Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Tiga Ganjalan Besar (1)


__ADS_3

"Bang, semangat ya. Semoga Allah mudahkan rencana Abang!" Kata Ami, memberikan motivasi untukku saat aku pamit hendak bertamu.ke rumah pak Diki. Orang pertama yang menjadi ganjalan besar untuk Abah dan Bunda.


Aku memilih datang ke rumah pak Diki sore hari, waktu yang menurutku paling tepat agar tak mengganggu waktu istirahatnya. Datang ke sana naik motor tuaku dan tentunya dengan bekal keripik sanjai hasil produksi aku dan Ami. Memasuki halaman rumahnya yang tak begitu asri membuat jantungku berdebar kencang. Pertanyaan; apakah diterima atau tidak langsung muncul di benak, tapi aku berusaha bersikap biasa, niatku baik, InshaAllah akan dimudahkan Allah, bukankah Tuhan itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ya, kalaupun belum diterima dengan tangan terbuka, berarti aku harus mencari cara lain nantinya.


"Assalamualaikum." Aku mengucap salam, memberi jeda tuan rumah untuk menyiapkan diri menghadapi tamunya. Satu menit dua menit, aku kembali mengetuk pintu diikuti suara salam. Hanya dalam hitungan detik pintu rumah terbuka. Jantungku seperti mau copot saat berhadap-hadapan dengan pak Diki langsung. Aku memang tak mengenal d kar tapi paham siapa ia sebab kami masih satu RT. "Pak," kataku, sambil mengulurkan tangan hendak bersalaman.


"Siapa?" Tanyanya, sambil memicingkan sedikit matanya, mungkin ia tengah mencoba mengenaliku dan sialnya ia berhasil mengetahui siapa aku. "Kamu putranya si ustadz ustadz itu, kan? Siapa namamu? Kamu pasti yang nomor dua. Anaknya kan ada tiga, yang pertama meninggal, kedua kamu dan ketiga perempuan kan?"


Ahhh, rasanya nyaliku langsung ciut sebab ia hafal semua anak Abah. Semua dialog yang aku rangkai dan hafalkan dari rumah langsung ambyar. Aku tak tahu harus bicara apa selain mengalir saja semuanya. Biarkan bapak itu yang memulai, aku mengikuti saja.

__ADS_1


"Akhirnya datang juga, bapakmu yang mengutus? Atau jangan-jangan ia belum sadar juga?" lelaki seumuran Abah itu tersenyum sinis, ia membukakan pintunya lebih lebar, lalu masuk ke dalam rumahnya, duduk di ruang tamu. Aku tak paham apakah ia mengizinkan aku masuk atau tidak, namun aku langsung saja masuk setelah mengucapkan salam, kemudian ikut duduk di ruang tamunya yang benar-benar lusuh, seperti tak terurus.


Dari foto yang ada di dinding aku tahu anaknya ada tiga, persis seperti keluarga kami. Pak Diki, istrinya, putra sulungnya yang dulu kuliah di Cairo, anak keduanya putri dan ketiga yang kemarin kerah bajunya ditarik Abah.


"Kau sudah tahu apa yang dilakukan bapakmu pada keluargaku? Ia menghancurkan kami habis-habisan. Aku kehilangn pekerjaan karena tuduhan abahmu, ekonomi kami jadi sulit hingga kami hidup dalam kemiskinan. Istriku gak sanggup menghadapi semuanya, tekanan batin hingga depresi. Karena tak ada uann, aku tak mampu membawanya berobat hingga ia akhirnya mati bunuh diri. Sulungku, terpukul sekali mendengar kabar kematian ibunya, ia memutuskan kembali pulang tak lanjut kuliah sebab khawatir dengan akidah keluarganya. Putri tengahku lebih mengenaskan lagi, melihat keluarganya yang awalnya harmonis berubah jadi berantakan Akhirnya ikut menghancurkan dirinya sendiri dengan cara menjual diri demi bisa tetap hidup mewah, hingga sekarang entah dimana ia, akupun tak tahu. Aku juga gak sanggup mencarinya karena takut dengan kenyataan yang ada. Lalu bungsuku, hanya luntang lantung bolak balik rumah dan masjid. Ia masih percaya, dengan meminta pada Tuhan maka semuanya akan kembali baik-baik saja seperti dahulu." Pak Diki mengakhiri ceritanya dengan tawa yang mengenaskan. Mendengarnya, bulu kudukku langsung merinding. Namun semakin merinding saat ia membuat pengakuan. "Bapak dan ibumu seperti itu karena aku. Aku sengaja datang ke dukun untuk mengabulkan semua tuduhannya, aku bersekutu dengan setan untuk membalasnya agar ia merasakan apa yang aku rasakan!" teriak lelaki itu tepat di hadapanku.


