
"Aduh Zi, pelan-pelan, ini aku baterai low."
Kata Aunty Maria yang melayang seperti balon kempes tidak ada energinya setelah kena pukul kakek tua dukun pemelihara siluman setengah kera.
Mereka kini tengah menyusuri hutan di mana terakhir kali Bobi sepertinya mengarah ke sana.
"Kalau Bobi kenapa-kenapa bagaimana Aunty? Terlambat satu menit saja itu bisa batal!!"
Zizi begitu kesal, wajahnya tegang luar biasa,
"Fatal sayang, bukan batal."
Kata Shane berusaha masih fokus dan sempat membetulkan kata-kata Zizi.
Maria hanya menggelengkan kepalanya, sudah terbiasa Zizi begitu, dari kecil tidak berubah.
Mereka kembali fokus mencari keberadaan Bobi, sembari waspada jika tiba-tiba ada serangan dari mahluk lain, baik itu hantu ataupun binatang.
Angin berhembus sedikit kencang, saat kemudian Shane tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Zizi yang melihat Shane tiba-tiba menghentikan langkahnya, menoleh ke arah sang suami dan bertanya,
"Ada apa Kak Seng?"
Tanya Zizi.
"Ada aroma Paman Marthinus."
Kata Shane.
"Paman Marthinus?"
Zizi memastikan, lantas celingak-celinguk,
"Sepertinya dengan Ali."
Ujar Shane pula.
Maria yang mendengar kata-kata Shane lantas melayang ke dekat Zizi,
"Biar aku coba cari tahu keberadaan mereka."
__ADS_1
Kata Maria.
Zizi mengangguk,
"Tapi kau harus hati-hati Aunty, bukankah kau bilang sedang lemas?"
Zizi menatap pengasuhnya,
Maria, si hantu none Belanda itupun melayang pelan menuju ke arah angin berhembus.
Shane meraih tangan Zizi, menggandengnya dengan erat.
"Kita cari lagi, jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
Ujar Shane.
Hari kini mulai gelap, cahaya bulan mulai terlihat bersinar menggantikan Matahari.
"Mungkinkah Bobi tersesat ke dunia para hantu?"
Gumam Zizi.
"Sudah sejauh ini, tidak mungkin dia masih ada di dunia manusia,"
Shane terdiam sejenak, memang semakin jauh mereka menyusuri hutan, Shane semakin kehilangan petunjuk ke mana Bobi sebetulnya.
Kecepatan Bobi melesat memang entah kenapa ada di atas Shane, dan bahkan Marthinus.
Sepertinya, Bobi mewarisi darah naga dan juga ia memiliki darah Ruthven, raja Vampire yang dulu sempat membuat Shane hampir menjadi budaknya.
"Baiklah kita cari pintu ke dunia mereka,"
Kata Shane akhirnya memutuskan.
Keduanya lantas berjalan mengikuti jalan di mana mereka pertama kali tadi datang.
Shane merasa bahwa pintu ke arah alam yang kini Bobi berada di sana sudah jauh tertinggal di belakang.
Tentu saja, itu karena semakin jauh mereka melangkah, Shane semakin kehilangan aroma anaknya.
Zizi sendiri entah kenapa memang sejak melahirkan Gil, energinya semakin melemah, ia tak lagi seperti dulu, bahkan ia mulai sering kehilangan keseimbangan energi karena Jayapada masih ada bersamanya.
__ADS_1
Energi Jayapada yang sangat besar, nyatanya memang begitu menekan Zizi, dan ini cukup membuat Zizi kewalahan sebetulnya.
"Kau tidak apa? Jika lelah, lebih baik aku saja yang meneruskan Zi. Nanti jika Ali dan Paman Marthinus sampai, kamu pulang saja bersama Ali dan Aunty."
Kata Shane.
Zizi tampak diam saja, ia sepertinya kurang setuju, namun belum lagi Zizi bereaksi lebih, tiba-tiba...
Syuuuuuut...
Terlihat sebuah sinar terang melesat begitu cepat melewati atas mereka.
Zizi dan Shane segera melihat ke arah yang dituju sinar terang itu.
"Apa itu?"
Zizi akan menarik tangan Shane untuk mengejar sinar itu, saat kemudian mereka mendengar suara Ali...
"Jangan kak."
Zizi dan Shane menoleh, tampak dari arah belakang mereka Ali dan Paman Marthinus berlari begitu cepat ke arah keduanya.
"Aunty, kalian tak bersama dengannya?"
Tanya Zizi langsung menanyakan Maria yang tak terlihat.
"Aunty Maria ke perkampungan hantu, di sana ada Bibi Zia."
"Di mana?"
Tanya Zizi,
Ali menunjuk jauh ke arah belakangnya.
"Kami menemukan Kak Arya yang rupanya tersesat terpisah dari Bibi Zia, dia cerita jika Bibi sedang bersama Nenek jelmaan buaya putih."
Tutur Ali,
"Hah? Bu... buaya putih?"
Zizi melongo,
__ADS_1
Bagaimana bisa...
**------------**