The Pandawa

The Pandawa
24. Hanya Anak-anak


__ADS_3

"Aduuh Scoot... Giiiil... Sudah saatnya tidur... Ayook nanti sakit kalau tidur kemalaman."


Tampak Mbak Lesti pengganti Mbak Ning yang kini menjadi asisten rumah tangga di rumah Zia dan Zion mencoba membujuk Scot dan Gil yang masih lari-lari di dalam rumah.


Aron yang duduk di depan TV tampak tak ambil pusing dan lebih memilih menikmati berbungkus-bungkus makanan ringan sambil nonton film.


"Ayok tidur, nanti dimarahi Mama lho kalau Mama pulang."


Kata Lesti lagi, rasanya ia sudah benar-benar mulai lelah mengurus dua anak itu.


Ah benar-benar Lesti harus bersyukur karena Zizi sekeluarga tinggal di Kemang hingga ia tak perlu mengurus bocil-bocil itu setiap hari.


Jelas saja jika Lesti harus mengurus mereka setiap hari, pasti Lesti sudah mati berdiri, atau bahkan mati kelelahan.


"Bibi Lesti saja yang tidur, kami tidak mengantuk,"


Jawab Scot,


Lesti menghela nafas,


"Mana bisa Bibi Lesti tidur sementara kalian masih main, nanti Bibi Lesti yang kena marah Kakek."


Kata Lesti.


"Nanti Aron yang belain Bi, tenang saja, udah Bibi Lesti tidur saja."


Aron nimbrung karena mereka kini berisik dekat ruang TV.


"Tapi Tuan muda..."


Lesti tampak tahu,


"Ada tante Zanuba yang jagain, tenang saja."


Kata Aron.


Lesti tampak celingak-celinguk, meskipun ia tahu jika ia tak akan bisa melihat sosok Zanuba.


Ah yah, Zanuba.


Nyonya Zia sering bercerita jika pohon Mangga di depan rumah sampai kapanpun tak akan pernah Zia tebang karena di sana ada satu keluarga jin baik yang membantunya menjaga rumah dari banyak hantu ataupun mahluk sejenis yang bermaksud jahat.


Salah satu anak dari keluarga jin itu berteman baik dengan Zizi sejak kecil dan bernama Zanuba.


"Tidak usah takut jika aku dan Tuan Zion pergi agak lama dari rumah, selain ada banyak pengawal yang menjaga rumah, keluarga Zanuba juga sudah memastikan bahwa tak akan ada hantu jahat mengganggu di rumah ini."


Begitulah Zia selalu berkata pada Lesti.

__ADS_1


"Scot dan Gil akan main sampai pagi kalau belum mengantuk Bi, percayalah, lebih baik Bibi Lesti istirahat."


Ujar Aron.


Lesti memandangi Scot dan Gil yang sepertinya baterainya masih saja full, dan kedua mata mereka masih belum juga menunjukkan tanda-tanda mengantuk dan akan segera tidur.


Ah apa sebaiknya benar ia mengikuti sara Tuan Muda Aron?


Tapi...


Bagaimana jika nanti Tuan Zion bangun lalu tak mendapati Lesti menjaga Scot dan Gil, apa tidak marah-marah nanti Tuan Zion?


Apalagi Tuan Zion hanya titip sebentar karena ia ingin istirahat sebentar.


Lesti galau bukan main, dipandanginya jam sudah mendekati jam setengah sepuluh malam.


Dalam kebimbangan nyata, tampak kemudian Rain membawa satu buku tebal turun dari lantai dua menuju lantai satu di mana semua ada di sana.


"Ron, di depan berisik sekali, bagaimana bisa kamu sesantai itu."


Kata Rain dengan wajah kesal.


Aron yang tengah asik makan keripik kentang menoleh ke arah sang kakak pertama yang kini berjalan ke arahnya dan kemudian menyambar bungkus keripik kentang di tangan Aron.


"Berisik apa? Aku sedang nonton film, tidak dengar apapun aku."


Kata Aron.


Rain duduk di sofa besar depan TV rumah kakek neneknya,


"Oh,"


Aron hanya meng oh kan, membuat Rain kesal dan terpaksa melemparnya dengan bantal sandaran di sofa itu.


"Aku tak bisa fokus baca, pergi tidurpun tak bisa karena berisik."


Kesal Rain pula.


"Yang penting kan tidak semua manusia bisa dengar berisiknya mereka Kak, pengawal kita saja di depan tidak ada yang merasa."


Ujar Aron santai yang kemudian mengambil satu bungkus keripik lagi.


Rain tampak menghela nafas,


Ah sebetulnya ia sudah tahu jika Aron akan menjawab seperti itu karena memang ini bukan kali pertama, tapi hampir selalu setiap kali berkunjung di manapun.


Bahkan di rumah Kemang saja, hantu perempuan di sekitar perumahan masih saja ada yang sengaja selalu datang ke rumah memanggil-manggil nama Aron.

__ADS_1


Hanya saja, mereka yang sudah tahu jika di dalam rumah Aron di kelilingi saudara yang suka membulli hantu, maka mereka tak berusaha masuk.


Rain lantas berganti memandang Scot dan Gil yang tengah sibuk bermain dengan Tante Zanuba, sementara Bibi Lesti terlihat berulangkali menguap.


"Bibi Lesti ngantuk mah tidur saja Bi."


Kata Rain pada Bibi Lesti,


"Iya Tuan muda."


Lesti tampak tersenyum sambil mengangguk, namun meski begitu ia tetap saja duduk mengawasi Scot dan Gil main.


"Aku sudah bilang dari tadi, percuma nunggu Scot dan Gil ngantuk, yang ada Bibi Lesti yang capek sendiri."


Ujar Aron,


Rain memandangi Scot dan Gil bermain.


Zanuba yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja akhirnya mengalah melayang ke arah Lesti yang terlihat duduk sambil mengantuk.


Zanuba menggelengkan kepalanya melihat Lesti yang begitu susah payah menahan kantuk meskipun tetap saja ia bolak-balik menguap dan kedua matanya pun terus mengeluarkan air mata saking mengantuk nya.


Zanuba yang tak tahan melihat Lesti demikian akhirnya menepuk bahu Lesti, yang dalam sekejap Lesti sudah berpindah ke dalam kamar.


Mendapati dirinya tiba-tiba saja sudah ada di kamarnya sendiri, tentu saja Lesti langsung melompat karena kaget sekaligus takut.


Lesti kemudian bersiap lari untuk keluar kamar sambil ingin berteriak,


Namun Zanuba cepat mengunci pintu kamar lalu berkata pada Lesti.


"Hey! Kamu itu sudah ngantuk! Tidak usah memaksakan diri! Disuruh tidur oleh para tuan muda ya tinggal tidur."


Marah Zanuba.


Lesti yang kali ini bisa mendengar suara Zanuba tanpa rupa jelas saja makin panik, ia lari ke arah pintu, ingin melarikan diri.


Namun...


Begitu matanya tak sengaja melihat ke arah cermin lemari pakaiannya, Lesti tiba-tiba saja melihat sosok anak kecil dengan rambut dikuncir dua.


Anak kecil itu memakai gaun berenda,


"Hah? Aaaa..."


Lesti pun pingsan.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2