"Hahahaha," ia lagi-lagi tertawa. "Bapakmu yang mengatakannya? Heh, selama ini aku gak pernah melawan Tuhan, aku selalu menjalani semua perintahnya namun ini yang dilakukan padaku. Ini semua adalah buah perbuatan abahmu. Jadi kalau kau mau menceramahi aku, ceramahi dulu bapakmu itu!"


""Kedatangan saya ke sini bukan atas perintah Abah saya. Saya baru tahu semua perbuatan Abah dimasa lalu dan memang niat saya ingin minta keridhaan bapak. Saya ingin bapak memaafkan kedua orang tua saya meski saya tahu apa yang mereka lakukan sudah sangat fatal dan melukai bapak serta keluarga."

__ADS_1


"Ya benar. Bapakmu bukan hanya melukai tapi sudah menghancurkan hidup kami sekeluarga. Kau tahu betapa berharganya putriku dan sekarang ia hancur. Tak ada ayah yang lebih hina dari pada ayah yang jadi penyebab anak gadisnya hancur dan ia tak bisa melakukan apa-apa selain hanya menangis. Sungguh menyedihkan kan? Sekarang kamu datang ingin meminta maaf? Kamu kira semudah itu? Kalau kamu bisa kembalikan semua keadaan seperti dulu saya bisa memberi kamu maaf tapi kalau tidak jangan harap ada maaf untuk bapakmu!" Katanya.


Ya Rabb, aku harus bagaimana? Aku memutar otak, berusaha mencari cara agar bisa meluluhkan hatinya.


"Pak, maafkan saya, tapi saya benar-benar tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu meski sebenarnya saya sangat ingin. Andai bapak mengizinkan, saya akan berusaha mengembalikan sulung dan putri bapak, izinkan saya untuk menemukan mereka dan mencoba merapikan kapal yang telah porak poranda ini. InshaAllah tiap hari saya akan datang ke sini untuk mengurus bapak semampu saya, sembari saya mencari anak-anak bapak juga memperbaiki pemikiran bungsunya bapak." Kataku. "Ini saya bawakan oleh-oleh, hasil produksi saya sendiri, semoga bapak suka." sebelum kembali pulang, aku memberikan bungkusan yang ku bawa. Lelaki itu tak mengambilnya, hanya membiarkan di atas meja.


"Apapun yang akan kamu lakukan tak akan mengubah pendirian ku sebelum kamu kembalikan semuanya!" lelaki itu tetap teguh pendirian.


"Tak mengapa pak, saya mengerti luka di hati bapak begitu besar akibat Abah, bapak butuh waktu untuk menyembuhkannya. Bapak sama seperti saya, kita sama-sama menjadi korban ayah saya hanya saja saya sudah menderita oleh Abah dan tak ingin membuat diri saya semakin menderita dengan pikiran saya yang sempit. Di dunia, bahkan orang yang harusnya membesarkan, mendidik dan melindungi saya dengan cinta boleh melakukan hak tidak adil pada saya tapi tidak di akhirat nanti. Saya ingin mendapatkan balasan yang terbaik, makanya saya datang ke sini sebagai bakti saya pada kedua orang tua saya yang dahulu tak pernah menunjukkan kasih sayangnya pada saya." Kataku, sambil menyeka air mata yang tumpah

__ADS_1


__ADS_2