
"Daddy, Mami sakit..."
Kata si gadis cantik kepada Tuan Alex,
Tampak Alex mendesis, ia sebetulnya ingin melahap si penghianat, tapi...
"Cepatlah Daddy, Mami memintamu datang,"
Kata si gadis cantik itu lagi,
Tuan Alex lantas pelahan turun dan ia tampak berubah menjadi manusia kembali,
Bergegas ia menghampiri putri bungsunya, lalu cepat berjalan keluar ruangan, dan putrinya pun mengikuti,
"Ke mana kakak-kakakmu, Sandy?"
Tanya Tuan Alex pada putrinya yang kini berjalan di belakangnya,
"Kak Daniel ada di rumah, di kamarnya,"
Jawab Sandy,
"Coba kau panggilkan, jangan lupa hubungi kedua kakakmu yang lain, hari ini kalian harus makan malam bersama Daddy, mengerti?"
Tanya Tuan Alex yang sejenak menghentikan langkahnya,
Tampak Sandy mengangguk mengiyakan,
"Jangan khawatir dengan Mami mu, Daddy akan menangani nya,"
Sandy kembali mengangguk, ia sama sekali tak meragukan kata-kata Daddy nya,
__ADS_1
Sebagai anak, ia sangat mengagumi sosok Daddy nya, dan sangat percaya apapun yang dikatakan Daddy, pasti adalah yang paling benar dan paling baik.
Tuan Alex lantas melanjutkan langkahnya menuju kamar sang isteri, sedangkan Sandy akhirnya berjalan ke arah lain menuju kamar Kakaknya,
Ada apa sebetulnya? Kenapa hari ini semua orang-orang Daddy nya dipanggil ke rumah? Apa terjadi sesuatu?
Dan, laki-laki tua itu, apa yang ia lakukan? Apa ia melakukan kesalahan yang sangat berat hingga Daddy nyaris memangsanya? Batin Sandy penasaran,
Gadis berparas cantik itu lantas semakin mendekati kamar kakak ketiganya.
Dibandingkan dengan kedua kakaknya yang lain, Kak Willy, yang merupakan kakak sulung, sementara Kak Frans, kakak kedua, Kak Daniel adalah kakak yang paling perhatian pada Sandy,
Kedua kakaknya itu, bukan hanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, hidup mereka juga terlalu berantakan,
Hampir setiap hari nongkrong di club, dan bersenang-senang dengan para gadis di apartemen mereka,
Entah sudah berapa kali Mami mereka dibuat marah-marah karena kelakukan mereka, tapi sebagai pembangkang, keduanya semakin dilarang, maka semakin bertambah-tambah pula menggila,
Tok... tok... tok...
"Siapa?"
Tanya terdengar dari dalam,
Sandy mengerutkan kening, seolah agak heran kenapa kakaknya harus bertanya siapa, sementara biasanya ia sudah tahu dari jauh,
"Siapa?"
Terdengar kembali tanya itu diulang, Sandy pun akhirnya menjawab,
"Aku Kak,"
__ADS_1
Kata Sandy,
"Oh kau, masuklah,"
Sandy pun lantas meraih handle pintu kamar Kakak ketiganya, lalu membukanya,
Di dalam kamar Kak Daniel terlihat berada di tengah tumpukan banyak buku lama, duduk di atas karpet dengan pulpen di letakkan di sela telinga dan kepala macam tukang bangunan.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanya Sandy heran,
"Sssttttt..."
Daniel cepat menyuruh adik bungsunya untuk diam, dan dari tempatnya duduk, Daniel menarik Sandy agar duduk, lalu menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya.
Sandy terlihat memandangi tumpukan-tumpukan buku di depan sang kakak dengan masih heran,
Ia tak mengerti kakaknya seharian ini di rumah ternyata hanya sibuk berkutat dengan buku-buku yang sepertinya berusia cukup tua,
"Kau mau bantu?"
Daniel menatap adiknya,
Tampak Sandy belum apa-apa sudah pusing,
Haiiish... Daniel mendesis,
"Naga yang kita bangunkan dengan darah kita berempat, aku penasaran kenapa Daddy begitu ingin membangunkannya, dan..."
"Daddy ingin berkuasa, apa kau belum juga memahami?"
__ADS_1
Sandy jadi makin heran dengan kakaknya hari ini yang jadi sedikit lemot,
**--------------**