
Kota itu seperti kota mati yang begitu sepi mencekam, tak ada satupun mahluk yang lewat dan terlihat di sana meskipun hanya lalat ijo.
Maria terlihat melayang-layang menyusuri jalanan kota dengan bangunan dalam aneka bentuk dan ukuran.
Kedua mata hantu none Belanda itu terlihat menyapu seluruh tempat,
Kenapa begitu sepi? Batin Maria.
Hantu itu pun terus melayang, sambil tetap hati-hati dan waspada, ia mencoba memastikan bahwa tak ada yang siluman yang bisa menyerangnya tiba-tiba.
Sampai kemudian ia berada di perempatan jalan, membuat Maria terpaksa harus berhenti sejenak, karena ia mencoba memilih jalan mana yang harus di tempuh,
Sudah barang tentu, apabila kita harus memilih jalan, memang tak semudah itu ferguzo,
Ia harus memastikan bahwa jalan yang ditempuh tak begitu dipenuhi masalah yang terlalu sulit dihadapi, atau paling tidak, sekalipun nantinya ada masalah, tapi hasil yang didapatkan sepadan dengan apa yang telah kita upayakan,
Ya begitulah kura-kura,
Maria yang tengah mencoba menentukan pilihan kini menatap gedung yang berdiri kokoh menjulang,
gedung-gedung kosong itu jelas Maria melihatnya di salah satu lukisan Rain,
Ya gedung-gedung kosong yang berdiri di sekitar perempatan jalan,
Maria kemudian memutar kepalanya melihat ke belakang, di mana tadi ia mengawali perjalanannya,
Saat ia pertama kali masuk ke dalam lukisan Rain di lukisan rumah susun yang masih ada di kamar Rain, rumah susun yang Rain buat untuk beberapa hantu yang berseliweran di sekitar komplek rumah Kakek buyutnya di Kemang.
Di lukisan rumah susun itu pulalah, hantu kecil yang diselamatkan Rain kala malam meninggalnya Tuan Ardi Subrata diberikan tempat tinggal.
__ADS_1
Namun...
Kosong. Ya, tempat itu juga telah benar-benar kosong tadi ketika Maria pertama kali masuk,
Rumah susun yang persis dengan lukisan Rain itu sama sekali tak berpenghuni,
Hanya aroma tak sedap saja yang sempat tercium oleh si hantu None Belanda itu,
Lalu, karena penasaran, Maria pun kemudian memutuskan untuk keluar dari rumah susun dan melayang menyusuri jalanan di depan rumah susun.
Dan...
Maria sempat dibuat tak percaya dengan apa yang ia lihat, saat terpampang kota yang ternyata cukup maju dengan bangunan gedungnya yang tinggi-tinggi mencakar langit,
"To... to... to..."
Tampak si hantu None Belanda itupun celingak-celinguk mencari asal suara,
"Loooong..."
Siara itu terdengar lagi,
Bersamaan dengan itu, tampak lamat-lamat di pandangan mata Maria sesosok hantu perempuan hamil terlihat merangkak menuruni dinding gedung dari lantai sepuluh,
Maria melayang ke arah si hantu perempuan yang kini tergeletak di bawah sambil memegangi perutnya,
Tampaknya ia tengah hamil tua, Maria lantas menghampiri sosok hantu itu dan mencoba menolongnya,
"Bawa aku jauh dari sini, semua hantu yang tak mau ikut dibantai habis."
__ADS_1
Kata si hantu perempuan hamil,
"Dibantai? Siapa yang membantai?"
Tanya Maria,
Hantu perempuan hamil itu menatap Maria,
"Ular, mereka masuk ke dunia kami para hantu, dan mereka benar-benar jahat."
Kata hantu perempuan hamil,
"Ular? Jadi benar kabar itu...."
Tanya Maria, si hantu mengangguk,
Maria kemudian membantu si hantu perempuan yang sedang hamil sembari mencoba kembali memilih jalan mana sebaiknya yang ia tempuh,
"Ke kanan saja, kita akan menemukan ujung jalanan kota ini dan akan berpindah ke pemukiman padat hantu, ada yang bilang seorang hantu berhasil lolos lewat sana."
Kata si hantu perempuan hamil.
Maria pun mengangguk setuju.
"Baiklah,"
Kata Maria.
**--------------**
__ADS_1