The Pandawa

The Pandawa
67. Buaya Nyasar


__ADS_3

"Kalian ini mau apa?"


Tanya si nenek bingung, yang tentu saja membuat kedua laki-laki itu juga sama bingungnya,


Tapi, dalam keadaan di mana pekikan Naga dan ular di dalam hutan yang kini semakin kacau oleh suara pohon yang bertumbangan, dua laki-laki itupun merasa tak perlu menjelaskan lebih dulu pada sang nenek,


Laki-laki yang kakinya tidak terluka pun bergerak cepat ke arah sang Nenek, ia langsung saja menarik Nenek yang masih bertahan di tepi danau,


Dengan tergesa-gesa, si laki-laki itupun membopong Nenek di bahu kirinya, suara yang begitu menakutkan terdengar luar biasa membuat sekujur tubuh dua laki-laki itu merinding,


Mereka tampak bergegas pergi dari sana, si laki-laki yang kakinya terluka terlihat kesulitan berlari,


Sementara temannya, yang kini berada di belakangnya terlihat begitu panik dan gugup,


Dumb!!!


Kreaaaak!!


Suara di dalam hutan begitu berisik, seiring dengan itu langit tiba-tiba saja menjadi gelap,


"Cepat! Sepertinya badai akan seger... seger... seger..."


Laki-laki yang pincang berkata gagap sambil menunjuk ke arah bahu temannya yang kini berlari menyusulnya dan bahkan menyalipnya,


"Apa? Badai seger apa?"


Si teman itu hanya menoleh sekilas, lalu meneruskan acara berlarinya menuju desa,


Si laki-laki yang kakinya pincang karena sebelumnya jatuh saat melarikan diri dari ular besar itupun tampak menghentikan larinya dan hanya menunjuk ke arah temannya yang menjauh,


"Bu... Bu... Buaya putih,"

__ADS_1


Kata si laki-laki yang pincang sambil matanya menatap sosok temannya yang kini sudah cukup jauh sambil membopong seekor buaya.


Langit semakin lama semakin gelap, suara gemuruh terdengar menambah suasana menjadi mencekam,


Laki-laki yang membopong nenek berlari ke arah jalanan desa, dan begitu sampai sana, begitu bertemu orang desa yang juga berbondong pulang ke rumah dari sawah dan kebun terlihat menjerit melihat laki-laki yang baru dari hutan itu,


"Aaaaaa..."


"Bu Ayaaaaaa..."


Mereka lari tunggang langgang menyusuri jalanan desa untuk menuju ke rumah mereka masing-masing,


Sementara laki-laki yang merasanya ia membopong Nenek-nenek ikut lari,


"Tenang Nek, jangan khawatir, Nenek pasti selamat sama aku, jangan takut,"


Kata si laki-laki yang membopong nenek,


Kata si Nenek,


Laki-laki yang membopong Nenek tak peduli, baginya ia harus menyelesaikan tugasnya menyelamatkan Nenek itu dari marabahaya,


Apalagi saat ini terdengar gemuruh di langit semakin menjadi-jadi, ditambah hujan dan angin yang pun semakin bertambah besar pula,


"Kita ke rumah Nek, di rumahku aman, aku juga punya nenek di rumah, kalian pasti bisa berteman,"


Ujar si laki-laki itu bicara tanpa sadar jika Nenek kini sudah sepenuhnya menjadi buaya putih,


Dan saat ia masuk ke perkampungan, di mana orang-orang yang sempat pertama ia temui lari tunggang langgang kini tampak sedang bicara pada warga desa,


"Itu dia!"

__ADS_1


Kata salah satu orang yang tadi sempat ditemui di jalanan pertama masuk desa,


Orang itu menunjuk ke arah si laki-laki yang baru saja datang,


"Aaaaaaa..."


Mereka lari lagi,


Salah satu dari warga desa yang juga bersiap lari menunjuk ke arah si laki-laki pula,


"Bu... Buaya... Darimana kau mendapatkannya? Dan kenapa kau bawa ke desa?"


"Buaya? Buaya ap..."


Dan saat si laki-laki baru akan celingak-celinguk melihat ke arah bahunya, tiba-tiba ia pun menjerit,


"Aaaaaaa!!"


Dilemparkannya buaya yang ada di bahunya,


Laki-laki itu terjatuh duduk di atas jalan desa, selain takut, ia juga heran melihat kenapa tiba-tiba ia membawa buaya sedangkan jelas-jelas tadi ia membopong Nenek renta,


"Ap... Apa yang terjadi? Ke... Kenapa ada buaya?"


Laki-laki itu begitu ketakutan melihat buaya putih yang terlihat di atas jalan desa kini terlihat menatapnya,


Dasar manusia dodol, sudah seenaknya aku dibawa sampai sini malah dilempar.


Kesal si nenek buaya.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2