
Yohana pagi ini cantik, ia memakai baju kurung yang aku belikan. Wajahnya terlihat lebih ceria dibandingkan biasanya. Sepanjang jalan ia terus berceloteh pada dua anak sambungnya, sesekali aku menimpali. Melihat cara Yohana memperlakukan mereka, sepertinya ia benar-benar menyayangi dua anak itu, tapi itu wajar, dari tampilan nampak anak itu kurang terurus, badannya kurus, pakaiannya pun sudah kusam. Aku berniat nanti di Bukittinggi akan membelikan mereka pakaian baru. Kemarin memang tak ku belikan sekalian karena aku tak tahu keberadaan mereka.
Perjalanan kami tempuh hampir satu jam sebab aku sering berhenti, mengajak mereka makan dan istirahat. Aku ingin jalan-jalan ini semua senang. Dari ekspresi mereka sepertinya mereka senang.
Sampai di Bukittinggi, aku membawa mereka jalan ke kebun binatang. Kami berkeliling sambil bercerita. Yohana yang paling banyak bercerita, tentang para binatang. Di dekat tempat gajah, aku mengajak anak-anak naik gajah, tentunya setelah izib terlebih dahulu pada Yohana, ibu sambung mereka ini tak mau ikut, memilih menunggu di tepi. Mereka sangat semangat meski sebelumnya sisulung Upik sempat takut sebab gajah yang kami naikin paling besar diantaranya teman-temannya.
"Ibu ... Ibu ...naik gajah asyik sekali. Tadi kami diajak keliling -keliling. Terus gajahnya tinggi sekali. Ibu lihat tidak? Gajahnya kuat deh Bu, bisa mengangkat empat orang!" seru Puti yang ternyata sudah berusia enam tahun, sementara kakaknya tujuh tahun.
"Nanti mau naik lagi, tidak?" tanyaku.
"Mau om, mau!" Upik menjawab duluan.
"Beneran? Nanti takut lagi, enggak? Minta turun lagi nggak?" aku mencandainya.
"Hehehe, enggak om. Upik sudah tidak takut lagi. Sekarang Upik sudah berani. Beneran deh. Upik mau naik lagi. Boleh kan Bu? Nanti kalau kita ke sini lagi Upik mau naik lagi!" ucapnya. Memohon pada Yohana.
"Iya iya. Doain supaya ibu ada duit supaya bisa ajak kalian ke sini lagi." kata Yohana, sambil mengelus kepala putri sambungnya.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu membuatku terharu. Betapa anak-anak ini terlihat sangat menyayangi Yohana. Tuhan tepat memberikan mereka ke pangkuan Yohana, hanya saja Yohana yang belum mendapatkan kebahagiaan. Andai aku diizinkan, dan menikung istri orang itu tak besar dosanya, mungkin aku akan membawa ibu dan dua anak sambungnya ini.
"Om, ayo lanjut jalan-jalannya." Puti membuyarkan lamunanku.
"Hah, eh iya. Ayo!" kataku. "Kalau Upik dan Puti pengen jalan-jalan lagi, pekan depan om akan ajak asal kalian patuh sama ibu Yohana, nurut semua perintahnya dan rajin sekolahnya." kataku, memberikan syarat.
Yohana dan kedua anak itu diam.
"Lho kenapa? O, om tahu, kalian suka libur ya? Enggak boleh begitu. Contoh ibu Yohana dong, Bu Hana itu paling rajin sekolahnya. Dulu kalau libur panjang selalu sedih, soalnya kalau di rumah semua kerjaan dia yang ngerjain." aku mencoba melucu namun kemudian sadar bahwa guyonanku sangatlah garing. "Maaf, maaf. Om cuma bercanda." kataku. "Han, maafkan aku ya." kataku pada Yohana.
"Kami enggak sekolah, om." kata Upik.
"Belum ada dana, Ben. Lagipula surat-surat mereka belum ada." Yohana menjawab.
"Oh, maaf." agar mereka tak larut dalam kesedihan yang terlanjur aku buat, makanya ku ajak mereka kembali memutari kebun binatang.
