
Saat perekonomian kami masih belum stabil, Genta menawarkan aku untuk bekerja di lembaga bantuan hukum miliknya. Memang sekarang kantornya sedang berkembang pesat, kliennya sedang banyak-banyaknya. setelah berhasil memenangkan kasus -kasus besar maka namanya pun semakin naik. disaat bersamaan, om Bili juga menawarkan agar aku mau menjadi konsultan hukum untuk perusahaan negara yang dipimpin langsung oleh adiknya om Bili. Rupanya ia ingin mempersiapkan pengganti adiknya. Tawaran-tawaran itu bagaikan menemukan air di tandusnya Padang pasir. Aku membutuhkan pemasukan namun tak bisa juga menyerah begitu saja terhadap usaha sanjai ini.
Untuk memutuskannya, aku berdiskusi dengan Yohana. Kami mengkaji sisi positif dan negatifnya. Hingga akhirnya dihasilkan keputusan bahwa aku akan mengambil tawaran ayahnya Reni. Sebab untuk bergabung dengan kantor Genta, aku harus lanjut kuliah advokasi terlebih dahulu dan itu berarti butuh dana keluar juga. Sementara untuk sanjai akan diurus oleh Ami dan Yohana. Aku akan tetap membantu saat waktu luang.
"Kamu jangan khawatir sayang, kami juga akan berjuang untuk sanjai ini agar bisa kembali mencapai omset tinggi seperti awal dirintis." janji Yohana. "Kamu harus konsentrasi dan semangat bekerjanya ya!" ia mengecup pipiku.
***
Selama hampir satu tahun ini; aku dan Yohana benar-bemar bekerja keras. Ami juga ikut membantu di sela-sela kesibukannya di bangku kuliah. Hasil dari kerja keras ibu, akhirnya aku diangkat menjadi kepala bagian. Dipercaya langsung untuk turun ke lapangan melakukan pembinaan pada masyarakat. Bahkan om Bili menjanjikan jika karirku terus naik atau minimal stabil maka dalam waktu lima tahun nanti bisa diangkat menjadi kepalanya menggantikan pimpinan lama. Tentu saja ini jadi penyemangat untukku. Akhirnya aku menemukan jalan juga untuk karirku, meski awalnya dibantu om Bili.
Sementara itu Yohana, ia pun berhasil menaikkan usaha sanjai kami. Ia bahka terus melakukan inovasi sehingga produk kami menjadi yang direkomendasikan untuk jenis oleh-oleh dari Sumatra Barat. Yohana kini tak bekerja sendiri, ia sudah bisa mempekerjakan sepuluh orang pegawai untuk bagian produksi, marketing dan tentunya logistik. Untuk mendukung usaha Yohana, aku kini membeli rumah tetangga kami. Rumah orang tuaku direnovasi. Kami memperluas agar tempat produksi semakin luas hingga bisa menghasilkan banyak karya.
***
__ADS_1
Akhir pekan ini aku sengaja tidak kemana-mana, sibuk dengan urusan kantorku. Akan ada promosi jabatan beberapa bulan lagi. Seperti instruksi dari om Bili, aku harus meningkatkan kinerja kerjaku. Sementara itu, produksi sanjai hari ini juga diliburkan karena Ami dan Yohana sedang berkunjung ke rumah mbak Lila. Katanya mereka mau rujakan, sekaligus mau membicarakan persiapan pernikahan Fuji dan Genta.
Belum sampai satu jam mereka pergi, Yohana sudah pulang. Ia kembali sendiri saja. Wajah Yohana tampak muram. Ia hanya menyapa seadanya lalu berlalu ke kamar. Aku yang merasa sikap Yohana aneh segera menyusulnya ke kamar.
"Kamu kenapa sayang? Apa ada masalah? Kenapa tiba-tiba menangis?" tanyaku, sambil mengusap pelan kepalanya. Berusaha menenangkannya agar tak menangis lagi. "Ami mana? Kenapa kamu pulang sendiri? Kalian nggak berkelahi, kan?" tanyaku. Bermaksud agar ia buka mulut karena aku tahu Yohana dan Ami tak mungkin bertengkar. Mereka benar-benar saling menyayangi. Hubungan saudara ipar yang sangat dekat sekali.
