
Bobi melesat cepat mengikuti pergerakan kakek tua yang melarikan diri dalam kondisi terluka.
Pada satu ujung jalan di hutan, kakek tua itu melompat masuk ke satu pohon besar yang terlihat ada bagian yang berobang.
Bobi mengikuti si kakek tua melompat masuk, dan...
Bobi tampak berguling di tanah di mana di sana ada satu danau yang airnya terlihat begitu jernih dan tenang.
Bobi celingak-celinguk,
Di mana ini? Batinnya.
Ia menoleh ke belakang, tapi tak ada pohon yang tadi ia melompat mengikuti sang kakek tua aneh.
Bobi kembali memandang ke sekitar, di mana kemudian ia tak mendapati siapapun di sana.
Di mana kakek tua itu? Batin Bobi lagi.
Bobi lantas berjalan serampangan, menyusuri tepi danau yang di mana sebelah-sebelahnya adalah hutan yang cukup lebat.
Langkah kaki Bobi di atas tanah tepian danau tampak meninggalkan bekas jejak langkah sepatu yang Bobi kenakan.
Hingga akhirnya Bobi melihat sesuatu yang bergerak di jalanan sempit menuju masuk hutan.
Bobi yang pada dasarnya benar-benar penasaran dengan sosok kakek tua aneh itu akhirnya cepat berlari ke arah jalanan kecil itu,
Tak ingat dirinya yang masih belum genap lima belas tahun, Bobi terus masuk ke dalam hutan yang sejatinya ia sendiri tidak tahu ia entah berada di mana.
__ADS_1
"Hey kakek tua, keluar kau! Di mana kau sembunyi!"
Teriak Bobi.
Suaranya menggema di sepenjuru hutan belantara tersebut.
Hutan yang semakin ke dalam semakin gelap dan sunyi.
Pohon-pohon besar yang rindang, semak belukar yang tumbuh di mana-mana, belum lagi akar-akar pohon tua yang terlihat menutupi sebagian jalan, membuat suasana di dalam hutan tersebut begitu mencekam.
Bobi kembali celingak-celinguk, kanan kirinya, depan belakang nya semua terlihat gelap.
Hanya terdengar bisikan angin saja dan juga binatang-binatang dalam hutan yang khas.
Bobi mengerutkan kening,
Ia mulai berandai-andai jika sebenarnya ia kini ada di mana.
Ana Kidung Rumekso Inge Wengi, Teguh Hayu Luputa Ing Lara, Luputa Bilahi Kabeh
Jin, Setan Datan Purun, Paneluhan Lan Ana Wani, Niwah Panggawe Ala, Gunaning Wong Luput, Geni Atemahin Tirta, Maling Adoh Lan Ana Ngerah Ing Mami, Guna Duduk Pan Sirno, Sakehing Lara Pan Samya Bali, Apen Sarira Ayu Ingideran Kang Widadari
Sakeh Agama Pan Sami Miroda Welas Asih Pandulune, Sakehing Braja Luput Kadi Kapuk Tibaning Wesi, Sakehing Wisa Tawa
Sato Galak Tutut, Kayu Aeng Lemah Sangar
Sanging Landhak, Guwaning Wong, Lemah Miring, Myang Pakopaning Merak, Nadyan Arca Myang Segara Asat, Temahan Rahayu Kabeh.
__ADS_1
Terdengar suara perempuan tiba-tiba menyenandungkan sebuah kidung dengan nada mendayu-dayu.
Suaranya merdu seolah tertiup angin yang berhembus dari arah kiri Bobi berdiri.
Bobi sejenak mencoba mendengarkan suara perempuan yang merdu itu, mencoba menghayati setiap kata dalam kidung yang perempuan itu lantunkan.
Dan ketika Bobi masih terhanyut mendengarkan suara perempuan yang tengah melantunkan kidung Jawa dari Sunan Kalijaga tersebut, Bobi kemudian merasakan ada sesuatu bergerak sangat cepat menuju dirinya dari belakang.
Bobi dengan cepat melompat ke pinggir untuk menghindar, dan nyata sesuatu yang bergerak cepat dari belakang Bobi itu melewati Bobi dan menabrak pohon yang ada di depan sana.
Sesuatu yang tak lain adalah bola api sebesar kepala manusia itu lantas membakar pohon yang terkena bola api itu.
Bobi menatap ngeri pohon yang kini dilahap api, dan dari api itu muncul seperti wajah laki-laki yang akan menyambar Bobi,
Bobi mundur ke belakang, dan...
"Awaas!"
Sebuah tangan menyambar tubuh Bobi untuk menghindar dan membawa Bobi melayang ke atas.
Di bawah sana bola-bola api berbentuk kepala tampak berseliweran dengan suara-suara seperti teriakan...
"Kenapa kau sampai ke sini?"
Bobi yang semula terlalu sibuk memperhatikan bola-bola api yang ada di bawah sana tersadar jika ia dibawa melayang sosok asing yang...
"Kau... Siapa?"
__ADS_1
Tanya Bobi pada sosok yang kini membuat Bobi melayang di atas hutan, dan lantas membawa Bobi melesat cepat meninggalkan hutan tersebut menuju satu tempat,
**--------------**