The Pandawa

The Pandawa
62. Mencari Sebab


__ADS_3

Zizi dan Shane yang akhirnya datang ke rumah orangtuanya di Bogor langsung meminta Maria menjelaskan kenapa dia akhirnya malah muncul di sana, sedangkan awal ia masuk adalah dari lukisan Rain di dalam kamar,


Maria pun menjelaskan dari A sampai Z sebagaimana yang telah lebih dulu ia terangkan pada Zia, Mamanya Zizi,


"Jadi cermin di kamar mandi kamar ku adalah pintu keluarnya?"


Tanya Zizi memastikan,


Maria baru akan mengangguk, manakala hantu perempuan yang hamil lebih dulu menyela,


"Aku rasa pintu itu tidak terbuka begitu saja,"


Kata si hantu perempuan hamil yang kini melayang dari atas rak buku, namun saat melayang melewati Gil yang sedang duduk, gaun si hantu malah ujungnya ditarik sampai si hantu pun jatuh kejedot,


"Giiiil..."


Walhasil Gil pun langsung kena omel Neneknya, Mamanya, Aunty nya sampai Papa dan Kakak-kakaknya,


Gil tampak nyengir seolah tanpa dosa, membuat semua yang ada di sana pun hanya bisa menghela nafas,


Hanya hantu perempuan hamil saja yang tampak mengelus dadanya karena merasa begitu sakit hati diperlakukan tidak hantuniawi oleh si bocah cuplun,


"Sabar Mbak Hantu, memang dua anak ini tangannya suka asal nyawel,"


Kata Zia tidak enak pada si hantu perempuan yang kini terlihat berusaha tersenyum meskipun sakiiiit mak sakiiit,


"Jadi bagaimana Mbak hamidun, menurutmu kenapa cermin itu bisa menjadi pintu kalian masuk ke sini?"


Tanya Zizi,


Si hantu perempuan hamil melayang menghampiri Zizi,

__ADS_1


"Rain,"


Kata si hantu kemudian yang lantas menunjuk anak Zizi,


Tapi, karena sejatinya ia tak tahu pastinya nama-nama anak Zizi, maka si hantu pun menyebut nama Rain tapi malah menunjuk Bobi,


Zizi menarik tangan si hantu dan mengalihkan telunjuk si hantu ke arah Rain supaya benar,


"Oh, itu ya yang namanya Rain?"


Si hantu cekikikan,


"Ah ya bener, Rain, saat akan keluar, Nenek itu mengatakan kita tinggal ucapkan Rain, dan jadilah kami tiba-tiba di sini,"


Kata Maria,


Semua pun menatap Rain,


"Tapi..."


Aron tiba-tiba bersuara,


"Rain, ya hantu itu juga membicarakan hal yang sama, aku rasa ini karena memang berhubungan dengan lukisan buatan Kak Rain,"


Ujar Aron yang lupa jika ia sebetulnya belum jujur soal hantu Tania pada Mamanya,


Zizi yang kalau urusan hantu langsung tanggap pun jelas saja seketika mencecar Aron,


"Hantu itu, di mana hantu yang kamu maksud?"


Tanya Zizi langsung,

__ADS_1


Aron tampak gelagapan, semua geleng-geleng kepala,


"Bawa ke hadapan Mama, cepat!"


Kata Zizi macam panglima perang,


Aron menatap Papanya yang hanya tersenyum sambil mengangguk kecil seakan pertanda ia juga mengiyakan perintah Zizi agar diikuti sang anak,


Aron akhirnya berdiri dari duduknya,


Scot dan Gil ikut berdiri,


"Apa hantu itu lucu? Ayo main,"


Kata Scot dan Gil semangat,


Aron pun langsung menabok kedua adiknya,


"Dia hantu gadis, bukan buat mainan."


Omel Aron, yang sontak langsung mendapat tanggapan dari semua yang ada di sana,


"Ooo gadis, pantesaaan..."


Dan tentu saja, Aron pun malah jadi semakin salah tingkah,


"Aduh, bukan begitu maksudnya, ini maksudnya hantu gadis jadi jangan buat mainan,"


Aron berusaha menjelaskan meskipun tetap saja membuat semua cengar-cengir.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2