"Ami masih di rumah mbak Lila, mereka akan pergi ke toko kain menemani Fuji untuk membeli gaun pernikahan." Kata Yohana.
"Lho, kenapa kamu nggak ikut? Apa jangan-jangan mereka nggak ngajak kamu makanya kamu nangis? Benar begitu? Kalau iya, aku akan memarahi Ami dan Fuji. Berani sekali mereka meninggalkan istriku yang cantik ini hingga menangis."
"Lalu kenapa, sayang?"
Sesaat Yohana diam. Ia tampak sedang menarik nafas, mengatur emosinya. "Mbak Lila hamil." Katanya, dengan suara amat pelan, nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Hamil? Oh, Alhamdulillah kalau begitu. Berarti Alif akan punya adik. Bukannya itu berita bagus, lalu kenapa menangis sayang? Ya wajar tho mbak Lila mau punya bayi lagi, kan sudah halal sama mas Yanuar." Kataku, sambil merangkul Yohana.
"Yang ...." Ia agak menjerit. "Bukan masalah itu. Tapi kan kita duluan yang menikah, lalu kenapa mbak Lila yang hamil duluan? Harusnya kan ... aku," ujarnya dengan suara amat pelan.
Kini giliran aku yang terdiam. Benar juga. Kami yang menikah duluan tapi kenapa mereka yang dianugerahkan anak terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba aku ingat, yang namanya anak itu kan hak prerogatif Allah, jadi ya kita hanya bisa berusaha, berdoa dan pasrah. Karena nggak ada aturannya siapa yang duluan maka ia yang akan mendapatkan terlebih dahulu. Aku mengingatkan Yohana tentang itu. Juga tentang hikmah belum memiliki keturunan meski sebenarnya aku pun kepikiran. Salah satu tujuan kami menikah ya untuk memperoleh keturunan dan sebenarnya aku sangat ingin segera punya anak. Membayangkan saja rasanya sangat menyenangkan sekali, apalagi kalau Tuhan benar-benar mempercayai kami memiliki anak-anak yang mirip denganku atau Yohana.
Tiba-tiba saja bibirku refleks tersenyum membayangkan bayi mungil yang hadir di keluarga kecil kami. Bayi itu akan jadi sumber kebahagiaan kamu, juga jadi semangat untuk terus berusaha dan berubah menjadi lebih baik lagi. Ya Allah ... ingin punya anak. Aku menjerit dalam hati.
"Bisa saja Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk kita. Misalnya, Tuhan tahu kita sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Mungkin kita diberi waktu menyelesaikan ini semua. Atau Tuhan merasa sekarang bukan waktu yang tepat, jadi tunggu saja. Entah apa alasannya, yang jelas itulah yang terbaik. Jadi jangan berkecil hati, apalagi sampai sedih karena orang lain mendapatkan nikmat keturunan. Bagiku, kita sudah menjadi suami istri saja sudah sangat bersyukur."
"Apalagi ditambah punya anak, kan?"
Aku kembali diam. Mencoba memilih kata yang tepat. Masalah seperti ini adalah hal yang sangat sensitif. Begitu yang aku tahu dari pengalaman orang-orang yang ku kenal. Orang yang baru Menikah, sebelum punya keturunan akan deg-degan menanti Allah titipkan anak. Padahal banyak juga yang disuruh menunggu hingga bertahun-tahun. "Sayang, kamu tahu, kan, Tuhan pasti akan memberi kita keturunan di saat yang tepat. Yakini saja itu. Kamu harus enjoy menjalani ini semua karena kalau kamu stress malah akan sulit punya keturunannya." Kataku
__ADS_1
"Tapi," ia masih sangat resah. Terlihat betul kalau sebenarnya belum ikhlas dengan kenyataan ini. Ia ingin segera memiliki, tapi menyadari kelemahannya. Sebagai makhluk hanya bisa menanti kapan Tuhan memberikan.
"Sudah, nggak ada tapi-tapi. Sekarang istirahat saja. Jangan pikirin apapun ya!" Pintaku padanya. Yohana menurut, ia pun berlalu ke kamar. Setelah itu aku yang kepikiran. Anak, ya, aku juga menginginkannya.