The Pandawa

The Pandawa
44. Saksi Kunci


__ADS_3

"Suara teriakan itu terdengar seperti dekat, tapi dicari pengawal sepenjuru rumah tidak ada, bahkan menghubungi penjaga komplek pun mereka tak dengar."


Kata Bibi Aisyah,


Zizi menghela nafas,


"Apa mungkin dari kamar Rain?"


Gumam Zizi lirih,


Tak lama Shane turun dari lantai atas bersama Ali yang memeriksa kembali sekitar lantai dua dan tiga,


"Apa ada yang aneh?"


Tanya Zizi,


Bibik Aisyah dan Eva yang duduk bersebelahan ikut menatap Shane dan Ali dengan serius, menunggu jawaban mereka atas pertanyaan Zizi,


Ali duduk di salah satu sofa yang ada di sana, sementara Shane duduk di sebelah Zizi,


"Kamar Rain, betul bukan?"


Tanya Zizi menerka,


Shane tersenyum, lalu mengangguk,


Zizi menghela nafas,


"Dia bawa hantu kecil kemarin, dia masukkan ke mana hantu itu?"


Tanya Zizi,


"Sepertinya ia belum selesai membuatkan rumah untuk si hantu, maka ia jadikan satu hantu itu dengan hantu lain di lukisan rumah susun."


Kata Shane,


"Hantu dibulli hantu,"


Kata Zizi sambil menggelengkan kepalanya,


"Jadi, bukan hal yang berbahaya atau bagaimana Zi?"


Tanya Bibik Aisyah,


Zizi memandang ke arah Bibiknya dan tersenyum,


'Tidak Bik, semua baik-baik saja, jangan khawatir."


Ujar Zizi,


Bibik Aisyah dan Eva pun terlihat lega mendengar kata-kata Zizi,

__ADS_1


"Oh iya, ngomong-ngomong, ke mana Paman Ziyan?"


Tanya Zizi menyadari Pamannya tak ada di rumah,


"Paman mu ke kantor Tuan Yandik, sepertinya akan membahas beberapa surat wasiat dari Kakek."


Kata Bibik Aisyah,


"Dengan Papa juga?"


Tanya Zizi,


Bibik Aisyah menggeleng,


"Tadi Paman mu cerita jika Papa Zizi tak bisa ikut karena ingin menunggu Mama mu pulang."


Tutur Bibik Aisyah,


Zizi pun mengangguk, ia tentu sudah paham karakter Papanya, sudah jelas sejak dulu Papanya teramat sayang pada Mamanya, tak ada satupun yang meragukan soal hal itu,


"Baiklah, jadi suara teriakan itu bukan hal yang harus ditakuti Bik, sekarang sudah ada aku, semua aman, Bibik dan Eva sepertinya belum istirahat semalam, pergilah istirahat,"


Kata Zizi sambil berdiri,


"Kak Zizi mau ke mana?"


Tanya Ali,


Kata Zizi bersiap pergi, Shane juga ikut berdiri dan akan pergi mengawal sang isteri,


"Apa aku perlu ikut?"


Tanya Ali,


Zizi cepat menggeleng,


"Kamu jaga Ibu dan kakakmu saja di sini, sekalian barangkali ada hantu jahat masuk, kau uruslah."


Kata Zizi,


Ali pun mengangguk,


Zizi lantas permisi pada Bibiknya, tampak Bibik Aisyah tentu saja mengangguk mengerti,


Zizi dan Shane langsung menuju ke arah ruangan bekas gudang yang kini kepala keluntung sedang dikocok-kocok Marthinus.


"Hey, kenapa kepalanya dikocok seperti itu? Nanti otaknya berbusa."


Kata Zizi,


Marthinus begitu melihat Zizi masuk dan langsung protes karena kepala keluntung dikocok-kocok akhirnya menghentikan aksinya,

__ADS_1


"Maaf Nyonya, ini soalnya tadi memorinya katanya terpisah-pisah, jadi harus di kocok supaya ngumpul lagi,"


Ujar Marthinus,


Zizi menatap kepala keluntung yang matanya masih muter-muter karena baru dikocok,


"Memori soal apa?"


Tanya Zizi,


Martinus menatap tajam si kepala keluntung agar menjawab pertanyaan Zizi dengan cepat dan tepat,


"Ular soal ada di mangkrak gedung siluman banyak dulu hantu tinggal tempatku sana di ada,"


Si kepala keluntung seperti acak kata,


Zizi yang sudah dasarnya bolot jelas saja makin tidak mudeng,


"Apa maksudnya sih?"


Tanya Zizi,


Haiiish... kepala keluntung mendesis, lalu...


"Ular mangkrak di siluman gedung hantu tempat aku banyak dan..."


PLAK!!


Zizi yang tak sabar langsung menampol kepala keluntung, dan...


"Ada banyak siluman ular di tempat tinggal aku dulu dengan para hantu di gedung Mangkrak, mereka punya pimpinan yang tinggal di satu kawasan elit, dan sedang mengincar kalian,"


Akhirnya kepala keluntung bisa berkata dengan benar,


"Kawasan elit di mana?"


Tanya Zizi,


Kepala keluntung diam,


"Tapi janji aku harus mendapatkan perlindungan, bukankah saksi kunci harus dilindungi?"


Kepala keluntung melakukan negosiasi dulu,


Plak!!


Zizi menabok kepala keluntung lagi,


"Katakan saja, urusan lainnya aku yang urus."


Kata Zizi.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2