Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Marah


__ADS_3

Motor tua itu ku pacu dengan kecepatan tinggi. Ada banyak amarah di dada ini dan tak bisa ku tahan lagi. Aku harus mengeluarkannya karena ku pikir hanya dengan cara inilah siksaan dalam dada ini bisa berhenti. Sampai di depan pemakaman, aku langsung meloncat dari motor. Tak peduli motornya sampai rubuh karena standarnya tak benar-benar berdiri dengan sempurna. Setengah berlari aku menuju makan bunda, Abah dan bang Sigit.


"Kalian benar-benar ya. Aku sudah tak peduli dengan dosa. Aku bahkan sangat marah saat ini. Yohana ... apa salahnya pada keluarga kita? Tak ada. Ia hanya sial saja diangkat menjadi anak angkat, oh tidak, maksudnya menjadi pembantu gratisan. Setelah semua kebaikan yang ia lakukan tapi begini balasan yang kalian berikan. Kalian tega menghancurkan hidupnya hingga akhir. Ia benar-benar total menderitanya!" Aku berteriak di depan makam orang tua dan abangku. Aku tak peduli kalau ini sangat tidak sopan karena pikiranku benar-bemar kacau. Yang ada di benakku hanya melampiaskan semuanya dengan memaki langsung di hadapan pelaku, yaitu di depan makam mereka.


"Kalian tahu, berapa besar harapannya memiliki anak. Sangat besar sekali, tapi ini balasannya. Kalian tega!" Teriakan ku kini di tambah tangisan.


"Bunda, Abah, bang ... lupakan tentang kebahagiaan aku, ini tentang Yohana saja. Kenapa, kenapa harus dia? Kalian benar-benar jahat. Bahkan setan saja tak begitu. Tapi kenapa kalian tega? Kenapa?"


"Sekarang aku harus bagaimana? Aku benar-benar malu padanya. Bahkan untuk melihatnya saja aku tak sanggup. Aku tak tega melihatnya menderita. Kenapa kalian begitu tega? Kalau mau menghancurkan hidup orang lain, hancurkan hidup anak-anak kalian saja. Masih ada aku dan Ami, kenapa tidak kami saja agar kalian mudah mendapatkan maaf. Tapi kenapa harus anak yatim piatu yang seumur hidupnya tak bisa merasakan kebahagiaan. Kenapa?"


Kini, aku mencicit, aku benar-benar gemetar membayangkan kejahatan bunda. Perempuan yang dibesarkan dengan kasih sayang itu ternyata berhati dingin. Tega menghancurkan hidup Yohana!

__ADS_1


"Bunda bahkan lebih jahat daripada Abah. Bunda lebih kejam, bunda lebih zalim! Kamu juga bang. Dosa kamu, kenapa harus Yohana yang menanggungnya. Kenapa, bang? Kamu laki-laki, masalah yang kamu buat sendiri harusnya kamu tanggung jawab. Bukannya lepas tangan seperti ini. Pengecut kamu, bang! Matilah kalian di neraka!"


"Aaaaaaaaa ... Kenapa?" aku meraung-raung, menangis sejadi-jadinya. Tak peduli dengan sekitarku. Satu sisi begitu marah, ingin mengumpat lebih keras lagi, tapi satu sisi tak bisa sebab mereka Keluarga yang aku kasihi. Lagipula mereka sudah tiada, aku tak bisa menuntut mereka di sini, tapi tak sanggup juga menuntut mereka di akhirat nantinya.


"Aku akan menanggung semua derita ini sendiri. Semoga dengan begitu, Yohana bisa memaafkan aku." Kataku. Sambil menyeka sisa air mata.


"Bunda, Abah, bang .... Maafkan aku. Maaf. Aku sebenarnya sangat menyayangi kalian, makanya aku sangat kecewa dengan kenyataan yang sudah kalian lakukan. Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Aku sangat kecewa. Aku takut membayangkan semua ini. Aku ...." Tak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan. Hanya kekecewaan yang terasa. "Maafkan aku sudah memaki. Semoga kalian tenang di sana. Aku tak tega bila kalian harus masuk neraka." Kataku.


