
Hantu Maria melayang ke arah Zizi, ia mendekat ke telinga Zizi,
Jika manusia, posisi seperti itu pastilah karena ia akan berbisik untuk bicara sesuatu yang penting dan rahasia,
"Saat hari meninggalnya Kakek Ardi Subrata, aku melihat sesuatu di halaman belakang, seperti ular bersisik emas, tapi hanya sebentar lalu menghilang, aku bahkan masih ingat kilaunya yang keemasan."
Kata Maria, dengan suara biasa keras meskipun ada di samping telinga Zizi,
Tentu saja, hal itu membuat Zizi jadi mendorong Maria menjauh,
"Aunty, telingaku bukan corong!"
Kesal Zizi,
"Lah, siapa yang bilang telinga mu corong,"
Maria balas kesal,
"Aunty bicara dekat telinga itu harusnya bisik-bisik, kalau suaranya tetap keras ngapain di dekat telingaaaaa..."
Zizi jadi esmosi,
Maria garuk-garuk rambut blondenya, ia lantas menatap satu persatu mahluk yang ada di sana, termasuk Bandapati CS,
Nenek Bandapati terlihat nyengir,
"Pantas cucuku bolot, pengasuhnya saja hantu tak jelas,"
Kata Nenek Bandapati,
Tentu itu adalah kata-kata yang sangat menusuk hati sanubari Maria sebagai hantu lintas jaman, dari jaman penjajahan hingga jaman merdeka,
"Tapi Zia sangat menyayanginya Bu,"
Ujar Nenek Retnoasih seolah membela Maria, membuat hantu none Belanda itu sedikit lega,
Meski sebetulnya andaikata pun ia marah pada Nenek Bandapati, tetap saja ia tak berani melakukan apapun pada Nenek naga tua itu,
"Kalau begitu, ada baiknya kita kembali ke Kemang dan mencari apa yang pernah Aunty lihat, bisa saja itu yang memang dicari keturunan Paman Jaka Lengleng,"
Kata Zizi, yang lantas disetujui oleh Shane,
__ADS_1
"Saya juga sependapat,"
Kata Marthinus,
Mahluk campuran vampire dan lycan itu tampak berdiri gagah dalam posisi yang terus siaga,
"Baiklah, kami pun merasa lebih baik kalian pulang ke Kemang, pastikan apa yang mereka cari tak akan pernah mereka dapatkan,"
Kata Nenek Bandapati,
"Tapi Nek, apa ini berarti belum saatnya Rain, Bobi, Aron, Scot dan Gil menghadapi musuh mereka?"
Tanya Zizi akhirnya,
Nenek Bandapati menggeleng,
"Tidak, ini masih jauh cucuku, saat nanti mereka matang, saat energi kami menyatu dengan mereka, saat itulah pastinya peperangan yang sebenarnya akan terjadi,"
Ujar Bandapati,
Zizi lantas teringat lagi mimpi Paman Ziyan dahulu,
Mereka kah musuh yang sebetulnya anak-anak Zizi?
Jika iya, saat ini di mana mereka berada? Batin Zizi bertanya-tanya,
Gil tampak menarik ujung baju Zizi, membuat Zizi memandang ke arah Gil yang kini berada di dekatnya,
"Ma, apa mereka semua Nenek dan Kakek Gil?"
Tanya Gil,
Zizi mengangguk,
"Mereka tidak mengajak Gil jajan, mereka pelit,"
Kata Gil,
Haiiish... Zizi mendesis,
"Mereka tidak memberi kalian uang, mereka memberi kalian kekuatan yang tak dimiliki anak-anak lain,"
__ADS_1
Kata Zizi,
Lalu tampak Nenek Retnoasih melayang menuju Gil di dekat Zia,
Perempuan beraroma Melati yang harum mewangi semerbak itu tampak tersenyum,
Tangannya terulur ke arah kepala Gil untuk mengusapnya dengan penuh kasih sayang,
Namun...
"Ciaaaaat... Ciaaaaat..."
Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh yang disertai datangnya angin yang berhembus dari arah kanan mereka semua,
Seketika semua pun memandang ke arah datangnya angin tak jelas,
Marthinus melompat dengan sigap, begitupun Shane dan diikuti Bobi,
Wuuuzz...
Angin bergulung, tapi dengan mudah di halau Marthinus,
Dan...
"Aaaaaduuuh biyung,"
Terdengar suara mengaduh kesakitan, Marthinus melompat ke arah asal suara, yang kemudian juga disusul Shane dan Bobi,
Sementara itu, Zizi dan yang lain memilih siaga memantau apa yang terjadi, sekaligus juga berjaga apabila tiba-tiba nantinya ada serangan lain yang datang,
"Aduh duh duh... Sungguh malang nian nasibku... sungguh oh sungguuuuh..."
Terdengar rintihan suara nenek-nenek.
"Siapa di sana?!"
Tanya Marthinus dengan suara keras,
Lalu ... (protes kyeh mesti)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1