Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Salam Perpisahan


__ADS_3

Tubuhku masih gemetaran, meski Yohana sudah menenangkan. Masih terbayang, bagaimana pak Diki akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku. Ia, lelaki yang amat sangat membenci keluargaku gara-gara ulah Abah, dan berharap semua anak keturunan Abah hancur, lebih menderita dari pada dirinya namun pada akhirnya pergi lewat tanganku juga. Dan kami para anak-anak sudah saling dekat. Begitulah skenario hidup ini, benar-bemar sulit untuk dipahami.


"Sayang, minumlah dulu " Yohana meraij segelas air yang tadi dibawanya, lalu memberikan kepadaku. Pelan ia membantuku minum sampai seluruh isi air ludes.


"Aku benar-benar takut." Kataku, masih dengan tubuh gemetaran, namun sudah lebih tenang. "Jangan tinggalkan aku, sayang." Kataku. Tubuh ini baru gemetar setelah semua rangkaian acara pemakaman pak Diki. Sejak awal hingga akhir, aku hadir di sana. Bahkan ikut turun ke liang lahat bersama mas Yanuar. Itulah kenapa akhirnya aku gemetaran, sebab saat itu, aku merasa melihat bagaimana kebencian hanya akan menghancurkan seseorang, membuatnya menderita. Ia akan seperti arang yang habis terbakar. Itu baru di dunia, entah bagaimana beratnya nanti di akhirat. Aku benar-benar ketakutan membayangkan semuanya. "Sayang, apa kamu benar-benar sudah memaafkan kami?" Pertanyaan itu terlontar juga. Sebagai perwakilan keluarga yang masih hidup, aku merasa dibebani dengan permohonan maaf untuk kedua orang tuaku.


"Tentu saja sayang. Aku tak pernah menyimpan dendam pada siapapun, apalagi Abah dan Bunda. Seperti apapun masa lalu, bagiku itu sudah berlalu dan aku tak peduli. Aku hanya ingin menyiapkan masa depanku sebaik mungkin bersamamu suamiku." Katanya, sambil mengusap pelan kepalaku.


"Jangan tinggalkan aku sayang, jangan. Aku mohon." Aku memohon padanya.


***


Kepergian pak Diki di pangkuanku rupanya membuatku terbebani. Selama tiga hari berturut-turut aku terus bermimpi tentangnya. Mimpi yang membuatku menjerit ketakutan. Aku benar-benar merasa tak nyaman. Ia seolah ingin menyampaikan salam perpisahan yang membuatku ketakutan.


Yohana yang iba dengan kondisiku selama tiga hari ini terus mengingatkan agar aku mengirimkan doa untuk pak Diki juga. Mungkin dengan demikian bisa membuatnya tenang, begitu juga denganku.

__ADS_1


Untungnya, di hari keempat, mimpi itu akhirnya tak lagi datang. Meski begitu aku sudah berniat untuk mengubah semuanya. Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sebagai bekalku kembali nanti. Apalagi kemungkinan kami memiliki keturunan sangatlah kecil, aku harus mengandalkan diriku sendiri. Tak ingin rasanya menanggung siksa juga di akhirat nanti setelah ujian dunia yang cukup berat.


***


Hampir setahun menjalani pekerjaan, tiba-tiba saja jabatanku naik. Ini memang sangat langka, sebab aku baru satu tahun. Tapi pak Mahen, adiknya om Bili beralasan bahwa aku sangat bagus kerjanya, juga bertanggung jawab. Makanya ia merekomendasikan aku dan mendapatkan ACC. Namun di belakang, pak Mahen mengaku, selain aku memiliki kinerja kerja yang bagus, ia juga ingin mempersiapkan aku sbegaia pengganti di tahun keempat nanti. Makanya dari sekarang ia.memberi promosi agar namaku semakin naik.


Sebenarnya mendapatkan semua ini membuatku sangat bersyukur, namun aku juga khawatir kalau ada yang salah. Semacam korupsi jabatan. Tapi lagi-lagi ia berhasil meyakinkan aku bahwa ini biasa di dunia kerja. Harus mempersiapkan pewaris jabatan.