***


"Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua dosa ini. Apakah aku harus membebaskan kamu? Apapun yang kamu inginkan, aku akan memberinya, Han. Rumah ini, semua harta Abah dan Bunda, bahkan pendapatanku, akan ku setorkan semuanya untuk kamu. Silakan minta apa saja, Han. Akan ku berikan untuk menebus semua kesalahan abah, bunda, bang Sigit, keluargaku. Katakanlah Han." Pintaku pada Yohana, sambil berlutut di hadapannya. "Han, bicaralah. Bahkan kalau kamu minta berpisah, pun, aku akan berikan kebebasan yang kamu mau itu." Bukannya menjawab, Yohana malah menangis. "Han, maafkan aku, tapi tolong jangan menangis seperti itu." Pintaku, sambil menarik pelan tangan Yohana yang menutupi wajahnya. "Aku sadar, kesalahan kami sudah terlalu banyak, bahkan aku malu Han harus berhadapan dengan kamu seperti ini. Aku tak lagi punya harga diri. Aku hancur-hancuran Han mengetahui semuanya."

__ADS_1


"Lalu kamu mau menceraikan aku? Setelah tahu bagaimana kondisi aku? Bahwa aku tak akan bisa memberimu keturunan? Benar Ben? Kamu kira, dengan begitu aku bahagia? Meski kamu memberiku semua yang ada di dunia ini, nggak akan berpengaruh Ben. Aku nggak butuh itu semua, aku hanya butuh kamu, Ben. Jangan ceraikan aku. Aku mohon. Tetaplah hidup bersamaku. Maafkanlah kekuranganku ini, Ben. Mohon terimalah aku, kasihanilah aku "


"Han," melihat Yohana bersiap berlutut di hadapanku, aku segera bangkit, mengangkatnya kembali. Kami sama-sama menangis dalam pelukan. "Aku tak bermaksud membuang kamu, justru aku yang hina ini merasa tak pantas dengan kamu, Han. Hati kamu begitu baik, bahkan kamu tak membenci aku dan keluargaku. Kamu memaafkan kami. Sikap kamu itu benar-benar membuatku merasa semakin hina. Aku sangat rendah, Han. Kami pendosa, apa pantas hidup dengan perempuan berhati baik seperti kamu "


"Kalau kamu menghindari aku, membuang aku, hidupku akan lebih hancur, Ben. Aku sanggup menerima ujian seberat apapun asal berada di sisi kamu." Kata Yohana. "Sayang, apapun kesalahan di masa lalu, aku sudah mengikhlaskannya. Aku sudah memaafkan Bunda, Abah dan bang Sigit. Bagiku, mereka tak hanya mertua tapi juga orang tuaku. Mereka sudah membuatku bertemu denganmu. Mereka yang melahirkan dan membesarkan suamiku, lalu bagaimana mungkin aku bisa membenci mereka padahal sudah memberikan yang separuh jiwaku untukku."


"Han, ya Allah ... bagaimana aku bisa mendapatkan jodoh sebaik kamu. Aku benar-benar beruntung Han." Kataku, sambil meraihnya dalam pelukanku. "Tuhan benar-benar baik padaku, Han. Aku merasa menjadi manusia yang paling diberkahi hidupnya. Aku yang tak baik ini mendapatkan perempuan seperti kamu. Keberuntungan yang begitu besar. Terimakasih Tuhan, terimakasih Han!"


"Akupun begitu sayang. Aku bahagia karena kamu mau membersamai aku meski aku punya banyak kekurangan." Sambung Yohana.


Ya Rabb, aku berjanji akan menjaga Perempuan ini, menyayanginya, membersamai hingga akhir hidupku. Aku tak akan membuatnya seidh, kecewa bahkan meninggal dirinya. Aku benar-benar berjanji tak akan menyia-nyiakannya. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan keluargaku padanya.

__ADS_1


Hari ini, kami sama-sama sepakat untuk menyudahi masalah ini. Kami tak akan pernah menyinggung masalah anak lagi. Kami akan menerima dengan lapang dada ketetapan Allah bahwa Yohana tak akan pernah bisa punya anak.


__ADS_2