The Pandawa

The Pandawa
47. Siap


__ADS_3

Maria melayang mencari Zizi diikuti pocong yang sempat basah kuyup karena ulah Scot dan Gil,


Hingga kemudian mereka bertemu dengan Zizi yang baru keluar dari gudang di mana kepala keluntung ditempatkan di sana.


"Kunci dan katakan pada semua orang di rumah ini agar tidak mendekati wilayah belakang rumah."


Kata Zizi memerintah pada Marthinus.


Tampak Martinus mengangguk, lalu permisi mendahului Zizi masuk ke dalam rumah, karena Zizi dan Shane sepertinya akan mendengar laporan Maria terlebih dahulu,


Zizi sejenak menatap Maria dan pocong yang ada di belakang Maria,


Si pocong terlihat bergerak ke kanan dan kiri seperti jarum di timbangan badan, membuat mata Zizi jadi ikut ke kanan dan ke kiri,


"Hmm..."


Zizi sudah akan mulai emosi, ketika Maria akhirnya menyadari si pocong tak bisa diam di belakangnya,


Maria pun langsung memegangi kuncung si pocong, agar pocong bisa berhenti bergerak,


"Apa kau tidak bisa diam? Kamu pikir kamu boneka dashboard?"


Kesal Maria,


Si pocong nyengir, giginya yang hitam terlihat berbaris memenuhi mulut,


"Ada apa Aunty? Apa kau menemukan sesuatu?"


Tanya Zizi,


Maria melayang ke arah Zizi, lantas memberikan sisik ular yang keemasan,


"Sisik ular keemasan ini, rasanya tidak asing bukan?"


Tanya Maria pada Zizi yang menatap sisik ular di tangannya dengan kening berkerut,


Benar memang, ia merasa tidak asing dengan sisik ular itu,


"Di mana ditemukan Aunty?"


Tanya Shane,


Maria lantas menunjuk ke arah satu sudut di belakang rumah,


Shane mengikuti jari telunjuk Maria,

__ADS_1


"Ini bukan Paman Jaka Lengleng,"


Lirih Zizi,


Maria dan Shane serta si pocong menatap Zizi,


Tampak Zizi kemudian balik menatap Maria dan pocong,


"Selain ini, apa ada yang lain?"


Tanya Zizi,


Maria mengangguk,


"Dia,"


Maria ganti menunjuk si pocong,


"Dia barusan melaporkan soal hantu kecil yang diselamatkan Rain justeru kini disiksa hantu lain di dalam rumah susun di dalam lukisan Rain,"


Kata Maria,


"Lukisan Rain ada hantu jahat?"


Zizi heran,


Tanya Maria,


Zizi menoleh ke arah Shane,


"Apa aku lupa memagari rumah ini?"


Tanya Zizi tak yakin,


"Aku rasa, penyusup yang sempat ditangkap saat Kakek buyut disemayamkan itu memiliki kekuatan untuk menembus pagar yang kamu buat, dan kita tak sempat menyadari hal itu."


Ujar Shane,


"Mereka sekuat itu sekarang,"


Lirih Zizi,


"Mereka merekrut banyak hantu-hantu kuat dan jahat,"


Kata si pocong,

__ADS_1


"Mereka siapa? Silukman ular?"


Tanya Zizi,


Si pocong menggeleng,


"Lalu siapa?"


Tanya Zizi,


"Bukannya kamu tadi bilang para ular?"


Maria jadi bingung, mana yang betul,


"Siluman ular, bukan silukman, kalau Lukman itu dulu tetangga Bapakku, anaknya Pak Haji Kardi, rumahnya dekat jembatan."


Kata pocong malah memperkenalkan nama tetangganya,


Haiiish... Zizi mendesis,


Bersamaan dengan itu, hp Zizi ada panggilan masuk,


Zizi pun cepat mengangkat panggilan yang masuk begitu dilihatnya Mamanya yang menelfon,


"Ya Mah,"


Kata Zizi,


"Zi, Maria dan Marthinus, ke mana mereka?"


Tanya Zia dari seberang sana,


"Ada di rumah bersamaku Mah, ada apa?"


"Suruh mereka ke sini, bawa beberapa barang anak-anak, terutama yang untuk sekolah,"


"Ah ya Mah, keputusan Mama benar, ada penyusup di sini, memang lebih baik anak-anak bersama Mama di sana,"


Ujar Zizi,


"Ya, kita tunggu Nenek Bandapati kembali, agar semua bisa lebih jelas. Mama rasa, selasa kliwon nanti adalah waktunya, kita tunggu saja, atau kita akan ke tempat Nenek Bandapati langsung, nanti kita bisa bicarakan lagi."


Kata Zia.


"Oke Mah."

__ADS_1


Zizi selalu siap.


**--------------**


__ADS_2