The Pandawa

The Pandawa
7. Boleh


__ADS_3

"Kalian itu kan disuruh tidur, sudah hampir subuh, kalian mau bikin Nenek Zia meninggal juga karena sakit kepala?"


Marah Maria pada dua anak Zizi yang Nauzubillah.


Scot dan Gil tampak matanya kedip-kedip menatap Maria.


"Pocong itu pasti kedinginan dan akan masuk angin, kalian apa tidak tahu kalau baju Pocong itu tidak dijual di lazada."


Kesal Maria.


"Shopee mungkin bisa Aunty, nanti kita COD."


Ujar Scot.


Maria tepuk jidat.


"Pokoknya itu tidak ada yang jual, jadi sekarang itu pocong bagaimana nanti nasibnya coba? Bajunya dibasahi kalian, pas bayi ngompolin pocong, gede dikit kasih saos cabe di tubuh pocong, sekarang ngguyur pocong. Astaga kalian ini benar-benar rekor."


Maria terus mengomel,


"Kami tidak bisa tidur Aunty, karena di luar masih ramai terus. Tadi kami cuma mau cari Nenek, mau minta dibacain dongeng, tapi Nenek tidak tahu di mana, malah adanya pocong lagi ngendus brownies di atas meja."


Kata Gil.


"Ya kan dia itu memang niatnya cuma ingin makan, itu juga pasti karena saking laparnya sampai nekat masuk ke sini, padahal ia juga sudah tahu di sini ada kalian."


Ujar Maria.


Scot dan Gil tampak cekikikan, bukannya merasa bersalah, mereka tampak biasa saja


Ah memang sudah tidak tertolong mereka. Batin Maria.


Bersamaan dengan itu, Zizi tampak membuka kamar Scot dan Gil.


Kamar yang ditempati keduanya adalah kamar yang pernah menjadi perpustakaan saat Zion masih tinggal di Kemang.


Begitu Zizi yang menempati dan kemudian lahir kelima anaknya, seluruh isi perpustakaan dipindahkan ke rumah Bogor dan ruangan itu lantas dijadikan kamar untuk Scot dan Gil.


Sementara kamar Zion sekarang ditempati Zizi dan Shane.

__ADS_1


"Mama..."


Scot dan Gil tampak memasang wajah polos sambil tersenyum lebar.


Zizi sudah tahu keduanya pasti membuat masalah lagi jika sudah pasang wajah demikian, sementara Aunty Maria pasang wajah garang.


"Anakmu ngguyur pocong sampai basah kuyup. Sudah dilempar, diguyur, sekarang dia diamankan Bobi."


Tutur Maria.


Zizi menghela nafas,


"Kalian ini, harusnya kalian itu jangan begitu, tiru Mama lho ini,"


Marah Zizi.


Maria geleng-geleng kepala,


Ya wong anaknya suruh niru dia ya pantes saja. Batin Maria.


"Itu Scot sudah niru Mama."


Kata Scot membela diri.


Kata Zizi.


"Mama masuk majalah dan koran-koran di dunia hantu, semua hantu pada cerita."


Ujar Gil.


Eh buset! Jadi hantu itu, mereka bigos juga rupanya.


"Majalah apa? Mama tidak pernah merasa diwawancarai."


Kilah Zizi.


"Manusia paling menyeramkan tiga puluh tahun lebih katanya."


Ujar Scot.

__ADS_1


"Hah? Apaaaa?"


Mendengarnya Maria cekikikan, kok pas sekali, batin Maria.


"Sialan itu majalah hantu, berani-beraninya bilang aku mengerikan."


Gumam Zizi emosi.


"Kami dikasih lihat foto Mama sedang nendang muka pocong."


Kata Gil.


Waduh, kenapa ada foto begitu.


"Tidak usah kaget begitu, hahahaha..."


Maria benar-benar geli melihat ekspresi Zizi yang mendengar sosok dirinya ternyata selama tiga puluh tahun ditakuti hantu untuk berurusan dengannya.


"Ya sudah ya sudah... Berarti berhentilah mencontoh Mama, contoh saja Papa."


Kata Zizi akhirnya meralat nasehat.


"Kami boleh kayak Papa, Ma?"


Tanya keduanya.


"Ya, tentu saja."


Sahut Zizi percaya diri karena Shane jelas akan menjadi contoh yang baik.


Tapi...


"Berarti kami boleh cabik-cabik gendruwo,"


Keduanya lalu memperlihatkan kedua taring dan kuku-kuku tajam mereka.


Ah ya, Zizi lupa jika Scot dan Gil setengahnya ikut vampire.


Zizi pun rasanya langsung ingin berteriak,

__ADS_1


TIDAAAAAAAAAK...


**-------------**


__ADS_2