The Pandawa

The Pandawa
32. Perjanjian


__ADS_3

Pletak!


Zizi menjitak kepala Bobi dengan keras saking kesalnya.


"Hihihi..."


Bobi nyengir, karena setelah menjitak, bukannya Bobi yang kepalanya sakit, malah tangan Zizi yang rasanya mau patah.


Bobi selain pemberani, dia juga memang memiliki kelebihan lain, yaitu seluruh bagian tubuhnya sangat keras seperti baja.


Sejak kecil, ia satu-satunya anak Zizi yang tidak pernah bisa terluka, ia bahkan selalu diingatkan untuk tidak menabok benda sembarangan, karena pernah Bobi tak sengaja menabok kap mobil gurunya di sekolah, lalu kap itu langsung ringsek.


Ya, Bobi memang menyerap banyak sekali kekuatan, entah dari mana saja asalnya, mungkin dari Shane dan Zizi serta nenek Bandapati, atau justeru dari Jayapada langsung.


"Makanya, anak baru ditemukan, bukannya dipeluk disayang-sayang, malah dijitak."


Zia akhirnya memarahi Zizi, lupa dia jika dulu saat Zizi nakal juga Zia kadang suka ingin jitak Zizi.


Bedanya, Zia masih bisa kontrol hingga tak sampai benar-benar melakukannya, ujungnya ia darah tinggi dan migren berkesinambungan.


Sementara Zizi, tentu saja si petakilan itu tidak terbiasa sabar, alih-alih daripada kepalanya yang sakit, lebih baik apapun yang ia inginkan ya lakukan saja.


Meskipun akhirnya sekarang tangannya sendiri yang sakit akibat menjitak kepala Bobi.


"Kamu tidak apa-apa Bobi?"


Tanya Zia pada sang cucu yang akhirnya memilih menghampiri Neneknya saja.


"Tidak apa-apa Nek, tadi hanya panik karena rumah jelek ini tak ada pintunya."


Kata Bobi.


"Heh! Rumah jelek rumah jelek, ini masih angsuran tujuh ratus tahun lagi, jangan asal menghina."

__ADS_1


Si Nenek jelmaan buaya putih jelas saja tidak terima,


"Uhuk uhuk uhuk... Aduh dadaku sesak alamku kemasukan manusia-manusia aneh."


Si Nenek mengusap-usap dadanya yang tiba-tiba sesak.


"Kenapa Papa tidak ikut?"


Tanya Bobi celingak-celinguk tak melihat sosok Papanya.


"Ah ya benar, ke mana Shane? Apa kalian terpisah?"


Tanya Zia pada Zizi, Ali dan Maria.


"Mereka tertinggal di kampung hantu, di rumah reyot pertama."


Ujar Zizi.


"Kampung hantu?"


"Ya,"


Sahut Zizi.


"Nek, kau tidak ingin mempersilahkan kami masuk pondok cicilanmu?"


Maria nimbrung, membuat si Nenek tersadar ia membiarkan para tamu manusianya berdiri saja di halaman.


"Ah ya masuklah, anakku sepertinya belum pulang, mungkin ia sedang mencari makanan."


Kata si Nenek buaya putih sambil mengajak semuanya masuk ke dalam pondok,


Zia yang merangkul Bobi lebih dulu masuk mendahului Zizi dan Ali, sementara setelah anak dan keponakannya itu juga ikut masuk, barulah Maria, si hantu None Belanda juga ikut masuk.

__ADS_1


Gaunnya yang berenda-renda terlihat dipandangi terus oleh si Nenek buaya putih.


"Jadi hantu kok tidak praktis."


Julid si Nenek.


"Apanya?"


Tanya Maria.


"Itu, kamu, pakai gaun macam mau menikah saja, mana kelayaban sampai hutan."


Ujar si Nenek,


"Ya sudah style nya begitu Nek, kamu juga jadi buaya pakai kuncir."


Kesal Zizi membela Maria,


Tampak Maria senang dibela Zizi.


"Ini ulah anak-anakmu bodoh!"


Nenek jadi mulai membetulkan rambutnya, ah tampaknya dia harus smooting.


"Baiklah... Baiklah... Mumpung kita ada di sini, berikan informasi pada kami soal semua anggota Paman Jaka Lengleng sekarang yang kau tahu Nek, apapun itu, agar kami tahu, seberapa kuat mereka saat ini, dan kapan kemungkinan mereka akan muncul lagi mengganggu kami."


Zia terlihat memasang wajah serius.


Nenek buaya terkekeh,


"Ya tentu saja, aku akan berikan informasi itu, asal nanti siluman-siluman setengah kera itu bisa jadi milik kami."


Kata si Nenek buaya.

__ADS_1


**---------**


__ADS_2