
Rumah Kemang terlihat mulai sepi karena Eva siang ini memutuskan untuk pergi ke makam kakek Ardi lagi sebelum sorenya terbang kembali ke Kuala lumpur,
Buat Eva, tentu ini adalah kesedihan yang memukulnya dua kali lipat, karena kakek harus meninggal di kala Eva tahun depan akan melangsungkan pernikahan,
Sejatinya, ia ingin sekali saat ia menikah, keluarganya masih lengkap dan utuh, sebagaimana saat Kak Zizi menikah, Eva juga ingin seperti itu,
Tapi...
Nyatanya umur memang tak ada yang tahu, meskipun tentu saja Eva maupun yang lain sadar betul, jika kakek buyutnya memang bisa dibilang panjang usia,
Kakek buyut Ardi Subrata bahkan sudah mulai tak memiliki teman seumuran sejak dua puluh tahun yang lalu,
"Tuan... Tuan muda Ali, makan siang sudah siap, apa anda ingin makan di sini di lantai tiga?"
Tanya seorang pelayan rumah kakek buyutnya yang kini rumah itu telah menjadi milik Kak Zizi,
Ali yang sejak tadi tengah duduk tercenung di set sofa lantai tiga tampak memandangi pelayan yang kini berdiri,
"Baiklah, bawa saja makanannya ke lantai tiga,"
Kata Ali memutuskan,
Sang pelayan pun mengangguk cepat,
Namun saat akan beranjak meninggalkan Tuan Mudanya, Ali tiba-tiba kembali memanggil sang pelayan,
"Ya Tuan Muda,"
Pelayan mendekat lagi,
"Mbak sudah berapa tahun ikut di sini?"
Tanya Ali,
Pelayan tersebut terdiam sejenak, seperti mengingat dengan pasti sudah berapa lama kira-kira ia bekerja di sana,
Ali bertanya padanya karena setahu Ali, dia adalah pelayan paling senior sekarang, setelah kepala pelayan yang dulu telah pensiun dan dibuatkan usaha di kampung oleh Paman Zion,
__ADS_1
"Sekitar lima belas tahun Tuan Muda, saya ingat betul baru lulus SMA dulu ikut Mbak Ning ke Jakarta untuk bekerja di rumah Tuan Besar,"
Kata si pelayan kemudian,
Ali mengangguk seraya tersenyum,
"Kalau begitu boleh saya tanya Mbak?"
Tanya Ali,
Sang pelayan mengangguk santun,
"Silahkan Tuan Muda, silahkan..."
Kata si pelayan,
"Mbak sering ke halaman belakang, apakah pernah selama bekerja di sini melihat sesuatu yang aneh?"
Tanya Ali,
Si pelayan seperti sebelumnya tampak terdiam, ia mencoba mengingat apakah ada sesuatu yang tak biasa yang ia lihat selama bekerja di sana,
Ali pun cepat berdiri, sementara si pelayan tampak menatap Ali,
"Apa kira-kira itu Tuan Muda?"
Tanya si pelayan dengan ekspresi takut,
Ali menggeleng pelan,
"Biar aku lihat ke lantai dua Mbak, tolong Mbak panggil pengawal yang berjaga di luar,"
Kata Ali memberikan perintah,
Si pelayan pun mengangguk dan kemudian tergopoh-gopoh menuju lift,
Ali sendiri berlari kecil menuju tangga yang menghubungkan lantai tiga dengan lantai dua,
__ADS_1
Sesampainya di lantai dua, kebisingan itupun terdengar semakin jelas, sepertinya berasal dari kamar Rain, maka Ali pun cepat menuju ke sana,
Apa sebetulnya yang terjadi? Batin Ali,
Ia khawatir jika ada sesuatu yang dapat membahayakan keluarganya,
Ali cepat bergerak menuju kamar Rain dengan kewaspadaan tinggi, ia bersiap jika ternyata ada mahluk jahat masuk, ia jelas harus siap menghadapinya sendirian karena semuanya tengah pergi,
Ali mendekati pintu kamar Rain, berdiri sejenak di depan pintu itu sambil menarik nafas dalam-dalam, tangannya meraih handle pintu dan...
Saat Ali akan membuka pintu, tiba-tiba sesosok bayangan keluar menembus pintu dan jadi menabrak Ali meskipun menembus tubuh Ali,
"Oh... Maaf... Maaf Tuan Muda Ali,"
Sosok bayangan itu begitu menyadari ada Ali langsung membungkuk minta maaf berkali-kali,
Namun Ali begitu melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang langsung terlihat menghela nafas lega,
"Aunty, syukurlah itu kau,"
Kata Ali,
Sosok bayangan yang tak lain adalah Maria itu melayang mendekat ke arah Ali,
Bersamaan dengan itu pintu kamar Rain dibuka dari dalam dan tampak Marthinus yang berdiri di sana,
Di dalam kamar Rain, semua pun terlihat sudah berkumpul,
"Al, kamu masih di Jakarta?"
Sapa Zizi,
Ali mengangguk dan tersenyum ke arah kakak sepupunya.
"Selamat datang kembali ke rumah dengan selamat Kak Zizi,"
Kata Ali,
__ADS_1
...****************...