
"Sampai kapan kamu di sini?" tiba-tiba Reni bertanya saat kami bertiga sedang sarapan di kamarku. Sementara Bre sedang tidur di atas kasur.
Selama Reni ada di sini, pak Zainal memberinya satu kamar lagi yang berada tepat di sebelahku. Entah bagaimana caranya, orang tua Reni bisa mendapatkan kamar itu dan penghuni sebelah juga bersedia pindah dengan senang hati. Saat Riko ada di sini ia tinggal di kamarku.
"Aku bertanya!" kata Reni lagi. "Kamu sudah sepekan di sini? Mau berapa lama lagi? kamu kan harus bekerja."
"Aku izin, Ren." jawab Riko. Keberadaan Riko sebenarnya sangat membantu Reni. Ia selalu ada dua puluh empat jam untuk ibu dan bayi itu. Aku tak paham bagaimana dengan cara kerja telinga Riko, tapi saat malam hari pun, ketika kami sudah sama-sama terlelap, kalau Bre bangun maka Riko akan ikut bangun. Ia akan ke kamar Reni, membawa Bre keluar kamar atau bahkan ke kamarku untuk ditenangkan.
Selain itu, Riko juga setiap harinya selalu menyiapkan makanan bergizi untuk Reni. Dari sarapan, makan siang, makan malam, kudapan pagi dan sore hari. Ia juga tak segan menyucikan popok dan pakaian Bre. Bahkan kemarin ia yang memandikan Bre. Sudah layak menjadi ayah siaga.
"Izin? berapa hari? Aku tahu aturan rumah sakit, Ko. Kamu nggak akan mendapatkan izin selama ini? Jadi, mau berapa lama kamu di sini?" tanya Reni lagi
"Kenapa sih Ren? Sepertinya tak ada salahnya Riko di sini. Bahkan menurutku ia sangat membantu kamu. Aku ngga bisa siaga menemani kamu mengurus Bre, makanya biar Riko yang menemani." kataku.
"Apa kamu tidak melihat orang menatap kita aneh? Kamu adalah suamiku, memang benar kita tak melakukan akad, hanya mencatat secara negara. Tapi tetap saja yang orang tahu kamulah suamiku, Ben. Kamu ayah dari Bre. Kalau Riko berlama-lama di sini, selalu membantuku, bahkan tengah malam pun ia mendatangi ku untuk membantu, maka orang-orang akan curiga. Pernikahan macam apa yang suaminya membiarkan temannya selalu mengurus istrinya? Pernikahan macam apa yang kamu nggak peduli tapi teman kamu sangat perhatian. Ini sangat aneh dan nantinya akan memberi pengaruh pada Bre. Semua orang akan menerka -nerka ada rahasia yang kita sembunyikan. Bahkan bisa saja mereka akan tahu apa yang terjadi sesungguhnya padahal aku sudah berusaha menyembunyikan semuanya dengan pernikahan. Jadi aku mohon kalian berdua kalau memang ingin membantuku dan Bre, tolong bantu aku menyelesaikan semuanya dengan baik!" pinta Reni sambil menangis.
Melihatnya seperti itu membuatku tak sampai hati.
"Ben, kalau kamu memang ingin berpisah denganku, tolong izinkan sampai surat-surat Bre selesai. Jangan minta Riko melakukan hal yang akan membuat orang lain curiga pada Bre. Aku mohon. Biarlah aib itu aku yang menanggung sendiri, Bre tak boleh merasakan sakit yang aku rasakan. Aku tak bisa membayangkan ia harus merasakan aib itu nantinya. Sangat sakit sekali Ben!" kata Reni dengan mata basah.
__ADS_1
"Maaf Ren, kami tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membantu Riko untuk mendapatkan hati kamu. Dari dulu ia sudah membuktikan ketulusan cintanya untuk kamu, ia akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian berdua nantinya. Padanya, aku sangat yakin menitipkan kalian." kataku lagi.
"Aku juga ikut andil salah Ren. Seperti yang dikatakan Ben, aku melakukan ini semua karena mencintaimu." ujar Riko.
