
Cring...
Cring...
Suara itu kembali terdengar, bersamaan dengan itu, terlihat seperti angin hitam seperti badai yang dahsyat,
Zia mencoba berpegang apa saja yang bisa ia gapai agar tak sampai terbang, tapi...
Sial, Zia akhirnya terbawa angin yang bergulung-gulung,
Suara gemuruh dan guntur seolah akan merobohkan langit, Zia berteriak sekuat tenaga,
Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa sangat sakit tergulung,
Hingga...
Bluk!
Zia terhempas ke bawah,
"Zia... Zia... Kau tidak apa-apa?"
Terdengar suara Zion, suaminya,
Zia mencoba membuka matanya pelahan, mengerjap-ngerjap, lalu menatap seseorang yang kini wajahnya begitu dekat dengannya,
"Apa? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Tanya Zion panik,
Zia celingak-celinguk, ia kini berada di atas karpet tebal, dan di atasnya plafon kamar berukir serta lampu berpendar terang,
Zia kembali menatap Zion,
"Mimpikah aku?"
Tanya Zia,
Zion menghela nafas,
"Kamu semalaman mengigau tak jelas, sejak aku pulang dari tempat Tuan Yandik bersama Marthinus, aku tak bisa tidur karena menjagamu,"
Ujar Zion,
__ADS_1
Zia yang mendengarnya pun lantas berusaha bangun,
Zion membantunya.
"Aku ambilkan minum, naiklah ke tempat tidur lagi,"
Ujar Zion yang kemudian menuntut Zia ke arah tempat tidur.
Zia naik ke atas tempat tidur, lantas Zion tampak mengambilkan air minum.
Zia menatap dinding di mana di sana ada jam dinding yang memperlihatkan pukul tiga dini hari lebih, atau malah susah mendekati pukul setengah empat pagi.
Zia mengusap wajahnya,
Mimpi apa tadi?
Zia mengerutkan kening, mencoba memikirkan mimpinya kembali,
Hutan asing yang belum pernah ia datangi sebelumnya, suara gamelan, suara perempuan menyanyikan kidung, dan...
Zia sejenak tercekat, ketika ia mengingat sosok seorang perempuan yang duduk di atas tandu emas dengan ukiran dua Naga.
Siapa dia?
Batin Zia.
Zia bertanya-tanya,
"Ini, minumlah,"
Kata Zion pada Zia saat tiba-tiba saja tanpa Zia sadari suaminya telah berada di dekatnya dan mengulurkan segelas air putih hangat,
"Ah terimakasih,"
Kata Zia menerima gelas berisi air putih itu,
Zia kemudian meminum air putih yang dibawakan Zion, tampak Zion kemudian duduk di sisi ranjang dengan posisi menghadap Zia,
Ditatapnya isterinya yang kini tengah menghabiskan air putih hangat,
Setelah kemudian Zia selesai meminum sampai habis, Zion kemudian mengambil gelas yang kosong dari tangan Zia untuk meletakkannya di atas meja,
"Aku mimpi seorang perempuan, dia duduk di atas tandu dari emas dengan ukiran dua Naga, dia sempat menceritakan soal Nenek Bandapati, dan juga..."
__ADS_1
Zia sejenak terdiam,
"Ada apa sayang?"
Zia teringat kelima permata yang di berikan perempuan itu,
Zia lantas berusaha mencarinya,
"Di mana mereka? Di mana tadi?"
Zion yang melihatnya jadi bingung,
"Apa Zia? Ada apa?"
Tanya Zion,
Zia turun dari tempat tidur, ia berdiri dan mencoba menemukan kelima permata yang diberikan sosok perempuan di dalam mimpinya,
Dan...
Zia kepalanya terasa pusing dan berat, puzzle ingatannya seolah membuatnya kembali merasakan apa yang baru ia alami di dalam mimpinya yang terasa nyata,
Sampai akhirnya Zia tampak menghela nafas,
Zia menatap Zion yang terlihat sangat bingung,
Zion menghampiri Zia dan meraihnya untuk kembali duduk,
"Mereka pasti sudah memilih anak-anak Zizi,"
Ujar Zia.
"Memilih apa?"
Tanya Zion,
"Mereka, bukan hanya menjadi penjaga Jayapada, tapi mereka adalah lima pemuda titisan pemburu Naga, menghadapi keturunan Paman Jaka Lengleng, sepertinya akan melibatkan seekor Naga,"
Kata Zia dengan tatapan takut ke arah Zion,
"Naga? Seperti Nenek Bandapati?"
Tanya Zion,
__ADS_1
Zia mengangguk.
**----------------**