Anak-anak sangat senang diajak ke kebun kelinci. Mereka begitu senang bisa memberi makan kelinci..Bahkan mereka mengoceh, dari dulu pengen memelihara kelinci..Saat ku tawarkan membeli anak kelinci, Yohana melarang sebab tak ada lahan untuk membesarkan kelinci tersebut. Mereka hanya tinggal di kosan satu kamar. Yohana juga mengatakan, terkadang mereka ke tempat ibunya.
__ADS_1
"Han, apa kamu senang?" tanyaku, saat kami duduk di pinggiran, mengawasi Upik dan Puti dari jarak jauh, sebab mereka masuk ke kandang Kelinci untuk memberi makan.
Yohana mengangguk. "Terimakasih ya Ben, sudah membawa kami ke sini."
"Ya. Aku juga minta maaf sebab baru bisa membawa kalian ke sini. Sejak kecil kamu kan belum pernah ke kebun binatang." kataku, mengingat masa kecil kami.
Yohana, meski statusnya anak angkat Abah dan Bunda, tapi ia diperlukan layaknya pembantu. Kalau Keluarga kami jalan-jalan maka ia akan ditinggal. suatu hari aku pernah ngambek tidak mau ikut sebab Yohana tidak diajak, padahal kami yang waktu itu sudah duduk di bangku sekolah dasar sudah menyusun rencana akan bermain apa di tempat wisata yang akan kami kunjungi, tapi keputusan Bunda sudah bulat bahwa Yohana tidak usah ikut. Ia harus tinggal menjaga rumah. Karena sangat kecewa, aku pun memutuskan tidak mau ikut. Aku tidak tega jika ia harus ditinggal sendirian lagi, makanya ku putuskan untuk menemani.
Keputusan yang ku buat mengundang murka Abah. Akibatnya, keluarga kami tak jadi jalan-jalan. Bahkan itu adalah momen terakhir kami liburan, setelah itu tak pernah lagi ada agenda jalan-jalan keluarga.
"Ben, terima kasih ya. Dari dulu kamu selalu baik padaku." ia melempar senyum. "Kamu selalu menjagaku, berlaku adil padaku."
Yohana ... bolehkah aku menjaga kamu untuk selamanya? Bolehkah kita bahagia bersama? Aku menatap wajah sendunya yang kini memandang ke arah Upik dan Puti.
"Setelah ini kita kemana? Pulang?" tanya Yohana, namun pertanyaannya terhenti sebab kami beradu pandang, namun kemudian sama-sama membuangnya.
"Bagaimana kalau kita ke pasar? Ada yang ingin aku beli?" kataku, agak canggung sebab ketahuan memandangnya. Sungguh aku takut ia salah paham dan jadi berubah sebab tak enak hati padaku. Aku tak bermaksud jahat, hanya benar-benar merasa bersalah padanya, juga penasaran, apakah ia bahagia dengan kehidupannya?
__ADS_1
Kami berempat melanjutkan perjalanan, sebelum ke pasar, kami mampir dulu salat Zuhur di masjid dekat Jam Gadang, sekalian makan siang di sana. Makan sate Padang dan es tebak. Anak-anak nambah beli cemilan martabak dan kerupuk mi. Melihat tingkah mereka membuat rasa sayang di hatiku tumbuh untuk dua anak ini. Aku berharap mereka merasakan kebahagiaan. Hidup mereka tak jauh beda dengan Yohana. Tidak mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya. Bedanya, jika diasuh Yohana, mereka akan mendapatkan kasih sayang.
Usai makan, kami berbelanja. Aku membelikan mereka pakaian masing-masing tiga stel, sepatu dan sandal. Juga membelikan mereka bertiga mukenah. Upik dan Puti belum punya sama sekali. Sementara punya Yohana dijual oleh ayah mereka. Hatiku benar-benar kesal mendengar penuturan dua kakak beradik itu yang mengatakan kalau pakaian Yohana seluruhnya dijual oleh ayah mereka, termasuk mukenah sehingga kalau salat, Yohana selalu memakai sarung yang diikat jadi mukenah. Sungguh terlalu ayah mereka. Mungkin nanti kalau kami bertemu aku akan memberinya sedikit pelajaran!