
"Abah, bunda, Ami ... InshaAllah pekan depan, Ben akan menikah." Kataku, pada seluruh anggota keluarga yang sengaja ku minta berkumpul usai makan malam untuk mengumumkan rencana pernikahan ini. "Mohon doakan Ben." kataku.
"Apa?" Abah bangkit dari duduknya. "Bicara apa kamu, Ben? Menikah? Dengan siapa? Pekan depan? Itu hanya tinggal enam hari lagi. kamu kenapa? Apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu melakukan dosa besar?" tuduh Abah.
"Alhamdulillah enggak Bah. Meski Ben bukan anak yang baik dan sering membuat Abah marah, tapi Ben masih tahu batasan-batasan." Kataku
"Lalu apa maksudnya?" Abah melotot. "Kenapa semuanya tiba-tiba? Apalagi kalau bukan kamu sudah melakukan dosa. Iya, kan? Jangan mengelak kamu. Ngaku!" Abah sudah naik pitam, ia hendak mengambil ikat pinggangnya.
"Abah tenang dulu. Kalau Abah sabar mau mendengarkan ceritaku, maka akan Ben beritahu semuanya. Tapi kalau Abah tak mau mendengarkan, maunya langsung ngamuk dan main kekerasan. Ben tak akan memberitahu Abah dan Ben nggak akan tinggal diam dikasari. Ben nggak salah, Bah. Tidak pantas diperlakukan kasar." kataku. Berusaha untuk tenang meski sebenarnya kesal juga dengan cara Abah menanggapi. Aku tahu, Abah dan yang lainnya pasti kaget sebab ini semua terlalu tiba-tiba, tapi aku tak suka langsung di judge seperti itu seolah-olah aku memang anak yang nakal. Padahal Abah tahu bagaimana aku sehari-hari. Kalau salah satu anak Abah pernah mengecewakannya, bukan berarti yang lain juga begitu.
"Ben, ceritakan semuanya. Kenapa tiba-tiba begini, nak." pinta Bunda.
"Baiklah Bun. Mungkin, Abah dan yang lainnya masih ingat tentang teman Ben yang penha datang ke sini. Namanya Reni, ia dokter muda yang tengah menjalani pendidikan. Ben akan menikah dengannya. Pernikahan ini Ben lakukan karena ia sudah hamil." kataku.
__ADS_1
"Apa? jadi ada perempuan lagi yang hamil. Benar-benar kalian itu ya. Dasar anak setan, memang kalian itu anak durhaka yang tak berguna. Sudah dibesarkan sebaik mungkin malah ini yang kalian lakukan. Aku beri kalian makanan halal tapi tetap saja kalian besar jadi iblis. Menyesal aku sudah membesarkan kalian. Kau dan abangmu sama saja. Membuat malu nama keluarga!" Abah naik pitam, ia baru saja berhasil mencabut ikat pinggangnya dan hendak dicambukkan padaku, tapi dilarang oleh bunda.
"Bah, sabar dulu. Tunggulah penjelasan dari Beni. Biarkan ia bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang ia bersalah, beri ia kesempatan untuk bertaubat. Jangan langsung main kasar, Abah sudah janji kan. Apa belum cukup Sigit yang jadi korban abah. Kalaupun anak-anak salah langkah, harusnya kita berdua sebagai orang tua sama-sama introspeksi diri, barangkali karena dosa kita makanya anak-anak seperti itu!" kata bunda.
"Halah, banyak omong kamu. Minggir!" sekali pukulan dari Abah langsung membuat bunda tumbang.
"Astagfirullah. bunda!" aku dan Ami langsung mengejar tubuh bunda yang sudah terlanjur jatuh
"Bangkit kamu anak sampah!" Abah menarikku paksa dari bunda, tanpa memberikan kesempatan untuk bicara, Abah langsung membabi buta. Memukuli aku hingga badanku terhuyung -huyung.
