
Maria melayang menuju kampung hantu di mana kini terlihat ramai seperti ada pagelaran tari atau semacamnya.
Riuh rendah suara tabuhan musik dari alat-alat musik tradisional terdengar begitu semarak.
Maria tampak celingak-celinguk, mencoba mencari rumah yang dimaksud Arya, di mana yang konon katanya Zia masuk ke dalam sana bersama Nenek jelmaan Buaya putih.
Di mana dia? Batin Maria.
Maria lantas terlihat menyusuri jalan perkampungan hantu yang terlihat lenggang karena sepertinya penghuni kampung tersebut semuanya kini tengah berada di tempat keramaian.
Maria mencoba mengamati satu persatu rumah yang ada di kampung itu, rumah-rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu dengan lantainya yang semuanya masih dari tanah biasa.
Hingga terdengar suara seperti lantunan kidung nan sendu, kidung yang dilantunkan seorang perempuan yang kini suaranya seolah menggema di seluruh wilayah perkampungan hantu.
Maria terlihat menatap langit yang semula hitam kini tiba-tiba menjadi merah, semakin lama warna merah itu tersapu cahaya keemasan yang berpendar terang.
Suara riuh hantu yang semula menari diiringi ramai suara musik tiba-tiba saja sirna.
Sunyi...
Sepi...
Maria menatap sekeliling, kini tampaknya hanya dirinya hantu yang masih berada di sana.
Berdiri di awang-awang sendirian.
Hingga...
Sebuah pendar cahaya yang sangat menyilaukan melesat dengan cepat dari sudut langit.
Cahaya itu lantas seolah mengarah pada satu rumah yang kayunya paling lapuk.
__ADS_1
Maria menatap heran, meskipun ia jadi merasa bahwa di sana kah pintu menuju ke tempat Zia saat ini?
Tempat itukah yang dimaksud Arya?
Maria kemudian melayang menuju rumah tersebut.
Dicobanya ia menembus pintu rumah itu, tapi Maria tampak terpental.
Ah ya, tentu saja, ini bukan tempat manusia, di alam itu Maria tak bisa menembus pula,
Maria celingak-celinguk, ia harus bisa masuk bagaimanapun caranya.
Ia ingin bisa menemukan keberadaan Zia dan Bobi, memastikan mereka baik-baik saja.
Hingga....
Darr!!
Darr!!
Riuh para penduduk kampung hantu itu melarikan diri dari bola-bola api yang entah datang dari mana.
Hantu dalam berbagai bentuk melayang melewati Maria dengan wajah panik luar biasa.
Maria begitu bingung, ia yang hampir tertabrak hantu-hantu yang ramai melarikan diri itupun tampak tersudut ke pintu rumah lapuk yang ia curigai adalah tempat masuknya Zia ke dimensi lain lagi.
Hingga...
Krieeeet...
Pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri, Maria merasakan ada energi yang menariknya masuk ke dalam kemudian.
__ADS_1
Saat Maria kemudian terhempas masuk, pintu rumah tersebut lantas menutup dan...
Hilang.
Ya...
Hilang.
Maria celingak-celinguk untuk kesekian kalinya.
Bukan hanya pintu yang tiba-tiba hilang saja yang membuatnya terkejut, namun juga keberadaan rumah yang juga tidak ada.
Kini...
Di depan Maria justeru yang terlihat adalah hamparan danau yang luas.
Danau yang tentu saja tak asing untuk Maria, namun karena tak asing malah membuat Maria semakin heran.
"Ap... Apa ini?"
Maria bingung luar biasa, karena ia kini berada di area danau hotel wisata di mana dulu adalah daerah kekuasaan Jaka Lengleng.
"Pintu itu, kenapa bisa sampai ke sini?"
Maria masih tak habis pikir, saat kemudian ia mendengar suara lantunan kidung yang sendu itu lagi, suaranya begitu indah, membuat alam seolah menjadi tenang.
Maria lantas berteriak,
"Nyonya Zia... apa kau di sini?"
Suara Maria menggema di antara hening malam.
__ADS_1
**----------**