
Gerimis turun rintik-rintik setelah seluruh prosesi pemakaman selesai. Banyak kolega yang sengaja datang pun berpamitan kepada Zion dan Ziyan yang kini jelas telah resmi menjadi pewaris tahta kerajaan Alpha Centauri Group.
Tuan Yandik, yang merupakan ketua kuasa hukum perusahaan tampak menghampiri Zion dan membisikkan sesuatu.
Zion pun mengangguk mengerti, setelah itu, tampak kemudian Tuan Yandik berserta isteri dan anak-anaknya menyalami Zion, Ziyan dan juga yang lain.
Satu persatu semua akhirnya telah meninggalkan makam Tuan Ardi Subrata.
Meninggalkan orang yang selama hidupnya telah begitu banyak berbuat baik untuk sesama, sukses membangun perusahaan yan g manusiawi di tengah banyaknya pengusaha yang lebih mementingkan keuntungan pribadi.
Ardi Subrata wafat di usianya yang hampir delapan puluh tujuh tahun, meninggalkan dua cucu, dua cucu menantu, tiga cicit, satu cicit menantu dan lima generasi termuda yang semuanya adalah anak-anak Zizi.
"Rain, kelak, kau harus menemani Ayahmu dan Kakekmu mengurus perusahaan, begitupun dengan Aron dan Bobi, semua harus bersinergi, agar perusahaan tetap berada di posisi terbaiknya demi banyak orang yang bekerja di sana, yang menggantungkan nasibnya di sana, termasuk juga yayasan sosial kita, di mana ada panti-panti yatim yang harus kita biayai, panti-panti jompo yang harus kita urus dan pula berbagi dengan banyak kaum duafa setiap bulan."
Begitulah pesan Tuan Ardi Subrata terakhir kali sebelum akhirnya jatuh sakit dan sempat terbaring koma selama tiga hari hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Zion dan Ziyan berjalan beriringan sembari berbincang tentang rencana ke depan setelah semua berlalu.
Sedangkan Zia tentu saja berjalan bersama Aisyah dan Eva.
Ali memilih berbincang dengan Shane tentang perkembangan perusahaan di Indonesia dan Inggris yang selama ini memang Ali belum sempat ikut terjun membantu mengurus.
Sementara itu Zizi disibukkan mengurus dua anaknya yang di atas normal, yang terus-terusan ingin lari ke arah kampung hantu yang menurut mereka sangat menarik.
Rumah-rumah sederhana yang tentu saja tak setiap hari mereka bisa lihat membuat Scot dan Gil begitu tertarik ingin bermain-main ke sana.
"Mama, ayo kita main ke kampung."
Gil menarik ujung baju Zizi,
"Haiish, tidak boleh, nanti dimarahi Papa."
Kata Zizi.
Maria yang melayang di belakang Zizi dan kedua anaknya tampak geleng-geleng kepala,
Tidak bisa dibayangkan kedua anak itu masuk perkampungan hantu, bisa-bisa kampungnya porak poranda.
__ADS_1
Maria tampak menoleh ke arah perkampungan hantu yang kini semakin jauh di belakang mereka, saat dilihatnya beberapa gadis hantu yang terlihat melayang-layang berpindah dari satu pohon ke pohon lain.
Gadis-gadis hantu itu seolah mengikuti rombongan secara diam-diam karena mereka tertarik pada salah satu anggota rombongan.
Ya...
Aron, yang kini berjalan tak jauh dari Nenek Zia seraya sibuk dengan hp nya.
Maria tampak baru akan melayang ke arah para hantu-hantu gadis yang terlihat cekikikan sambil memandangi Aron, saat tiba-tiba...
Pletak!
Pletak!!
Tiba-tiba terlihat beberapa batu dilempar ke arah para hantu-hantu gadis yang memandangi Aron.
Dan...
"Ampuuun... Ampuuun..."
Para hantu gadis itu pun melayang berlomba secepat kilat melarikan diri dan kembali ke kampung mereka tinggal.
"Bobiiii..."
Zizi geleng-geleng kepala ke arah anaknya yang nomor dua itu,
"Hantu-hantu gadis ganjen, kalau tidak di lempari batu mereka akan terus mengikuti Aron."
Ujar Bobi,
Aron yang tak merasa diikuti tampak menghentikan langkahnya,
Zia di samping Aisyah terlihat menghela nafas,
"Bobi masih anarkis pada hantu kah Zia?"
Tanya Aisyah.
__ADS_1
Zia mengangguk pasrah.
"Kak Aisyah paham kan bagaimana Zizi dulu? Masih ingat kan kelakuan dia dulu? Ya itu kelakuannya di bagi rata ke semua anak-anaknya,"
Kata Zia.
"Tapi Rain dan Aron sepertinya mereka tidak Zia,"
Ujar Aisyah,
"Ya tidak, tapi mereka juga terlalu baik pada hantu."
Kata Zia.
Aisyah tersenyum,
"Berarti seperti Neneknya, baik pada hantu."
Mendengar Aisyah berkata demikian, Zia pun jadi tergelak kecil,
"Baik pada hantu apanya Kak."
"Kalau tidak karena kamu baik pada hantu, bukankah mungkin Zion tidak akan berakhir dengan hidup bahagia bersamamu Zia?"
Aisyah tersenyum, membuat Zia jadi tergelak lagi, karena mengingat semua masa lalunya bersama Zion sang suami.
Ya...
Waktu rasanya berlalu begitu cepat, karena rasanya baru saja kemarin mereka bertemu, kini tiba-tiba mereka sudah memiliki cucu dan Tuan Ardi Subrata pun sudah mangkat.
"Aron, berhentilah tebar pesona, aku sangat terganggu dengan banyak hantu gadis di sekitar mu."
Kesal Bobi kemudian, membuat Aron hanya tersenyum lalu sibuk dengan hp nya lagi.
Rain yang berjalan juga tak jauh dari posisi Aron yang melanjutkan jalannya tampak hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bobi yang selalu saja kasar pada para hantu sejak dulu.
Sudah kebiasaan memang adik keduanya itu tak memiliki belas kasih sama sekali pada hantu.
__ADS_1
**--------------**