The Pandawa

The Pandawa
52. Kanjeng Ratu


__ADS_3

Angin semilir berhembus pelahan, suara gemerisik dedaunan pohon-pohon di tepi sebuah hutan terdengar mengiring suara binatang-binatang malam yang menjadi penghuni hutan tersebut.


Dan...


Hening sejenak,


Hanya semilir angin saja yang kembali berhembus, yang kemudian dari arah tengah hutan yang gelap, sayup suara gamelan tiba-tiba saja terdengar mengalun sendu,


Suaranya pelan, sebagaimana irama musiknya yang menghanyutkan.


Bersamaan dengan itu, suara perempuan menyenandungkan sebuah kidung juga pelahan mulai terdengar,


Senandungnya begitu syahdu, sebagaimana suara gamelan yang mengiringinya,


Zia tampak berdiri diam di tepi hutan yang kini terlihat gelap di depannya,


Didengarkannya suara perempuan yang begitu lembut dan merdu itu, suara yang menyenandungkan sebuah kidung syahdu,


Ya...


Kidung itu tentu bukanlah sebuah kidung yang asing bagi Zia. Sudah beberapa kali Zia mendengarnya pada saat-saat dulu ia masih muda dan harus menghadapi begitu banyak marabahaya,


Dan...


Cring...


Cring...


Cring...


Suara itu serupa suara gelang kaki,

__ADS_1


Zia mengamati sekitar, memastikan siapa yang kini tengah datang mendekat,


Dan...


Tiba-tiba, sebuah cahaya yang tampak berkilauan muncul dari gelapnya hutan di dalam sana,


Zia melangkah mundur sedikit ke belakang, ia terlihat waspada karena belum bisa memastikan siapa gerangan yang datang,


Hingga...


Pelahan, cahaya itu semakin lama semakin dekat,


Cahaya yang seperti dari api-api obor itu kini semakin jelas terlihat,


Api-api obor yang dibawa oleh serombongan laki-laki dengan pakaian seperti orang jaman dulu,


Di belakangnya tampak sebuah tandu diusung oleh beberapa laki-laki lain, di mana di atas tandu itu ada seorang perempuan yang duduk di sana.


Kepalanya terdapat mahkota dari emas yang berukir naga,


Zia nyaris menahan nafas kala perempuan di atas tandu itu mendapati Zia ada di sana.


Tatap matanya sangat tajam menghujam ke arah Zia.


Perempuan itupun kemudian meminta rombongan pengiringnya berhenti,


Zia sudah kepalang tanggung, tak mungkin ia melarikan diri.


Perempuan itu sejenak kembali menatap Zia, dan tak lama ia tersenyum ke arah Zia pula,


"Kau keturunan Bandapati bukan?"

__ADS_1


Tanya si perempuan tersebut,


Zia terlihat terkesiap, tak menyangka jika perempuan tersebut tahu dirinya siapa,


"Bandapati masih berada di tempat ia harus membersihkan diri, kelak ia akan kembali di waktu yang tepat, di saat keturunannya akan menemui takdir berperang melawan segerombolan siluman ular."


Ujar di perempuan yang seperti seorang ratu.


Zia memandangi tandu berukir naga dari emas yang kini diduduki perempuan itu, ukiran naga yang persis seperti nenek Bandapati,


Lalu...


"Suatu hari, ingatlah kau pernah bertemu denganku Nyonya Zia, ingatlah pesanku,"


Tiba-tiba suara perempuan itu seperti bergema,


"Jika kelak satu gunung mengeluarkan asap pekat bergulung-gulung seperti nafas seekor Naga, jika kelak ada gonjang-ganjing bumi yang kalian pijak terasa luar biasa, jika air laut pasang sangat tinggi dan ombak menerjang di mana-mana, maka..."


Perempuan itu mengulurkan tangannya, yang di mana dari tangannya muncul lima batu permata berwarna kehijauan,


"Lima pemuda telah terpilih oleh semesta untuk mengalahkan seluruh angkara murka, yang di mana hal itulah sesungguhnya sumber malapetaka,"


Zia tampak menatap kelima batu permata yang kini melayang dari telapak tangan perempuan itu menuju Zia,


"Berikanlah kelima batu permata itu, aku sudah memilih mereka semua, nanti kala semua telah selesai, jadikan satu dari kelimanya sebagai kepercayaanku,"


Si perempuan tersenyum ke arah Zia, yang kini terlihat masih sibuk berusaha mencerna apa yang dikatakan perempuan tersebut,


Dan...


"Pulanglah, masih ada banyak waktu mempersiapkan semuanya, kelima anak itu pastikan mereka akan menjadi yang terbaik dari keturunan Bandapati."

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2