
Zia dan Zizi serta lainnya akhirnya keluar dari rumah reyot di kampung hantu, Zizi tampak celingak-celinguk mencari Shane dan Marthinus, yang semula sempat tertinggal di sana.
Untungnya, jejak keberadaan mereka cukup mudah ditemukan karena aroma Marthinus yang kuat.
"Di mana Shane?"
Tanya Zia pada Zizi ketika mereka telah benar-benar keluar dari rumah reyot untuk menuju tempat Nenek buaya, dan kini mereka berjalan ke jalanan kampung hantu yang lenggang.
Rumah-rumah yang terbakar terlihat mengenaskan, tapi pastinya para hantu punya cara renovasi instan.
"Apa yang terjadi di sini?"
Tanya Zia,
"Ada mahluk seperti kepala yang terbakar menyerang perkampungan ini Bik."
Sahut Ali menjawab.
"Aunty, tolong panggilkan Papanya Bobi dan Paman Marthinus, kita harus segera keluar dari sini."
Ujar Zizi pada Maria,
Tampak none Belanda itupun mengangguk tanpa membantah, ia melayang mengikuti jejak aroma Marthinus yang tak bisa dikalahkan apapun, bahkan sekalipun oleh bubuk mesiu.
"Bobi, kali lain Mama benar-benar tidak akan memaafkanmu kalau sampai masuk alam lelembut seenaknya begini."
Kata Zizi pada anaknya yang berdiri di samping Ali,
"Tapi Ma..."
Bobi sejenak menatap Mamanya, lalu menatap Neneknya dan juga menatap Paman Ali,
"Ada apa Bobi, katakanlah."
Kata Zia lembut, ia meminta Bobi mendekat,
"Tidak usah pasang wajah begitu, nanti kalau kena marah, Mama yang dimarahi Nenek."
Kesal Zizi.
Plak!
__ADS_1
Zia menabok punggung Zizi,
"Aduh Ma, kenapa Zizi yang ditabok?"
Zizi jelas saja protes,
"Ini anakmu mau bicara penting, kamu berisik terus."
Kesal Zia.
Haiiish... Zizi mendesis,
Selalu begitu, Mama memang lebih sayang pada cucunya daripada anaknya. Batin Zizi.
Bobi menurut mendekati Zia, lalu pelahan tangan kecilnya masuk ke dalam kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana,
"Saat itu Bobi mendengar perempuan menyanyikan lagu Jawa, Nek, saat sebelum Bobi tidak sadar."
Tutur Bobi,
"Di mana?"
Tanya Zia, tentu ia langsung merasa seperti ingat dulu juga ia sering mendengarnya,
"Ah hutan terlarang."
Lirih Zia bergumam,
Bobi kemudian membuka telapak tangannya yang tergenggam dan memperlihatkan sesuatu yang ia keluarkan dari kantong celananya tadi,
Zia dan Ali mendekat, menatap seperti kuku Naga di atas telapak tangan Bobi.
"Bobi melihat seorang kakek, dia memakai baju jawa lusuh, menggunakan ikat kepala bertuliskan huruf jawa. Kakek itu memberikan kuku ini pada Bobi, katanya, ini adalah pusaka Naga Geni."
Ujar Bobi.
"Kakek siapa?"
Tanya Zizi,
Bobi menggeleng,
__ADS_1
"Tidak kenal Ma, tidak kenalan juga."
Jawab Bobi.
"Haduuh, kakek kan banyak, tanya othor coba."
Kesal Zizi karena semua hal tidak jelas,
(Huu tendang sisan Zizi)
Zia meraih kuku Naga dari atas tangan Bobi, tapi aneh sekali, rasanya kuku itu sangat berat, Zia bahkan sampai menyerah untuk mengambilnya,
Ali yang penasaran juga ikut berusaha mengambil tapi juga sama saja,
"Ini jelas bukan sesuatu yang biasa, apa ini? Kenapa hanya Bobi yang bisa menggenggamnya?"
Zia bertanya-tanya,
Zizi akan mencoba pula, tapi justeru Zizi malah terpental,
"Lah kamu bahkan malah ditolak."
Zia terkekeh kemudian melihat Zizi terpental,
Zizi mengusap pantatnya yang sakit karena jatuh ke jalan, ia berdiri lagi dan berjalan tertatih mendekati keluarganya lagi,
Zizi menatap Bobi,
"Apa yang kakek bilang lagi?"
Tanya Zizi pada Bobi,
"Setelah pertempuran besar, aku di masa depan akan bertemu dengan Naga, aku ditakdirkan harus berhadapan dengan Naga jahat."
Lirih Bobi dengan wajah cemas.
Zizi dan Zia saling berpandangan,
"Apa ini ada hubungannya dengan tapa Bandapati yang sangat lama Ma?"
Zizi bertanya,
__ADS_1
Zia yang tak bisa memastikan pun hanya mampu menggeleng pelan.
**--------------**