"Jangan egois Ko, kamu tahu kan apa jawabannya? Aku sudah pernah membahasnya waktu itu. Sekarang ku katakan kalau aku tak peduli dengan perasaanmu, aku hanya ingin melindungi putraku!" Reni menegaskan. "Jangan dekati aku. Aku masih membutuhkan Ben sampai surat itu ku dapatkan!"
"Kalau kamu bersedia, aku siap mencantumkan namaku di aktenya Bre." ujar Riko.
"Nggak, aku nggak mau Ko. Itu sudah sangat terlambat. Aku sudah telanjur mencatatkan namaku bersama Bek, nggak mungkin memakai nama lain, bisa-bisa nanti Bre bingung kalau tahu semuanya." tolak Reni. "Kalau kamu ingin membantu, sekarang kembalilah ke Jakarta!" pinta Reni. "Jangan biarkan orang lain semakin curiga padaku. Aku mohon."
"Baiklah Ren, besok aku akan berangkat." kata Riko.
Aku tahu bagaimana perasaan Riko, sedih saat ditolak. Tapi juga tak bisa menyalahkan Reni sebab ia tengah memperjuangkan nasib anaknya. Yang aku sesali, harusnya dari awal Riko yang memantapkan hatinya, menikahi Reni. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur terjadi.
***
"Ben, sebenarnya aku takut tak akan pernah mendapat kesempatan menjadi ayah Bre meski aku sangat menyayangi bayi itu dan mencintai ibunya." ucap Riko saat aku mengantarnya ke bandara.
"Sabarlah Ko, tak akan lama. Nggak sampai dua bulan ia akan kembali." kataku
__ADS_1
"Sepertinya kamu gak mengenal Reni. Ben, aku gak bisa datang menjemputnya kala itu karena ia yang mendesak, ia menelepon, menyuruhku agar tak datang ke sini. Ia tak ingin kembali ke Jakarta tanpa kamu."
"Ya nanti saat Bre berusia dua bulan kami akan pulang, mengurus akta Bre, lalu bercerai."
"Kamu yakin Reni akan mau bercerai denganmu?"
"Maksudnya?"
"Ben, apa kamu gak menyadari perasaan Reni yang sebenarnya? Aku tak suka membicarakan ini, tapi harus agar kamu tak terlalu naif. Reni mencintai kamu!"
Mendengar pernyataan Riko membuatku terdiam sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak. Apa Riko tak tahu bahwa kami bersahabat?
"Kami bersahabat dan ia tahu satu-satunya perempuan yang aku cintai adalah Yohana." kataku.
"Ya, tapi tak ada ...." belum sempat Riko menjelaskan aku langsung memotong.
"Ya aku tahu. Kamu mau bilang tak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan, kan? Terserah mau bilang apa tapi begitulah kami. Hanya sebatas teman!" aku menegaskan lagi. "Apa kamu mengatakan itu karena cemburu, Ko? kamu percaya kan kalau aku mencintai Yohana. Aku sampai ke sini demi dia."
"Aku percaya padamu, tapi aku tahu isi hati Reni. Aku mengenalnya jauh sebelum kalian menjalin persahabatan. Aku sangat percaya padamu Ben, tapi itulah isi hati Reni yang sesungguhnya. Ia sampai ke sini juga karena khawatir kamu kembali pada Yohana. Ahhh apapun itu, aku cuma mau mengingatkan kamu bahwa Reni bisa saja melakukan apapun untuk memisahkan kalian, sama seperti ia meyakinkan petugas bandara agar bisa berangkat ke sini, juga memaksa orang tuanya agar tak berlama-lama di sini. Lebih baik, sebelum kalian kembali, carilah seseorang yang bisa menemaninya.. Seseorang yang bisa kamu percayai, tapi bukan Yohana." Riko mengingatkan aku tentang perempuan yang kadang ketika jatuh cinta mampu melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya. Termasuk menyingkirkan saingannya.
__ADS_1