sambil celingak-celinguk.


Zia tersenyum sambil menunjuk ke arah tempat di mana Kakek Ardi Subrata dimakamkan, yang memang letaknya masih belum begitu jauh dari tempat peristiwa kecelakaan terjadi.


"Kampung hantu, aku akan ke sana sambil menunggu Zizi, nanti di sini biar Arya yang berjaga."


"Tapi..."


Zion bergidik menatap tempat Kakeknya di makamkan yang pastinya nanti saat malam hari akan sangat gelap gulita.


"Kenapa? Aku justeru akan aman jika di sana, jangan khawatir, pergilah, aku akan bicara dengan nenek ini."


Ujar Zia seraya menunjuk si nenek yang kini tengah susah payah membetulkan rambutnya yang baru saja untuk mainan Scot dan Gil.


Zion menatap nenek yang kedua matanya merah itu.


Ah mengerikan.


Batin Zion yang lantas mengalihkan tatapan matanya ke arah Scot dan Gil yang sedang dimarahi oleh Rain.


"Lagi-lagi jangan begitu pada orang yang sudah tua Scot, Gil, tidak boleh."


Terdengar Rain memarahi kedua adik bungsunya.


Scot dan Gil malah cengar-cengir tidak jelas.


Zion berpandangan dengan Zia yang tampak tersenyum paham.


Lalu...


"Nnggg... Ayo kita pulang saja Rain, Aron."


Ujar Zion akhirnya.


**---------------**

__ADS_1


__ADS_2