
Brak!!
Di sebuah ruangan yang berada di satu bangunan rumah mewah, seorang laki-laki menggebrak meja dengan keras,
Wajahnya yang memerah karena amarah yang memuncak, terlihat semakin menambah ngeri siapapun yang melihatnya karena wajahnya sebagian tertutup sisik seperti sisik ular,
Di hadapannya terlihat sosok laki-laki yang lebih muda tertunduk, bingung harus berkata apa untuk menenangkan laki-laki yang kini tengah berada di titik emosi yang paling tinggi,
"Apa kamu bodoh?! Berapa kali aku sudah katakan! Jangan bergerak selama aku belum memberi perintah! Ini sudah berapa kali kamu melakukan kesalahan! Kamu tidak ingat kejadian dulu saat kita akhirnya harus terusir dan kehilangan semuanya?!"
Laki-laki itu lantas kembali menggebrak meja,
BRAKK!!
Laki-laki yang berdiri, yang tak lain adalah Tuan Alex pun menyadari jika lagi-lagi ia terburu-buru,
Masih terlalu dini menyelinap ke tempat keturunan Aji Manggala, meskipun sebetulnya ia baru memberikan teror di dunia lukisan Rain, tapi siapa yang menyangka jika setelah Bandapati bertapa, justeru muncul penjaga keluarga Zia yang baru,
Sosok Nenek tua dengan kain bercorak Naga, yang ternyata juga sulit sekali dikalahkan,
"Kau harus membereskan semua kerusuhan di sini, aku tak mau perduli, apapun caranya kau harus menarik semua pasukan dan kembalilah bersembunyi sampai waktunya tepat."
Kata Laki-laki yang tak lain adalah Attala itu,
Alex menatap Kakaknya yang kini wajahnya setengahnya bersisik macam ular,
"Aku akan mengajak keempat anakmu,"
Attala berdiri dari duduknya,
Alex celingak-celinguk bingung,
"Anak? Kenapa anakku akan kau ajak Kak? Mau kau ajak ke mana mereka?"
Bingung Alex,
Attala seolah menghela nafas, lalu...
"Kembali ke London,"
Jawab Attala enteng,
"London? Kau mau jadikan mereka tumbal?"
Alex jelas tak bisa menerima,
Attala tertawa terbahak-bahak,
Alex yang belum tahu persis maksud dari Attala memutuskan untuk membawa pergi anak-anaknya jelas saja menuntut penjelasan,
__ADS_1
"Justeru kamu lah yang ingin membuat anak-anak mu jadi tumbal jika dibiarkan terus di sini!!"
Kesal Attala, Alex terdiam,
"Yang kita incar bukan hanya Jayapada, tapi lima batu permata yang akan diwariskan pada anak-anak Zizi."
"Batu permata?"
Alex bingung,
"Apa kau bodoh? Permata itu yang akan mampu mengendalikan semua Naga, kau tak akan bisa menguasai dunia ini jika hanya mendapatkan satu Naga saja!"
Geram Attala,
"Tapi dia Naga terkuat,"
Kata Alex ngeyel,
"Dia bukan yang terkuat jika oleh Bandapati saja kalah,"
Alex terdiam,
Kata-kata sang kakak jelas benar adanya.
Jika naga yang dibangunkan anak-anaknya adalah yang terkuat, harusnya ia adalah satu-satunya Naga yang tak bisa dikalahkan,
Meskipun ia sudah tak lama bersembunyi, dan entah apa yang tengah ia persiapkan, tapi...
Alex menatap kakaknya,
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Alex kemudian,
"Sekarang kau baru bertanya? Setelah semua kekacauan yang kau akibatkan?!"
Kesal bukan main Attala,
"Ini semua demi Nadia!!"
Kata Alex dengan mata berkaca-kaca,
Attala kali ini yang ganti terdiam,
"Semua gara-gara kau juga kan kak!"
Emosi jadinya Alex,
"Aku ingin cepat menemukan mustika ular emas, karena hanya itu yang bisa membuat Nadia sembuh,"
__ADS_1
Lirih Alex,
"Ada dia masih harus minum darah?"
Tanya Attala,
Alex tertunduk,
"Aku tak tega melihatnya berubah menjadi setengah manusia, meskipun aku juga sama, tapi rasanya berbeda melihat dia yang kita cintai berubah menjadi sosok yang tidak sempurna sebagai manusia,"
"Mustika itu, mustika ular emas, kau pernah bilang semua ada pada Ardi Subrata bukan?"
Alex menatap Attala kembali,
Attala mengangguk,
"Bawahanku yang aku kirim saat meninggalnya Ardi Subrata tak kembali lagi, aku yakin ia dibinasakan karena ketahuan, itu sebabnya aku akhirnya bertindak,"
Terang Alex,
"Tetap saja kau gegabah, harusnya kau tanya aku dulu,"
"Kau selalu menyuruh menunda, tapi kau mengabaikan nasib Nadia,"
"Dia akan tetap seperti itu sampai beberapa tahun lagi, dia tak akan sepenuhnya jadi Vampire,"
Kata Attala,
"Tinggal di kastil itu, nyatanya membuat kita malah mendapat masalah, kau juga harus menjadi seperti itu, tak bisa lagi kembali seperti dulu jika tak cepat mendapatkan mustika ular emas, tapi kau malah terus menundanya,"
"Karena ada yang lebih besar yang ingin aku dapatkan,"
"Jayapada dan lima batu permata yang harusnya diwariskan pada keturunan Bandapati?"
Alex seolah memastikan,
Attala sekali lagi mengangguk,
Laki-laki yang wajahnya kini bersisik seperti ular lantas bergumam seraya berbalik menatap lukisan besar di ruangan itu,
Lukisan ular besar yang tengah melilit sebuah rumah tua,
"Jika kita menjadi penguasa, apapun bisa kita lakukan dan kita dapatkan, kau harusnya tahu itu."
Ujar Attala,
Ia sungguh menuruni sifat serakah Jaka Lengleng, moyangnya.
**-------------**
__ADS_1