
"Cepat katakan!"
Zizi bersiap menabok kepala keluntung lagi, saat kemudian Shane segera menahan tangan istrinya,
"Energimu sudah banyak terkuras sejak kemarin honey, tenanglah,"
Kata Shane,
Zizi yang mendengar kata-kata Shane akhirnya mengurungkan niatnya, dan Marthinus menggantikan Zizi menabok,
Plak!
"Astaga, kalian ini mau otakku jadi persegi empat?"
Kesal si kepala keluntung,
"Makanya cepat katakan yang jelas, di kawasan elit mana mereka bersembunyi?"
Martinus rasanya juga jadi ikut tidak sabar,
Fiuuuh,
"Kalian ini mahluk-mahluk ajaib yang darah tinggi semua,"
Kata si kepala keluntung,
"Bagaimana kami tidak darah tinggi, kamu punya informasi kasih tahunya membelit-belit!"
Zizi tambah emosi,
"Berbelit-belit honey, membelit itu ularnya,"
Shane dengan sabar meralat,
Si kepala keluntung tertawa terpingkal,
"Jadi benar... jadi benar.. Hahahaha..."
Si kepala keluntung tertawa seraya melayang menghindari Zizi dan Marthinus agar tidak kena tabok,
Haiiish... Zizi mendesis,
Marthinus lantas mengeluarkan pistol dengan peluru peraknya, ia membidikkan ke arah si kepala keluntung,
"Katakan, atau kau ingin musnah selamanya?"
Ancam Marthinus,
__ADS_1
Si kepala keluntung lantas menatap mereka semua yang ada di sana, satu demi satu si kepala keluntung menatap mereka,
Lalu...
"Perumahan elit itu ada di sekitar sini juga, setahuku, pimpinan utama mereka adalah seorang laki-laki yang belum terlalu tua, mungkin sekitar usia empat puluh tahunan lebih,"
"Tuan Alex,"
Zizi bergumam,
"Tapi aku hanya melihatnya satu kali saja, setelah itu hanya empat anak muda yang ada di sana, tiga laki-laki dan satu perempuan,"
Ujar si kepala keluntung,
"Empat orang anak?"
Zizi bergumam, ia seperti tak merasa asing dengan bayangan itu, bayangan empat orang dari keturunan ular Paman Jaka Lengleng,
"Dua di antara empat itu seusia anak yang menangkapku, ah siapa dia, apa dia anakmu Nyonya?"
Kepala keluntung itu menatap Zizi,
Zizi menghela nafas,
"Bobi, ya... dia, sudah aku sangka,"
Sementara itu, Maria yang melayang ke sana kemari menyisir rumah Tuan Ardi Subrata yang kini diwariskan pada Zizi dan Shane tampak menatap satu sudut di halaman belakang rumah,
Ada satu titik cahaya yang berpendar terang di sana, cahaya keemasan, dan begitu Maria mendekat, ternyata terlihat satu sisik ular.
Maria mengambil sisik ular berukuran kecil itu,.
Entah ular apa yang sisiknya berkilau keemasan seperti itu,
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Paman Jaka Lengleng?
Tapi...
Ah tidak... tidak... Maria menggelengkan kepalanya,
Ia yakin pernah mendengar satu cerita tentang ular bersisik emas,
Ya...
Ia pernah mendengar soal itu, atau bahkan malah pernah melihatnya...
Aduh...
__ADS_1
Maria mengetok kepalanya beberapa kali agar otaknya bisa mengingat dengan lebih baik lagi,
Ingatannya sebagai hantu memang semakin ke sini sedikit memburuk, tapi ia sebagai hantu yang gigih, tentu ia haruslah tetap berusaha mengingat,
Hingga...
Tuiiiiiiing,
Bluk.
Pocong tiba-tiba turun dari lantai dua rumah dan berdiri di sebelah Maria,
Sempat ada acara agak tersandung, tapi untungnya si pocong bisa menjaga keseimbangan,
"Kau sudah tidak basah rupanya,"
Kata Maria,
Pocong mantul-mantul,
"Hantu turis, apa kau tidak bisa membantu hantu kecil?"
Tanya si pocong,
"Hantu kecil?"
"Ya hantu kecil yang diberikan tempat di rumah susun di lukisan Rain, dia tak bisa keluar dan juga dia juga tersiksa di sana."
Tutur si pocong,
"Kenapa?"
Tanya Maria,
"Para hantu-hantu dengan energi kuat sekarang direkrut oleh sekelompok ular, mereka gemar menyiksa hantu lain,"
"Lho, tapi rumah susun itu buatan Rain, bagaimana bisa..."
Sejenak Maria terdiam, ingatannya bekerja,
"Apa baru terjadi semalam?"
Tanya Maria kemudian,
Si pocong pun mantul-mantul,
**-------------**
__ADS_1