
Pagi ini, aku telah sampai di bandara Internasional Soekarno Hatta diantar oleh Riko. Sebelum masuk untuk check in, Riko menyelipkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal ke tanganku. Aku menolak sebab sudah cukup apa yang diberikan mereka padaku. Dengan Reni memberi tahu dimana Yohana saja aku sudah sangat bersyukur. Tapi kata Riko, aku akan membutuhkannya nanti selama perjalanan karena memang kami gak bisa memastikan apakah semuanya akan lancar atau ada hambatan. Agar tak perlu berdebat panjang, amplop berisi uang itu akhirnya aku ambil.
Perjalanan kali ini sama dengan sebelumnya. Ke Sumatra untuk mencari Yohana. Aku sengaja berangkat penerbangan pagi agar sampai di Bandara Minangkabau tak terlalu siang. Waktu yang aku miliki tak banyak sebab di rumah Ami pun sangat membutuhkan aku. Tak mudah mengahandle Abah meski ada yang membatu Ami. Reni dan Riko tak jadi menginap di rumah kami, tapi digantikan oleh mbak Lila. Meski begitu mereka tetap standby, siap menolong kapanpun diminta.
Perjalanan dari Jakarta menuju Padang terasa lama sebab tak sabar bertemu seseorang. Sampai di Padang, aku dijemput oleh mobil carteran yang sudah dipesankan Riko. Ia akan mengantar sampai ke pulau Ikan tempat Yohana tinggal sekarang. Dari bandara, kami harus melewati perjalanan darat selama dua jam, lalu ke pulau naik kapal satu jam. Mobil carteran juga naik ke kapal penyeberangan. Dari sana kami harus melewati perjalanan darat selama beberapa menit untuk sampai di tempat yang dimaksud.
Pulau ini sebenarnya tak terlalu besar, penghuninya tak sampai seratus KK. Sampai di sana, tak sulit untuk menemukan Yohana, apalagi ia tak terlalu fasih berbahasa daerah.
"Yohana." Kataku, saat melihat sosoknya tengah berjalan menggendong nampan berisi udang yang dikeringkan.
Perempuan itu berhenti. Menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat terkejut, tapi ia bisa menguasai diri sehingga adegan nampan seperti di sinetron-sinetron tak terjadi. "Ben!" Katanya. "Ka ... kamu ada disini? Bagaimana kamu bisa sampai ke sini, Ben?" Tanyanya, masih dengan tatapan tak percaya.
"Ya Han, ini aku. Aku sekarang di sini untuk menjemput kamu. Aku mencari kamu kemana-mana Han. Kenapa kamu pergi tanpa mengucapkan apapun. Kamu benar-benar sukses membuatku hancur, Han!" Kataku. Ahhh aku benar-benar laki-laki yang cengeng. Tampang saja yang sangar, tapi hatinya mudah tersentuh.
__ADS_1
"Kamu tahu aku darimana?"
"Reni yang mengatakannya."
"Oh, mbak Reni." Yohana yang sempat maju langsung mundur beberapa langkah. "Ben, maaf, aku sibuk. Tak bisa ngobrol berlama-lama. Aku harus pergi " katanya, seperti hendak menghindar, tapi dengan cepat aku meloncat, menghalanginya pergi. "Ben, minggir lah. Banyak yang harus aku kerjakan. Aku tak bisa berlama-lama berbincang denganmu."
"Han, Tolong jangan menghindari aku lagi. Kamu tak tahu bagaimana menderitanya aku. Han, aku baru melewati ujian yang sangat berat, bunda meninggal." Kataku
"Sebelum meninggal bunda memintaku mencari kamu. Ia ingin meminta maaf darimu, Han. jadi tolong pulanglah." Kataku. "Aku dan Reni sudah tidak ada hubungan apa-apa. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Kami sudah bercerai dan ia sudah merelakan jika aku kembali ke sini. Bahkan ia yang memintaku untuk membawa kamu kembali. Jadi tolong ikutlah denganku, Han." Pintaku.
