The Pandawa

The Pandawa
29. Sudah Dekat


__ADS_3

Sementara di rumah Bogor masih heboh karena Lesti yang belum siap mental melihat penampakan Zanuba secara jelas, di hutan belantara di alam gaib, Zia kini tampak berjalan cepat mengikuti nenek jelmaan buaya putih yang merasakan kehadiran manusia.


Zia sebetulnya kurang yakin jika itu adalah kak Arya, karena kata Nenek jelmaan buaya putih, aroma yang ia hirup adalah aroma gosong dan agak asam, ini tentu saja bukan aroma kak Arya yang selalu wangi.


"Nenek yakin jika kita akan menemukan Arya? Aduh dia itu anak saya juga Nek, janganlah main-main,"


Kata Zia.


"Aduh Nyonya ini cerewet sekali, sudah ikuti saja saya, pokoknya kalau saya tersesat maka itu berarti Nyonya juga ikut tersesat."


"Lah, ya ogah lah Nek, tersesat kok ngajak-ngajak kayak syetan saja."


Kata Zia yang akhirnya memilih berhenti, melihat Zia berdiri akhirnya Nenek jelmaan buaya putih itupun akhirnya ikut menghentikan langkahnya.


Lalu...


"Nyonya, kenapa berhenti? Ayo sedikit lagi, ini aromanya sudah semakin dekat."


Kata Nenek jelmaan buaya putih itu lagi,


"Tapi bau gosong dan bau asam itu jelas bukan aroma Arya, tidak mungkin dia begitu, jangan-jangan ini hanya jebakan, mungkin ini adalah aroma siluman ular."


Kata Zia.


"Ah, siluman ular semua sudah pindah kekuasaan, tidak ada lagi yang bertempat di danau ini."


Kata Nenek jelmaan buaya putih dengan wajah sangat yakin, dan itu justeru menjadikan Zia merasa nenek buaya putih itu tahu sesuatu,


"Pindah kekuasaan? Di mana?"


Tanya Zia.


Nenek jelmaan buaya putih lantas jadi gugup, ia berusaha menghindari tatap mata Zia, tapi ia merasa tetap tak mudah.


Zia cepat menarik Nenek buaya putih agar menghadapinya,


"Katakan Nek! Atau aku akan minta Nenek Bandapati menghancurkanmu juga jika sampai terbukti kau sebetulnya bersekongkol dengan mereka."


Zia tampak mendelik, wajahnya terlihat sedikit merah karena menahan amarah.


Nenek jelmaan buaya putih itu terlihat menggeleng cepat,


Di sudut lain lagi tampak Maria yang melayang rendah di depan Zizi yang diikuti Ali, mereka memasuki hutan yang sangat gelap.


Tampak kelap-kelip mata-mata mengintip dari balik rimbun semak belukar di dalam hutan tersebut,


"Aduuh, gaunku kesangkut-sangkut lagi ini Zi."


Maria menggerutu sambil berkali-kali menarik ujung gaunnya yang terus-menerus nyangkut di semak-semak.


"Makanya kalau masuk hutan pakai bikini."

__ADS_1


Kata Zizi.


Ali garuk-garuk langsung membayangkan orang masuk hutan pakai bikini.


"Lah, yang ada langsung di kejar harimau dikira Perkedel jalan kaki."


Kesal Maria.


Zizi geleng-geleng kepala,


Kenapa sampainya perkedel? Batinnya heran.


Ah memang Aunty Maria itu bolot dari dulu, pasti jaman masih hidup bolot banget juga. Batin Zizi pula.


Maria melanjutkan acara melayangnya, saat tiba-tiba ia melihat ada cahaya seperti cahaya kecil dari sebuah pondok kayu.


"Ada pondok, apa mungkin ada manusia di sini?"


Gumam Maria.


"Lah ngaco, ya tidak mungkin dong Aunty, ini kan alam gaib."


Kata Zizi.


"Ya barangkali daripada hidup di dunia manusia sekarang kan apa-apa susah, mending pindah alam saja, apalagi alamnya masih asri begini,"


Ujar Maria.


Zizi menggelengkan kepalanya,


Kata Ali memberi saran.


Zizi mengangguk, ia lantas meminta Maria tetap memimpin jalan, saat kemudian Zizi mendengar seperti ada suara Shane memanggil.


"Sayang..."


Zizi yang mendengar suara Shane langsung menoleh, ia celingak-celinguk,


"Ada apa Kak?"


Tanya Ali,


Zizi menatap Ali,


"Kamu tidak dengar?"


Zizi balik bertanya.


"Dengar? Dengar apa Kak?"


Ali jadi tambah bingung.

__ADS_1


"Ada yang memanggil, suara Kak seng."


Ujar Zizi yang jadi pecah fokusnya karena ia sejatinya tidak tenang meninggalkan Shane sendirian di dunia manusia.


"Aku tidak dengar apa-apa Kak."


Kata Ali.


Zizi mengerutkan kening,


"Kamu benar-benar tidak bisa mendengar apapun? Kenapa?"


Gumam Zizi jadi penasaran, ia kembali menatap ke arah belakangnya, dan juga celingak-celinguk bingung.


Lalu...


"Ada apa Zi? Kenapa kalian malah tidak mengikuti ku?"


Maria mengomel,


"Sori Aunty, ini aku dengar sesuatu?"


Kata Zizi.


"Suara apa? Bersin? Batuk? Orang menangis? Orang tertawa? Atau apa?"


Tanya Maria.


"Suara Kak Seng memanggil, jelas sekali itu tadi suara Kak Seng."


Kata Zizi,


"Ah arwah pemanggil."


Tiba-tiba kata Maria.


"Arwah pemanggil apa aunty?"


Tanya Zizi,


"Arwah hutan, memang suka begitu, apa kamu tidak tahu?"


Tanya Maria.


"Kita selama ini juga tidak ada yang semacam itu, saat kita akan ke Merapi, bukankah kita juga masuk keluar hutan?"


"Tapi kondisimu sedang kuat-kuatnya saat itu Zi, berbeda dengan sekarang."


Kata Maria.


Zizi menatap arah belakangnya lagi,

__ADS_1


Ah Kak Seng, dia pasti juga sibuk mencari Zizi saat ini. Sedih Zizi.


**----------------**


__ADS_2