The Pandawa

The Pandawa
27. Tanda Tanya


__ADS_3

Zizi dan para bala moa nya tampak menuju rumah reyot di mana di curigai dari sanalah Zia dan Maria masuk ke dalam dimensi lain lagi.


Zizi lantas menatap pintu yang kayunya sudah lapuk di depannya, lalu...


"Kita masuk sekarang saja?"


Tanya Ali,


Zizi mengangguk,


Marthinus tampak sigap maju ke depan, niatnya tentu saja ia akan membukakan pintu tersebut untuk para majikannya.


Tapi...


Brukg!!


Zizi malah lebih dulu menendang pintu lapuk rumah itu, membuat pintu tersebut roboh ke arah dalam.


Semua melongo melihat pintu yang sudah tua itu roboh tak berdaya.


Zizi tampak nyengir,


"Ngg... Biar cepet,"


Kata Zizi.


Ali terlihat mengulum senyum, sudah tahu dia kelakuan kakak sepupunya.


"Udah, ayuk kita kemon."


Ujar Zizi pada semuanya untuk masuk ke dalam melewati pintu reyot yang terbaring pasrah di atas lantai tanah.


Zizi berjalan di atas pintu itu, tampak ia celingak-celinguk, tapi ia hanya mendapati ruangan kosong dalam rumah bilik tersebut.


"Apa ini? Tidak ada apa-apa."


Kata Zizi.


Shane, Ali dan Marthinus, pun juga beberapa hantu penduduk kampung gaib yang ikut masuk tampak memandang ke sekeliling.


"Katanya pintu ke dimensi lain, mana?"

__ADS_1


Zizi jadi kesal.


Tidak biasa-biasanya ia merasa dikerjai.


Shane mencoba menajamkan penglihatannya, Marthinus juga sama, mereka terlihat menyisir tempat tersebut. Hingga kemudian...


Ali tiba-tiba bersuara dari sudut ruangan yang sangat gelap.


"Kak Zizi, kemarilah."


Kata Ali,


Zizi lantas mencari keberadaan Ali dengan mengikuti arah asal suara Ali.


Tampak Ali samar berdiri di sudut,


Ia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Zizi.


"Kita masuk lewat sini, aku yakin."


Bisik Ali.


Zizi mengerutkan kening.


Keduanya berguling ke atas tanah yang sedikit basah.


Zizi celingak-celinguk, tampak Ali juga sama, keduanya kini berjarak sekitar lima meteran.


"Kak Zizi, kau tidak apa-apa?"


Tanya Ali khawatir.


Zizi mengangguk.


"Aku tidak apa-apa Al,"


Ali tampak lega, lalu berdiri dari posisinya yang sempat tengkurap di atas tanah.


Zizi tampak menatap hamparan danau yang luas dan hening di hadapannya.


Hamparan danau yang mulai berkabut.

__ADS_1


Zizi dan Ali kembali berpandangan, tentu saja danau itu bukanlah danau yang asing bagi keduanya.


Danau itu adalah danau di hotel wisata, danau itu juga yang ada di taman rumah orangtua Aisyah sang Ibunya Ali, dan danau itu juga adalah danau yang Zizi sempat sambangi.


Kesemuanya adalah danau yang sama, yang di mana di sanalah Paman Jaka Lengleng dulu membangun istananya.


Zizi terlihat berdiri pula dan berjalan mendekati danau,


"Bukannya ini..."


Ali berdiri di samping Zizi, keduanya menatap danau di depan mereka.


"Jadi semua terhubung ke tempat Paman Jaka Lengleng."


Gumam Zizi.


Tapi...


Siapa yang membuka pintu gaib ke tempat ini hingga terhubung ke perkampungan hantu yang tadi Zizi masuki?


Batin Zizi pun bertonyo-tonyo,


Sementara itu...


Di tengah hutan belantara yang gelap dan sunyi, Zia dan Nenek jelmaan buaya putih masih mencoba menemukan Arya yang mereka pikir tersesat masuk ke dalam hutan.


Saat kemudian, Nenek jelmaan buaya putih tiba-tiba menghentikan langkahnya dan...


"Sepertinya ada manusia lain, tapi aromanya kenapa agak-agak gosong."


Kata Nenek buaya putih.


Zia mengerutkan kening,


"Manusia bau gosong?"


Tanya Zia heran,


"Iya gosong agak asam juga."


Tutur si nenek,

__ADS_1


Jiaaah udah gosong, bau asam. Batin Zia.


**--------------**


__ADS_2