
Pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur dari mulutku, seolah tak memberi kesempatan padanya untuk bicara. Seperti dahulu, ia hanya diam melihat sambil tersenyum, hingga aku tersadar terlalu banyak bicara.
"Maaf ya Han, aku lagi-lagi bicara terus sampai kamu tak bisa berkata-kata selain diam. Kamu itu tak pernah berubah ya, akupun begitu. Hanya status saja antara kita yang berubah." aku tertawa miris. "Han, sekarang giliran kamu yang bicara. Tak perlu sungkan, bicaralah!" kataku lagi.
"Apa yang harus aku katakan, Ben? Aku hanya kaget dengan keberadaan kamu di sini. kenapa, Ben? Oh aku tahu, ini pasti hanya sebuah kebetulan belaka." ia tertawa kecil.
"Siapa bilang? Aku ke sini untuk mencari kamu, Yohana." kataku, tentu saja dalam hati. "Han, bunda menyuruhku mencari kamu, bunda dan seluruh keluargaku ingin meminta maaf atas perlakuan mereka padamu "
"Nggak ada yang salah Ben, aku malah bersyukur dirawat dan di sekolahkan oleh Abah dan Bunda."
"Han, sekarang semuanya sudah berubah."
"Ya, aku tahu Ben,"
"Abah sudah menyadari kesalahannya, sudah rutin konsultasi ke psikolog dan psikiater untuk mengatur emosinya. Bunda juga sudah lebih bisa bersikap jika Abah sudah keterlaluan. Andai Abah berubah sejak dulu, ya Han. Mungkin kita tak akan ...."
"Ben, sudah siang, aku harus segera membereskan kamar kamu, setelah itu aku masih punya banyak pekerjaan lainnya." kata Yohana, ia segera mengambil sapu dan kain lap, mulai membersihkan kamarku.
"Han, sejak kapan kamu bekerja di sini? Apa hidup kamu baik-baik saja?" tanyaku, sambil mengikuti Yohana.
"Apa yang ingin kamu ketahui, Ben? aku baik-baik saja, aku harus bekerja untuk melanjutkan hidupku. Aku harus menafkahi hidupku dan keluargaku." katanya.
"Han, apa ia laki-laki yang baik? Apa ia memperlakukan kamu dengan baik? Seperti apa kehidupan yang kamu lalui?" lagi-lagi pertanyaan itu hanya bisa aku utarakan dalam hati.
Aku melihat dengan mata kepalaku bagaimana laki-laki itu memperlakukan Yohana, sudah jelas ia tidak baik. Laki-laki kasar yang tak punya hati karena membiarkan Yohana mengangkat barang sebanyak itu sendiri.
"Han, nanti boleh aku main ke rumah kamu?" tanyaku.
"Hah? Untuk apa Ben? Bukannya kamu harus bekerja?" katanya. "Oh ya, kata pak Zainal kamu sudah punya istri, benar Ben?"
"Ya Han, aku sudah menikah tapi ...." Yohana memotong pembicaraanku.
__ADS_1
"Oh, lalu dimana ia? Ayo kenalkan padaku, pasti akan sangat menyenangkan bisa menjadi temannya. Seperti apa ia Ben?"
"Kamu kenal ia kok, Han. Kalian pernah bertemu. Kalau kamu ingat perempuan yang waktu itu datang ke rumah, yang pakai mobil
..."
"Oh, dokter Reni itu?"
"Nah, benar Han."
"Oh. Dia ya Ben. Ternyata kalian benar-benar sepasang kekasih ya."
"Enggak Han, kami hanya berteman. Ia datang waktu itu hanya untuk memastikan aku baik-baik saja."
"Begitulah? lalu sekarang dimana ia Ben?"
"Tidak ikut Han, ada banyak hal yang belum bisa ku cerita sekarang. Yang jelas ia masih harus menunggu kelahiran."
Melihat kepergian Yohana membuat jantungku berdebar. Aku sangat senang sebab akhirnya kami bertemu. Setidaknya setiap pagi ia akan datang ke sini untuk membereskan kamarku, berarti tiap pagi kami punya kesempatan untuk berbincang-bincang.
