The Pandawa

The Pandawa
37. Pulang


__ADS_3

Maka, saat bersiap pulang itu, mereka semua tenggelam dalam berbagai tanya dalam benak masing-masing, karena nyatanya selain masalah pasang tumbal di jalur yang sangat sering terjadi kecelakaan itu, masuk ke alam Nenek buaya putih justru mendapatkan banyak informasi menggantung yang malah membuat sakit kepala.


"Pulang lewat sini gaes..."


Maria tiba-tiba halo-halo dengan suara cemprengnya, semua pun menoleh ke arahnya,


Di sana muncul Marthinus dengan jubah hitam kebanggaannya, yang aromanya melintasi alam manusia dan dedemit raya.


Marthinus membungkuk memberi salam pada para atasannya, Zia memimpin berjalan ke arah para mahluk abdinya itu.


Zizi dan Ali yang mengapit Bobi berjalan di belakang Zia, sambil Ali sesekali waspada melihat ke arah kanan kiri dan belakang takut ada serangan mendadak.


Setelah dekat dengan posisi Maria dan Marthinus, barulah terlihat ada Shane yang berdiri tak jauh di balik sebuah pohon yang sangat besar.


Pohon yang jika berada di alam manusia pasti sudah ditebang karena sangat besar dan tua.


Shane terlihat langsung menyambut kedatangan keluarganya, terutama Bobi.


Ya Bobi pun menghambur ke arah sang Papa,


"Kamu tidak ada yang terluka?"


Tanya Shane lembut,

__ADS_1


Bobi mengusap kepalanya,


"Hanya kepala Pa,"


"Ah kenapa? Siapa yang melakukan? Akan Paman habisi sekarang juga."


Marthinus kepala pengawal setia yang selalu sigap membela yang benar dan bayar langsung bertanya, kesigapannya bahkan lebih cepat dari pelayan restoran ataupun toko pakaian.


"Tuh, Mama, jitak pala Bobi."


Jawab Bobi yang langsung membuat Zizi mendelik ke arah Bobi dan siap menjitak lagi jika saja ia tak melihat suami dan Mamanya menatap dengan tatapan siap memangsa.


"Habisi tuh Tuan Mathinus, mumpung yang melukai kepala Bobi ada di sini, hihihihi..."


Sudah jelas itu Emaknya Bobi, mana si emaknya adalah Zizi pula, bisa jadi hari terakhir hiduplah nanti Paman Marthinus.


Maria cekikikan tak selesai-selesai sambil melayang ke sebelah Zia.


Dan suara cekikikan Maria kemudian disambut suara cekikikan kuntilanak-kuntilanak yang ternyata jumlahnya sangat banyak di atas pohon besar itu.


Suara tertawa mereka yang melengking membuat suasana begitu berisik,


"Haduh, Aunty nih, malah bikin paduan suara."

__ADS_1


Kesal Zizi.


"Sudah... sudah ayok Shane kita keluar dari sini."


Ujar Zia yang lantas mendekati kabut tebal yang tak jauh dari pohon besar tersebut,


Shane terlihat mengangguk, ia mempersilahkan Zia sebagai Ibu mertuanya untuk lebih dulu keluar di dampingi Ali, lantas disusul Maria,


Sementara Shane merangkul Bobi dan mengajak Zizi menyusul kemudian, barulah Marthinus menjaga di belakangnya.


Tepat saat Marthinus yang terakhir masuk ke dalam kabut tebal itu, suara cekikikan kuntilanak-kuntilanak berakhir, karena sandal japit warna ijo kuning milik Nenek jelmaan buaya melayang ke atas pohon besar.


Nenek buaya garuk-garuk rambutnya yang sudah penuh uban,


"Berisik sekali, dasar hantu emak-emak."


Nenek buaya putih kembali masuk ke dalam rumah reyot lalu kembali ke alamnya di mana di sana ada danau dan hutan serta pondok cicilan bersubsidi miliknya.


Nenek jelmaan buaya putih itu menatap danau di depannya,


"Andai mereka tahu, jika banyaknya orang yang bunuh diri adalah karena hotel wisata dikosongkan dan menjadi sarang hantu wanita jahat, pasti mereka akan mengamuk di sini. Ah, untung mulutku buaya, bukan mulutku harimauku."


Gumam Nenek jelmaan buaya putih sambil berjalan mengurut pinggangnya yang kembali encok.

__ADS_1


**-----------**


__ADS_2