"Nikmati saja Ben, pelan-pelan nanti kamu juga akan mengerti " kata pak Mahen sambil menepuk pelan pundakku.


Selain itu, dana untuk jalan-jalan di nilai Yohana cukup besar. Ia khawatir malah akan melakukan pemborosan. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli tanah yang lebih luas di daerah perkotaan. Kami membangun rumah tinggal, rumah produksi dan toko kecil dalam satu lingkungan. Rencananya, Yohana tak akan ikut turun tangan dalam bagian produksi lagi, ia akan fokus mengawasi saja sebab aku tak ingin ia terlalu lelah.


Awalnya Yohana menolak sebab bingung juga kalau tak ada pekerjaan, urusan rumah juga sekarang tak terlalu menyita banyak waktu karena kami bertiga sama-sama mengerjakannya, biasanya sisa waktu Yohana untuk ikut mengerjakan produksi sanjai. tapi karena aku bersikeras akhirnya ia menerima juga keputusan yang aku buat. Ini demi kebaikannya juga.


"Sebelumnya, membayangkan saja aku tak berani, akan memiliki rumah, rumah produksi dan toko seperti ini. Aku benar-benar bahagia sayang. Sangat bersyukur sekali dengan rezeki yang Allah beri untuk kita. Ini sangat banyak sekali " kata Yohana, saat kami memantau pembangunan rumah kami.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ini rezeki untuk istri saliha seperti kamu." Kataku. "Allah sayang padamu, Han. Dia tahu bagaimana hati kamu. Begitu mulianya. Kamu harus terus seperti ini ya. Bagiku, kamu adalah berkah yang harus terus aku syukuri." Kataku. Kami berdua saling berpegangan tangan.


"Sayang, rezeki kita kan Alhamdulillah sudah banyak. Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanyanya. Ia tampak harap-harap cemas, melihatnya tentu aku sangat gemas sekali. Permintaan seperti apa yang akan diajukan?


"Kamu mau apa? Katakan saja. Selama kita menikah hampir dua tahun, kamu belum pernah meminta apapun, aku janji akan mengabulkan." Kataku.


", Benarkah?" Sepasang matanya langsung berbinar. "Aku ingin ke Sumatra. Aku sangat rindu pada Upik dan Puti. Sudah beberapa bulan ini mereka tak bisa dihubungi. Kata pihak panti, anak-anak sedang sibuk. Aku merasa ada yang ganjil, perasaanku juga tak enak. Sebenarnya dari beberapa bulan lalu ingin menyampaikan ini tapi aku khawatir mengganggu konsentrasi kamu, sayang. Sekarang kan semuanya sudah lebih baik, mungkin kita bisa berkunjung ke sana sehari atau dua hari " kata Yohana dengan penuh harap.


"Sepertinya belum bisa sekarang, sayang." Kataku. Sehingga membuat cahaya di matanya langsung redup bersamaan dengan senyumnya. Sebenarnya aku tak tega, namun aku harus melakukannya. "Lain kali saja ya." Kataku.


"Oh ya. Kamu pasti sedang sibuk, ya?" Ia mengangguk, memaksakan senyum yang berbeda dengan sebelumnya. Lalu, istriku itu segera berlalu ke dalam.


Upik dan Puti, memang sudah tiga bulanan ini kami agak sulit menghubunginya, pihak panti seperti selalu terburu-buru jika kami menelepon saat mengabari sudah mentransfer uang. Tapi aku tak menaruh curiga seperti Yohana. Mungkin karena kontak ikatan batin mereka yang sudah sangat kuat. Apalagi mereka masih ada hubungan persaudaraan meski tak kandung.


Kini, aku mulai sibuk mengecek tanggal di Hp, lalu mulai menghubungi pihak travel online. Semoga ini bisa jadi kejutan yang menyenangkan untuk Yohana.

__ADS_1


__ADS_2