"Han, entah kenapa, aku semakin tak rela melepaskan kamu pada laki-laki kasar itu. Aku tak rela, Han.
Tuhan, maafkan jika aku harus jujur menyatakan isi hatiku bahwa aku ternyata masih mencintainya dan berharap bisa memilikinya lagi." aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan, berusaha meredam perasaan ini, tapi ternyata tak mudah.
***
[Ben, aku pendarahan.] pesan dari Reni.
Khawatir terjadi sesuatu padanya makanya aku segera menelepon, yang mengangkat ayahnya. Reni sudah dibawa ke rumah sakit, syukurnya kandungannya masih bisa diselamatkan.
[Bagaimana kejadiannya?] tanyaku.
__ADS_1
[Ia kebanyakan melamun jadi jatuh dari tangga. Untungnya hanya tiga anak tangga, entah bagaimana kalau sampai jatuh ke bawah, mungkin bayinya tak bisa ditolong.] kata Ayah Reni dari pulau Jawa.
Aku hanya bisa meminta tolong agar mereka lebih memperhatikan Reni, sayangnya aku tak bisa berbincang dengannya sebab kata ayahnya ia masih bedres.
Setelah telepon ditutup, rencananya aku ingin masuk ke kamar, tapi tak jadi saat mendengar suara seseorang marah-marah.
Pak Zainal bicara pada Yohana dengan nada tinggi, entah apa penyebabnya, tapi yang jelas pak Zainal terlihat kesal sekali.
"Maaf pak, kalau saya ikut campur. Boleh saya tahu ini ada apa ya?" tanyaku.
"Ahhh mas Ben, enggak apa-apa mas, cuma kesal saja ini, mbak Yohana janji mau bayar hutangnya tapi sampai sekarang nggak dilunasi juga. Disuruh bayar pakai cara lain malah enggak mau." kata pak Zainal.
"Hutang? Kalau saya boleh tahu, berapa hutangnya Yohana?" tanyaku lagi.
Yohana tampak tak nyaman, ia melarang pak Zainal memberitahu tapi penjaga mess itu tetap buka mulut.
"Sebelas juta, mas. Sudah dengan bunganya " kata pak Zainal.
"Oh, lumayan juga ya " aku menganggukkan kepala. "Sebentar ya." aku segera masuk ke kamar, memeriksa koper yang didalamnya ada tas kecil berisi uangku. Masih ada sisa tiga juta rupiah. Ku ambil dua juta, lalu berlari keluar menuju pak Zainal dan Yohana. "Pak, saya boleh nyicil hutangnya Yohana? Dua kali bayar, tidak lama kok. Akhir bulan depan saya lunasi." aku menyerahkan dua juta tadi.
"Duh, kalau dibayar bulan depan jadi dua belas juta mas. Kan pakai bunga. Sejuta sebulan." katanya.
"Ya, enggak apa-apa pak. Bukan depan saya bayar sepuluh juta. Lunas. Sekarang urusan hutangnya tidak dengan Yohana lagi ya pak, tapi dengan saya." kataku.
Pak Zainal setuju dengan kesepakatan yang kami buat, ia tersenyum puas mendapatkan uang dua juta, lalu berlalu meninggalkan kamu.
"Maaf Ben, uang kamu harus terpakai. Tapi aku janji, kalau sudah ada uang harus aku ganti." janji Yohana.
"Ahhh apa sih Han, masa sama saudara sendiri begitu. Kita masih saudara kan?" tanyaku. "Ya walaupun kamu enggak mau lagi jadi adik amgkatku, tapi kamu tetap ibunya Alif, kakak iparku." aku melempar senyum padanya. Ia hanya menatap sendu.
Yohana ... seperti apa kehidupan yang kamu hadapi sekarang? Aku tahu gaji cleaning servis seperti kamu harusnya cukup untuk biaya hidup kamu sendiri yang terbiasa hidup sederhana. Lalu kenapa kamu bisa terlibat hutang, apalagi berbunga seperti itu? Pasti kamu sangat terjepit sekali. Han, apakah ada kesempatan untukku membuatmu bahagia?
__ADS_1