The Pandawa

The Pandawa
57. Siapa Dia


__ADS_3

Maria dan hantu perempuan hamil melayang sembari tetap waspada melihat ke sekitar khawatir jika ada pasukan siluman ular yang berkeliaran di sana.


Maria sungguh tidak mengerti, kenapa mereka seolah menyebar ke mana saja,


"Sebetulnya apa permisi mereka?"


Gumam Maria,


Namun gumaman itu rupanya didengar oleh hantu perempuan hamil,


Hantu itu menoleh ke arah Maria yang melayang di sampingnya,


"Mungkin maksudnya misi, Bu Londo, bukan permisi, kalo permisi mah Bu Londo lagi pamit pergi sama Tuan rumah."


Kata si hantu perempuan hamil,


"Bu Londo, bu Londo, aku masih gadis tau!"


Kesal jadinya Maria, masih semuda itu dipanggil Bu,


"Eh maap, habisnya rambutnya putih semua,"


Kata si hantu perempuan hamil,


Maria tepuk jidat,


Lah bagaimana, dia ini hantu dari jaman kapan sampai tidak tahu ada rambut warna pirang macam punya Maria, dasar dodol.


Si hantu perempuan hamil tampak melayang terus menyusuri jalanan kota yang seperti kota mati itu,


Jalanan yang sepi dan benar-benar seperti tak ada satupun mahluk yang pernah menghuni di sana.


"Apa ini semua buatan Rain? Bagaimana bisa ia memiliki ide membuat kota seperti kota zombie begini?"


Gumam Maria lagi,


Mendengar nama Rain disebut, si hantu perempuan hamil terlihat seperti kaget,

__ADS_1


"Ah yah benar,"


Kata si hantu perempuan hamil tiba-tiba,


"Apa? Ada apa?"


Tanya si hantu perempuan hamil,


"Rain, nama itu, aku ingat nama itu pernah disebut salah satu siluman ular."


Kata si hantu perempuan hamil,


Maria menatap si hantu,


"Lah memangnya kamu itu masuk kota ini kalau juga bukan karena Rain, kamu pikir dari mana?"


Kesal Maria,


"Aku?"


Si hantu perempuan hamil sejenak seperti berpikir karena ingin mengingat kenapa ia bisa masuk ke kota mati itu,


Si hantu perempuan hamil tak mampu mengingat apapun,


Semakin ia berusaha mengingat, semakin bingung ia harus mengingat apa, dan perutnya jadi mules,


"Apa mereka masuk ke sini mencari Rain? Apa mungkin mereka sudah mulai mengincar anak-anak Zizi?"


Maria bergumam-gumam sendiri, hingga kemudian tanpa terasa mereka yang sedari tadi melayang-layang seperti tas kresek motif lerek terkena angin, akhirnya sampai pula di ujung jalan,


Di depan mereka kini terlihat seperti tanah kosong yang di samping kanannya ada beberapa pohon yang tumbuh tinggi menjulang,


Sebuah sinar tampak berpendar menyilaukan mata, Maria menatap sinar itu,


"Apa itu jalan keluarnya?"


Si hantu perempuan hamil memperlihatkan wajah lega,

__ADS_1


Maria menoleh ke arah hantu perempuan hamil,


"Kau mau mencoba? Lompatlah ke sinar itu, mungkin benar itu jalan keluarnya,"


Kata Maria,


Namun si hantu perempuan hamil begitu dipersilahkan malah ragu,


"Tapi bagaimana kalau ternyata bukan?"


Tanyanya pada Maria,


Si None Belanda pun jadi tertawa,


"Kalau ternyata bukan jalan keluar ya derita lo,"


Kata Maria membuat si hantu perempuan hamil garuk-garuk kepala,


Maria baru akan memeriksa daerah sekitar sana, ketika sesosok hantu tua renta yang melayang sangat pelan menghampiri mereka,


"Nona,"


Si hantu tua renta memanggil,


Maria seketika menoleh,


Secara yang pantas dipanggil Nona tentu saja adalah dirinya, karena si hantu perempuan hamil terlalu tua jika harus dipanggil Nona,


"Nona, apa kau kenal Tuan Rain?"


Tanya si hantu tua renta,


Maria menatap curiga, tampak ia waspada untuk tidak langsung menjawab pertanyaan itu.


Maria menatap hantu tua renta dari ujung kaki si hantu yang kuku jari kakinya sepanjang dua meter lebih hingga melengkung-lengkung ke mana-mana,


Sampai pula ke ujung kepala di mana Maria kemudian sedikit terkesiap, ketika ia melihat di kain hantu tua renta itu seperti gambar Naga,

__ADS_1


Siapa dia? Batin Maria.


**-------------**


__ADS_2