The Pandawa

The Pandawa
31. Ketemu


__ADS_3

"Ehem... sudah sudah, kita tunda dulu perdebatan dengan tema bau gosong ini."


Ujar Zia mencoba menjadi penengah, seperti tanda bagi, tambah, pengurangan, perkalian atau bahkan sama dengan.


Zizi lantas memandang Mamanya,


"Bobi, apakah Mama menemukan Bobi?"


Tanya Zizi, yang memang tujuannya masuk ke dunia lain adalah untuk mencari sang putra.


Tampak Zia mengangguk, dan itu jelas melegakan untuk Zizi.


Lalu terdengar pondok yang dindingnya digedor-gedor, yang sudah jelas karena yang di dalam ingin bisa segera keluar.


"Aduh, pondokku bisa roboh ini, mana masih cicilan."


Kata Nenek jelmaan buaya putih, ia tergopoh-gopoh menuju pondoknya,


Maria mengikuti dengan melayang,


"Bobi ada di pondok, kami meninggalkannya sebentar untuk mencari Arya, tadi Mama mengajaknya ikut Nenek buaya putih, tapi kemudian Mama baru sadar Arya tak terlihat lagi."


Tutur Zia.


"Ah Kak Arya, tidak udah khawatir Ma, Aunty Maria sudah bertemu dengannya, dan memastikan Kak Arya kembali ke dunia manusia untuk membantu kita memberikan informasi pada Papa dan Paman Ziyan,"


"Lho, jadi Arya malah sudah pulang?"


Tanya Zia langsung merasa usahanya mencari dan khawatir setengah mati sia-sia.


"Sudah dari tadi Ma,"


"Haduh, tahu begitu Mama langsung keluar dengan Bobi."


Kesal Zia.


Zizi nyengir keki, karena ternyata Mamanya juga tak secerdas yang ia pikir selama ini.


"Bagaimana Mama bisa menemukan Bobi? Dan danau itu..."


Zizi menatap Mamanya,


Zia menggelengkan kepalanya,


"Nanti Mama akan ceritakan semuanya, kita jemput Bobi dulu, dia sedang berusaha merobohkan pondok karena Nenek buaya putih memang sengaja mengurungnya agar tidak perlu ke mana-mana sampai kami kembali."

__ADS_1


Ujar Zia.


Zizi pun mengangguk,


Mungkin ini karena ia merasa bahwa Mamanya saat ini sampai melibatkan diri pasti ada sesuatu yang jauh lebih serius daripada dugaannya.


Zizi lantas berjalan beriringan dengan Zia dan Ali, mereka bertiga menyusul Nenek buaya putih dan Aunty Maria yang kini sudah berada di depan pondok.


"Apa ini ada hubungannya dengan keturunan Paman Jaka Lengleng, Ma?"


Tanya Zizi,


"Ya, tentu saja, para siluman itu, dukun itu, pada akhirnya muaranya ada pada mereka, nanti kita bicarakan setelah memastikan Bobi selamat dan bisa kita bawa pulang."


Kata Zia.


Lalu...


Tampak cahaya berpendar menyilaukan mata dari arah pondok, dan setelah itu, pondok yang kini berubah macam pondok biasa lagi yang memiliki pintu tampak pintunya terbuka.


Bobi di dalam pondok begitu tiba-tiba melihat pintu yang muncul secara ajaib lalu terbuka, tentu saja Bobi tak mau menyia-nyiakannya.


Ia berlari secepat yang ia mampu, dan melompat keluar dari pintu yang lantas...


DEBUKG!


"Aduuuuh..."


Nenek buaya putih pun langsung memegangi pinggangnya.


"Ah, sori Nek."


Bobi yang tak enak telah menabrak Nenek buaya putih hingga terpental jatuh ke belakang tentu saja langsung menghampiri dan membantunya bangun,


Namun terlalu sigap juga kadang tidak baik, apalagi Bobi bukannya menarik tangan Nenek, ia malah menarik rambut Nenek.


"Aduuh... aduuuh... Kamu ini bodoh atau apa?!"


Nenek buaya putih jadi mengomeli Bobi.


"Oh ini rambut ya, maaf Nek, ini terlalu gelap hutannya, tidak terlalu jelas,"


Kata Bobi.


"Lagian kenapa rambut macam tangan."

__ADS_1


Gumam Bobi.


"Lah, ini pekerjaan kedua adik cecunguk mu itu, rambut Nenek-nenek dikuncir dan digulung-gulung seperti ini."


Kata Nenek kesal,


Bobi mendengar adiknya disebut-sebut jadi tertawa,


"Maksudnya Scot dan Gil?"


Bobi terpingkal,


Sudah jelas semua hantu saja sebal luar biasa pada dua anak itu.


"Ya iyalah Bobi, siapa lagi yang bisa melakukan hal macam itu,"


Kata Aunty Maria,


Bobi yang mendengar suara Maria jelas saja langsung senang, apalagi begitu akhirnya Maria muncul di hadapannya.


"Aunty."


Bobi berteriak dengan suka cita.


"Dasar anak bandel, berapa kali sudah dinasehati supaya jangan suka melibatkan diri terlalu jauh, kamu belum mumpuni."


Ujar Maria pada anak asuhnya,


"Iya Aunty, maaf, aku sangat penasaran dengan kakek tua itu."


"Hadeeeh, dia dukun pengabdi bangsa ular, memperbudak banyak siluman untuk membantunya menjebak manusia demi jabatan dan kekayaan."


Nenek buaya putih terlihat bangun dan berdiri,


"Pengabdi bangsa ular?"


Bobi seolah bertanya pada angin dengan gumaman saja,


"Bobi... Bobi..."


Kali ini terdengar suara Nenek Zia dan Mamanya, pun bahkan suara Paman Ali.


"Mereka ikut menyusul ke sini."


Terang Maria saat Bobi menatapnya.

__ADS_1


Dan benar, tak lama ketiga orang terdekat Bobi muncul, dan pastinya Bobi langsung melompat menghambur ke arah Mamanya.


**-------------**


__ADS_2