
Aron menghela nafas, ditatapnya hantu Tania yang kini berada di depannya,
"Tapi aku masih belum mengerti, kenapa kamu bukannya masuk ke galeri di mana lukisan disimpan? Kenapa malah ke sini?"
Tanya Aron bingung,
Tania tampak mengerutkan kening, jelas saja ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba berada di rumah itu dan akhirnya bertemu dengan Aron.
"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti, yang jelas aku melihat sinar keemasan saat aku memanggil-manggil nama Rain,"
Tutur Tania sambil mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum akhirnya ia bertemu Aron,
Tampak Aron pun berusaha berpikir, berandai-andai soal kemungkinan kenapa bisa hantu Tania justeru masuk ke kamar Rain dan bukan masuk ke galeri di mana lukisan-lukisan Rain berada,
Atau...
Paling tidak, harusnya hantu Tania masuk ke rumah Kemang di mana di kamar Rain juga ada beberapa lukisan lain.
"Di mana kamu pertama jatuh?"
Tanya Aron kemudian,
Hantu Tania menunjuk dirinya sendiri,
"Aku?"
Tanya si hantu Tania,
Tampak kemudian hantu Tania kembali berpikir, ingatannya sebagai hantu memang sedikit acak-acakan.
Lalu...
"Aku tadi tidak jatuh, aku keluar dari cermin di kamar mandi kamar sebelah,"
Tutur Tania,
"Ya, itu kamar Rain,"
__ADS_1
Ujar Aron,
"Oh ya, itu kamar Rain, apa dia yang tadi sedang tidur?"
Tanya Tania,
Aron mengangguk,
"Ya sudah jelas itu Rain, siapa lagi yang tidur di kamarnya, semua tidur di kamar masing-masing,"
Hantu Tania lantas terdiam, matanya menatap Aron,
Aron yang ditatap Tania langsung menonyor kepala hantu Tania,
"Tidak usah menatapku begitu,"
Kata Aron tak nyaman,
Hantu Tania cekikikan,
"Kenapa? Kau salah tingkah,"
Aron pun siap menabok kepala hantu Tania lagi andai hantu itu tak cepat menghindar.
Hantu Tania melayang dan duduk di lemari pakaian, masih sambil cekikikan ia bicara pada Aron,
"Kau tahu?"
"Apa? Apa? Mau bahas apa?"
Tanya Aron kesal,
Ehm... ehm...
Hantu Tania berusaha meredakan tawanya, lalu melanjutkan bicaranya lagi,
"Ah tidak... aku rasa akan lebih baik aku tidak ikut bicara, nanti aku bisa disalahkan."
__ADS_1
Kata Tania,
Aron yang mendengar jadi kesal,
"Maksudmu apa? Kamu meledek?"
Tania melayang menyelusuri kamar,
"Tempat ini harusnya sangat aman,"
Gumamnya,
Aron berdiri,
"Baiklah, kau tetaplah di sini, biar nanti Nenek yang mengurusmu,"
Ujar Aron akhirnya,
"Hey! Kenapa begitu? Apa maksudnya?"
Aron tersenyum penuh arti,
"Kau jadi tawanan kami mulai detik ini, kau tak akan bisa ke mana-mana, aku akan pastikan dulu kau bukanlah penyusup yang berpura-pura tersesat masuk ke dalam rumah ini tanpa sengaja."
"Hey! Mana bisa begitu?! Ini tidak adil!"
Kata Hantu Tania.
Tapi, Aron tentu tak peduli, ia hanya ingin memastikan jika hantu Tania tak akan lepas begitu saja, hantu Tania harus tetap berada di dalam penjagaan mereka,
Aron tentu tak mau disalahkan apabila nantinya ternyata hantu Tania pergi tapi malah baru disadari jika ia adalah mata-mata.
Hantu Tania baru akan protes lagi, manakala Aron yang tak mau dengar protes si hantu memutuskan keluar dari kamar dan kemudian menutupnya rapat-rapat.
Tak hanya itu, ia juga menggunakan sedikit kemampuannya untuk memagari kamarnya sendiri agar hantu Tania tak bisa keluar.
Setelah dipastikan aman, Aron berjalan menuju kamar kakaknya, ia ingin tahu, benarkah cermin kamar mandi di kamar Rain adalah pintu ke dunia para hantu juga.
__ADS_1
**----------------**