
"Ada apa Ali? Kenapa kamu dari pagi buta sibuk di halaman belakang? Sore ini kita harus pulang ke Malaysia lagi,"
Kata Eva, kakak Ali yang heran dengan kelakuan Ali,
Tampak Ali yang seperti sibuk mencari sesuatu akhirnya menghentikan kegiatannya sejenak, ia melangkah menghampiri sang kakak,
"Aku mimpi semalam, ada seorang perempuan yang memintaku mengamankan sesuatu yang tersimpan di sini,"
Ujar Ali,
"Mimpi? Jadi kamu hanya karena mimpi lalu langsung melakukannya? Apa kamu sadar?"
Eva menggelengkan kepalanya,
"Kamu tahu kan Kak? Kadang mimpiku sebuah petunjuk, seperti Kak Zizi, seperti Bibik Zia,"
Ujar Ali,
Eva menghela nafas menatap adiknya, ia tahu jika Ali memang berbeda dengan dirinya, bahkan di dalam keluarga hanya dia yang memang memiliki kelebihan yang tak dimiliki orangtua dan juga sang kakak,
"Kenapa tidak beritahu Bibik Zia dan Zizi saja? Mereka lebih tahu apa itu mimpi benar atau bukan, nyatanya kamu sejak pagi buta tidak menemukan apapun Ali,"
Kata Eva,
Ali lantas menyapukan pandangannya ke seluruh halaman belakang rumah Kakek Ardi Subrata yang luar biasa luas,
Hutan buatan yang terlihat hijau memanjakan mata itupun tak luput dari tatapan mata Ali yang setajam Rajawali Citra Televisi, eh salah salah, itu nama stasiun TV kebanggaan kita bersama,
"Tapi Zizi pergi sejak pagi juga, sepertinya sangat penting ke rumah Bogor,"
__ADS_1
Ujar Eva kemudian,
"Sepertinya yang harus dihadapi keluarga Paman Zion akan semakin berat, aku dengar ada pengusaha asing yang sedang mulai mengganggu Alpha Centauri juga, ini sama seperti saat dulu ada keturunan dari Jaka Lengleng yang ingin membuat Alpha Centauri hancur,"
Tutur Ali,
Eva mengangguk,
"Ya, kalau itu aku dengar, itu juga kenapa Ayah memintaku cepat menyelesaikan study ku dan tinggal di Indonesia ikut bantu Paman Zion mengurus Alpha,"
"Benarkah?"
Ali menatap kakaknya,
Tampak Eva, sang kakak mengangguk,
"Ya, Paman Zion tentu tak bisa mengelola perusahaan sendirian jika ingin bertahan, perusahaan ini terlalu besar, puluhan ribu orang bergantung dengan perusahaan ini, mengerikan jika sampai perusahaan ini bangkrut, mereka semua akan kehilangan mata pencaharian,"
Kata Eva,
"Ya, Ayah juga mengatakannya padaku, ini kenapa akhirnya aku mau ambil manajemen,"
"Aku harap Rain dan Aron juga bisa lebih fokus sekolah,"
Ali tersenyum mendengar kalimat Eva yang penuh tekanan, seolah ia benar-benar berharap dua dari lima anak Zizi bisa hidup lebih normal nantinya,
"Mereka memiliki Ayah Shane, jangan khawatir,"
Ujar Ali,
__ADS_1
Eva tersenyum, lalu menepuk bahu adik laki-lakinya,
"Jadi, apa kamu akan melanjutkan mencari sesuatu dalam mimpimu? Sesuatu seperti apa? Mungkin aku bisa bantu Al,"
Eva kemudian bergerak menuju tempat di mana tadi Ali berada,
Ali pergi menyusulnya,
"Sesuatu seperti batu permata, bercahaya seperti emas,"
Kata Ali,
"Mustika ular, seperti itu kalau tidak salah perempuan itu menyebut, perempuan dengan kain seperti bersisik berwarna keemasan, dia sangat cantik, sungguh,"
Tambah Ali pula,
"Lebih cantik siapa dibanding Lori?"
Eva bertanya seraya menoleh ke arah Ali di belakangnya yang lantas tergelak,
"Diamlah Kak, aku akan membencimu jika berkata dengan nada seperti itu lagi,"
Kata Ali pula, yang lantas disambut gelak juga oleh Eva,
"Ayolah aku bantu mencarinya, mungkin ada bagusnya juga untuk kegiatan menunggu sore,"
Kata Eva sambil berjalan terus menyusuri taman di halaman belakang rumah sang kakek,
Mustika ular, kenapa ada di rumah ini? Batin Eva merasa begitu banyak hal yang tidak wajar di sekitarnya.
__ADS_1
**--------------**