"Aku nggak bisa, Ben. Di sini adalah tempatku. Hidupku yang baru. Aku sudah nyaman di sini. Pak Hadi dan istrinya, pemilik rumah itu telah mengangkat ku menjadi anak angkat mereka. Mereka sudah melakukan banyak hal untukku. Aku tak bisa pergi begitu saja. Lagipula kamu terlambat, Ben. Aku sudah dipinang orang!" Yohana menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Astagfirullah, kamu ... tega kamu Han!" Kataku yang langsung naik pitam saat tahu Yohana sudah dilamar orang dan orang tersebut adalah anak kandungnya pak Hadi dan Bu Hadi, orang tua angkat Yohana. "Nggak, aku nggak bisa terima kenyataan ini, Han. Ini nggak mungkin. Kamu harus membatalkan pertunangan ini. Kamu tak boleh menikah dengan orang lain selain aku!" Kataku.
__ADS_1
"Apa maksudnya, Ben. Apa kamu lupa, haram hukumnya melamar seseorang yang sudah dilamar orang lain. Lagipula aku tak bisa menghianati Keluarga itu. Mereka sudah sangat baik padaku dan akan memberikan kehidupan yang tak kalah baik dibandingkan sebelumnya. Hidupku sudah sangat melelahkan Ben, aku ingin hidup tenang di sini."
"Aku tak peduli, aku akan tetap membawa kamu pulang ke Depok, aku tak akan pernah meninggalkan kamu lagi!" Kataku.
Kami terlibat perdebatan hingga tiba-tiba seseorang datang. Perempuan paruh baya yang disapa oleh Yohana ibu. Ia adalah Bu Hadi, ibu angkat Yohana. Aku diperkenalkan pada perempuan yang mengaku telah menolong Yohana sebagai saudaranya dari pulau Jawa. Bu Hadi menyambut kedatanganku dengan baik sebab ia tak tahu bahwa aku dan Yohana saling mencintai, yang ia tahu keluargaku lah yang mengasuh Yohana sejak masih kecil.
"Mari, masuklah. Tunggu sebentar ya." Bu Hadi masuk ke dalam, lalu ia keluar membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan panganan tiga piring. Ada kacang rebus, gorengan dan pisang goreng. Dengan sangat ramah Bu Hadi menyuruhku menyicipi hidangannya, lalu bertanya-tanya tentang aku dan Yohana saat masih kecil. "Kami ... meskipun berkenalan dengan Yohana masih baru tapi sangat menyayangi Yohana. Selain mengangkatnya sebagai anak kami juga ingin menjadikan Yohana sebagai menantu. Ia akan jadi sumber kebahagiaan baru di keluarga kami sebab akan menjadi istri untuk anak tunggal kami." Ucap Bu Hadi, sementara Yohana hanya duduk diam sambil menundukkan kepalanya. "Oh ya, nak Ben malam ini bisa menginap di sini. Tinggallah beberapa hari sampai pernikahan Yohana dan anak kami Rudi berlangsung." Katanya.
Sebenarnya aku ingin segera membantah pernyataan Bu Hadi. Tapi melihat ibu itu bicara dengan penuh semangat membuatku berpikir untuk memotongnya. Aku butuh kepastian dari Yohana sebelum memutuskan menjelaskan apa tujuan kedatanganku ke sini. "Tak perlu Bu, saya bermalam di penginapan yang ada di pintu masuk pulau. Masih ada sopir dan mobil carteran juga, tak enak kalau harus berpisah dengan bapak supir yang baik hati " kataku. Memang, sudah ku putuskan untuk tak memulangkan mobil carteran haru ini, akan ku tahan agar kami bisa pulang bersama-sama.
"Oh begitu, baiklah kalau begitu." Kata Bu Hadi dengan ekspresi agak kecewa.
Aku minta izin untuk di antar Yohana. Awalnya ibu angkatnya agak keberatan, tapi karena aku mendesak akhirnya ia memberi izin. Tak lupa ia mengingatkan Yohana agar segera pulang.
__ADS_1