
"Ah, di mana aku?"
Bobi terbangun dari ketidak sadarannya yang lumayan lama. Tampak iapun bangun dari pembaringan, lalu celingak-celinguk mengamati keadaan rumah di mana kini berada.
Rumah papan dan bilik yang sempit, tampak pencahayaan dari sebuah lampu teplok yang mengeluarkan asap berwarna hitam.
Bobi lantas menyusuri dalam rumah tersebut, ia mencari pintu untuk keluar, tapi anehnya tak ada satupun pintu di sana.
Bobi mengerutkan kening, ia tentu saja bingung karena merasa sangat aneh ada rumah tanpa pintu.
Bobi lantas kembali mengingat-ingat, apa yang terjadi sebelum akhirnya ia terbangun saat ini dan berada di dalam rumah bilik aneh.
Lalu...
Ah' Nenek tua dan seorang perempuan. Bobi akhirnya mengingatnya.
Ya, Bobi ingat betul, saat ia diserang banyak kepala seperti bola api, ia lantas diselamatkan oleh seorang perempuan, ia lantas bertemu nenek tua juga, namun entah terjadi apa lagi yang akhirnya membuatnya jatuh pingsan.
Bobi lantas kembali mencari pintu yang ada di rumah itu lagi, ia jelas merasa harus keluar.
Tapi, karena ia merasa tetap tak bisa menemukan pintu apapun di sana, maka jadilah Bobi memutuskan merusak rumah itu saja.
Bobi lantas dengan kekuatannya berusaha merobohkan rumah yang kini ia berada di dalamnya.
Jika rumah itu rumah manusia biasa, tentu akan sangat mudah bagi Bobi untuk merobohkannya dalam sekejap, tapi sayangnya ini jelas bukan rumah manusia, sudah pasti ini bukanlah rumah manusia.
Bobi menendang-nendang bilik rumah itu dengan kekuatan penuh yang ia miliki, sampai kemudian gerakan aneh dari bilik yang ditendangi Bobi itupun terlihat oleh Ali.
__ADS_1
"Bilik itu, sepertinya ada sesuatu di dalamnya."
Kata Ali, membuat Maria dan Zizi yang sedang membicarakan soal kemungkinan Shane dan Marthinus juga nantinya bisa menyusul.
Zizi dan Maria yang kemudian melihat Ali bergerak cepat menuju pondok yang terbuat dari papan kayu dan bilik itupun langsung menyusul.
"Tetap waspada Aunty."
Kata Zizi mengingatkan saat mereka bergerak bersama.
Zizi berlari dan Maria tentu saja melayang.
"Tidak usah khawatir Zi, aku bahkan sampai di sini lebih dulu, apalagi ini juga berada di sekitar hotel wisata, kau tahu bukan? Aku bagaimanapun juga salah satu penunggu yang cukup senior."
kata Maria.
"Siluman-siluman ular itu sudah tidak ada satupun di sini, aku jelas tak merasakan keberadaan mereka."
Kata Maria.
"Anak-anak buah Paman Jaka Lengleng, ke mana mereka? Apa mungkin mereka telah berpindah tempat dan sungguh-sungguh sedang menyusun balas dendam?"
Gumam Zizi.
"Ah kalau soal itu sudah jelas, yang belum jelas itu, di mana tempatnya Zi."
Kata Maria.
__ADS_1
Dan di saat mereka tengah menuju ke pondok yang mencurigakan itu, tiba-tiba dua bayangan berkelebat menyalip mereka,
"Hey! Berani-beraninya menyalip."
Kata Zizi emosi.
Dua bayangan itu lantas mengerem,
Ciiiiit...
Dan seketika tampaklah seonggok Nenek tua dan...
"Hah, Mama?"
Zizi melongo melihat Mamanya kini berdiri di depannya.
"Ah si bau gosong dan asam, ini rupanya sumbernya."
Kata si Nenek tua.
"Apa?!"
Zizi menghela nafas, tersinggung berat dia.
Kalau saja tak ada Mamanya, dia pasti sudah membuat perhitungan dengan si nenek tua.
**--------------**
__ADS_1