Bruk. Abah terjatuh ke lantai. Bukannya sadar, Abah makin meradang sebab merasa kalau aku melawan. Lagipula siapa yang tak akan melawan kalau terus dipukuli padahal tidak bersalah.
"Memang anak setan kamu, Ben!" teriak Abah. Ia memgataiku dengan sumpah serapah yang membuat telinga ini panas. "Kamu punya ayah yang alim seperti aku tapi kamu tak bisa mencontoh aku. Kamu dan abangmu benar-benar turunan ibumu, pendosa. Seperti setan kalian!"
__ADS_1
"Bah, cukup!" kataku. "Kalau Ben anak setan berarti Abah setan besarnya, bukan Bunda. Sebab kelakuan Abah yang menunjukkan seperti makhluk jahat itu, sementara Bunda tak begitu. Bunda masih bisa bersikap seperti manusia normal, yang kesetanan itu Abah!"
"Apa katamu. Durhaka kamu. Pantas kamu di neraka. Lihat ini, lihat hasil didikan kamu." Abah menunjuk Bunda. Kalau saja kamu nurut semua kataku, anak-anak pasti akan jadi lebih baik. Tapi lihatlah, anak-anak jadi pendosa semuanya. Persis seperti ibunya yang suka membantah perintah suami. Pantas kamu dan anak-anak di neraka!" bentak Abah.
"Kalau kami masuk neraka, Abah juga harus masuk neraka. Biar ke neraka semuanya. Kapan perlu akan Ben beritahu ke semua orang bagaimana Abah sebenarnya!" aku menantang Abah, akan menceritakan kekasarannya pada keluarga pada jamaah Abah. mendengar itu, nyali Abah agak ciut. "Asal Abah tahu, Ben nggak pernah menyentuh anak orang seperti yang Abah katakan. Ben menikahinya hanya untuk membantunya. Menutup aibnya. Persis seperti perintah Abah kepada Yohana. Ben ingin merasakan apa yang Yohana rasakan sebagai balasan sebab Ben tak berhasil melindunginya dari kezaliman keluarga kita. Sekarang Abah puas, sudah menghukum Ben atas kesalahan yang tidak Ben lakukan. Abah yang sudah zalim kepada Ben, kepada kami semua!" kataku, dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah seberdosa itu kamu, masih bisa mengelak!" Abah melotot.
"Abah nggak tahu apa yang terjadi, kenapa dengan tega bisa menuduh Ben melakukan semua itu? Harusnya Abah berprasangka baik sama Ben. Dengarkan dulu ceritaku. Jangan langsung main pukul. Itu namanya zalim. Manusia diberi pikiran untuk bisa menentukan sikap yang baik dan yang benar. Bukan seperti ini!" aku ikut berang.
"Halah, banyak omong kamu. Cuih!" Abah meludah. "Kalau sudah salah ya salah. Kamu pasti diajari ibumu untuk berbohong padaku, iya, kan. Supaya kamu bisa lepas dari hukuman seperti abangmu. Kalian itu pendosa, tapi ibumu bukannya menyadari malah melindungi anak-anak nya!" bentak Abah. Cacian dan makian juga diucap Abah pada bunda. Telingaku sangat panas. Aku kesal. Hanya bisa mengalah karena berdebat dengan manusia diktator satu ini hanya akan membuat lelah saja. Ia selalu merasa benar. Selalu suci. Tak pernah mau mendengarkan cerita kita. Dengan cepatnya ingin menghakimi.
Aku memutuskan kembali ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat. Tak tahan rasanya melihat laki-laki yang ku panggil Abah itu. Kenapa ia begitu kejam.. Benar-benar tak punya belas kasih meski itu pada darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Bagiku, Abah adalah gambaran seorang ayah yang gagal. Menyelesaikan masalah selalu dengan kekerasan. Entah apa masalah hidupnya. Tapi ia selalu menjadikan kami tumpuan kesalahan. Abah tak pernah mencoba introspeksi diri.