The Pandawa

The Pandawa
34. Clue


__ADS_3

Dan...


Di hutan belantara dekat danau yang airnya sedingin sikap mantan, tepatnya di dalam pondok yang masih diangsur Nenek Buaya putih, Zia dan semuanya duduk membentuk lingkaran di dalam ruangan dengan Nenek buaya putih sebagai pusatnya.


Nenek Buaya putih terlihat memasang wajah serius, saking seriusnya, kadang wajahnya berganti jadi buaya sesekali.


"Menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, mereka para ular telah memiliki cara untuk membaur di tengah manusia di kota-kota besar."


Suara Nenek Buaya putih kembali terdengar, setelah semua wajahnya berganti buaya dan begitu mangap terlalu lebar hingga membuat Bobi nyaris memukulnya karena kaget.


"Apa mungkin mereka di Jakarta?"


Tanya Zizi.


Nenek Buaya putih mengangguk,


"Tentu saja, yang paling mereka incar adalah pusaka yang ada pada keluarga kalian, terutama Jayapada. Di mana memangnya pedang itu disembunyikan?"


Nenek Buaya putih menatap Zia dan Zizi, yang tentu saja sikap itu membuat Zizi langsung jadi curiga,


"Kenapa kau tanya Nek? Apa kurusannya?"


Tanya Zizi,


Semua lantas menatap Zizi,


"Urusan Zi... urusan..."


Maria yang kesal meralat, sebagai hantu saja dia rasanya langsung punya darah dan tekanannya naik, apalagi yang manusia, pasti rasanya darahnya mau muncrat,

__ADS_1


Zia dan Ali terlihat mengurut kening,


Dari dulu masih saja tidak bisa bicara bener. Batin keduanya.


Tapi Zizi tak peduli, baginya kesalahan bicara tidaklah penting, karena kesalahan semacam itu tak berdampak apapun untuk keseimbangan alam semesta.


Ia tak peduli jika mental dan kejiwaan manusia dan mahluk di sekitarnya jadi mudah terguncang, bahkan jika Congcorang terlalu sering bergaul dengan Zizi pun pasti ia memilih jadi kecoak saja.


Nenek Buaya putih terlihat tersenyum simpul, tapi itu justeru menimbulkan asap emosi di tubuh Zizi,


"Tidak usah senyum-senyum begitu Nek, ingat cicilan pondok mu masih lama, kalau aku robohkan pondok ini, maka kau hanya akan mencicil tanah tanpa bangunan."


Kesal Zizi,


"Hmmm..."


Zia langsung memberi kode agar anaknya berhenti bicara kasar pada lelembut yang lebih tua,


"Dia mencurigakan Ma, tanya-tanya Jayapada disembunyikan di mana."


Kata Zizi.


"Saya tidak bermaksud apa-apa Nyonya Zia, saya hanya penasaran saja karena pedang yang begitu mengguncang jagat lelembut itu tampaknya sulit sekali dideteksi ada di mana. Meskipun, saya tahu pemiliknya adalah Nona Zizi, tapi hari ini nyatanya saya tidak melihat Nona Zizi membawa pedang itu."


Nenek Buaya putih menatap Zizi dari atas sampai bawah,


"Ya karena pedang itu ada di dal..."


"Hmmm..."

__ADS_1


Zia ber ehm lagi sambil menutup mulut Bobi yang hampir saja bicara soal Jayapada sembarangan.


Nenek Buaya putih menatap Bobi,


"Sudah, lanjutkan informasinya Nek, kami tidak punya banyak waktu lagi, ini di dunia manusia pasti sudah siang, suamiku akan khawatir jika belum kembali hingga lewat tengah hari."


Kata Zia akhirnya.


Nenek Buaya putih yang terdiam pun akhirnya mengangguk pelan, lalu...


"Mereka menempati satu rumah besar dan mewah, kabarnya, pemimpin mereka dari keturunan Baginda Jaka Lengleng memang sudah kembali dari pelarian, dan mereka kembali kaya raya."


"Alex?"


Tanya Zizi cepat,


Nenek Buaya putih tersenyum simpul lagi,


"Ya, mungkin itu namanya, aku tak tahu persis siapa namanya, tapi banyak lelembut yang menjadi sumber menyebutkan, bahwa sekelompok siluman ular telah membaur dengan manusia, dan ada satu di antara mereka ada yang sangat kuat, yang justeru ia adalah sosok yang paling kecil."


Kata Nenek Buaya putih,


"Paling kecil? Maksudnya?"


Ali yang ikut penasaran jadi bertanya,


Nenek Buaya putih lantas menatap Bobi lagi, lalu menunjuk anak itu,


"Yang seusia dia, justeru anak itulah ular terkuat saat ini."

__ADS_1


**------------**


__ADS_2