
Dari penampilannya saat ini, gadis itu sepertinya hidupnya tak jauh beda dengan masa kecilnya. Ia begitu kurus, kulitnya hitam, garis wajahnya keras, jalannya pincang, usianya terlihat lebih tua dari seharusnya, mungkin karena ia bekerja terlalu kuat dan cobaan hidup yang keras menerpanya.
Apa kamu baik-baik saja, nak?
Aku berdiri di depan gubuk mereka. Sementara Upik yang baru pulang usai bekerja paruh waktu sebagai pembantu rumah tangga diam mematung saat melihatku. Sepertinya ia masih ingat denganku sebab ia terlihat kaget.
"Upik?" aku memanggilnya.
"Om Ben?" ia mundur beberapa langkah. "Om, ada di sini?"
"Ya. Saya di sini, Pik." ada banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, namun tersendat. Lisanku terasa Kelu. Aku hanya bisa menatapnya dengan haru. Setelah bertahun-tahun akhirnya aku menemukan anak-anak angkatnya Yohana. "Kamu apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan yang sangat bodoh, dari kondisinya saat ini terlihat betul kalau ia tak baik-baik saja. Kerasnya dunia sudah menempanya sedemikian rupa. "Pik, kalau Yohana tahu ini ia pasti sangat bahagia sekali, ia akan bersegera kemari untuk bertemu kamu, nak."
"Ibu? Ibu ada dimana?" Upik memberikan reaksi, ia menangis saat mendengar nama Yohana. "Apa ibu baik-baik saja?"
"Yohana ada di rumah, ia tak tahu kalau saya sudah menemukan kamu. Kalau ia tahu, ia pasti akan sangat bahagia karena selama ini ia selalu mencari-cari kamu. Ia begitu merindukan kamu, Pik. Hidupnya selama ini tak tenang saat tahu kalian hilang. Beberapa kali kami bolak-balik ke Sumatra untuk mencari kalian!" Aku yang tak bisa menahan haru akhirnya menangis juga mengingat perjuangan Yohana yang ternyata tak sia-sia. Doanya hari ini diijabah oleh Allah. Ia pasti sangat bahagia sekali. Bebannya selama bertahun-tahun akhirnya hilang juga. "Kamu tahu, Pik, Yohana sampai sakit-sakitan, bahkan ia nyaris depresi karena kehilangan jejak kalian. Ia ingin terus menunggui kalian di Sumatera, ia ingin mencari sendiri. Ia sangat merindukan kalian!"
"Benar om? Benar ibu nyariin kami? Benar juga Bu peduli pada kami, rindu sama kami? Om, dimana ibu sekarang?" tanyanya.
"Ada di rumah. Kamu mau ketemu?" tanyaku, dijawab anggukan oleh Upik.
Tak butuh waktu lebih lama lagi, kami bertiga akhirnya pergi ke rumahku untuk mempertemukan Upik dan Yohana. Entah mengapa, jalanan menuju rumah rasanya lebih jauh ketimbang saat berangkat. Beberapa kali aku menelepon Yohana agar ia mempersiapkan diri tanpa memberitahu kalau aku sudah menemukan Upik. Yohana sempat bertanya-tanya, namun aku tak memberitahu. Sementara Upik begitu terharu mendengar suara Yohana. Ia pun ingin menyahut, namun aku melarangnya agar ini menjadi kejutan untuknya.
[Memang kamu akan mempertemukan aku dengan siapa?] tanya Yohana, masih dengan suara lemas. Ia seperti ogah-ogahan.
__ADS_1
[Dengan orang yang paling kamu ingin temui. Ayo tebak, siapa orang itu Han?] tanyaku sambil tersenyum, terbayang bagaimana harunya pertemuan itu nantinya.
[Tak ada yang lebih ingin aku temui kecuali dua anakku. Upik dan Puti.] jawab Yohana, membuat air mata Upik semakin deras berderai. Ia sesenggukan. [Sayang, suara siapa itu? Aku mendengar ada perempuan yang menangis. Kamu bersama siapa?]
[Nanti kamu akan tahu. Tunggulah di rumah ya.] kataku.
[Tapi siapa? Beritahu sekarang. Kenapa jantungku deg-degan begini. Siapakah ia?]
Aku sengaja menggantung. Membiarkan Yohana menebak -nebak. Sementara Upik sibuk menenangkan dirinya sendiri yang larut dalam haru. Ia pasti sama rindunya dengan kami.
***
Mobil memasuki halaman rumah. Aku meminta Upik untuk turun, sementara Yohana yang penasaran dengan seseorang yang aku bawa menunggu di depan pintu rumah bersama Caca.
Aku membuka pintu belakang, meminta Upik untuk turun. Gadis itu dengan susah payah turun sambil menundukkan kepalanya.
"Pik, kamu sudah ditunggu ibumu." kataku.
Upik mengangkat kepalanya, ia menangis. Begitu juga dengan Yohana yang tak bisa berkata-kata. Andai tak ada Caca di sampingnya, mungkin ia akan ambruk saking kagetnya. Akhirnya ia bisa menemukan anak yang telah dicari selama belasan tahun ini. Anak yang amat dirindukan.
"Ibu ...." dengan langkah kaki yang pincang, Upik berusaha menghampiri ibu angkatnya. Ia lalu masuk dalam dekapan hingga akhirnya dua orang perempuan itu saling berpelukan. Mereka melepas rindu, saling menangis dan menyatakan rasa rindu.
Aku memberi waktu sejenak untuk mereka melepaskan rindu. Setelah tangis itu agak reda, aku mengajak semuanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Apa yang sudah terjadi? Bagaimana kehidupan kalian selama ini? dimana kamu tinggal? Apa kamu baik-baik saja?" Yohana memburu Upik dengan banyak pertanyaan.
"Ibu ...." Upik pun tak bisa berkata-kata. "Maafkan kami kalau sudah membuat ibu khawatir dan sedih. Ibu pasti kecewa pada kami, kan?" tanya Upik yang merasa sangat bersalah sebab pergi tanpa izin hingga membuat kami mencari-cari hingga saat ini.
"Ibu enggak pernah marah sama anak-anak ibu, ibu hanya khawatir dengan keselamatan kalian berdua. ibu takut kalian kenapa-napa. Ibu sangat menyayangi kalian. Kamu tahu kan, nak? Rasanya ibu lebih baik mati saat kehilangan kalian. Sebab kalianlah semangat hidup ibu. Jangan pergi-pergi lagi ya." pinta Yohana.
"Lalu dimana adikmu?" tanya Yohana.
Akupun ikut bertanya. Sekaligus baru sadar kalau tujuan utamaku sebelumnya adalah mencari Nilam atau Puti. Tapi karena pertemuan dengan Upik maka semuanya teralihkan.
"Nilam adalah Puti." kataku.
"Apa? Maksudnya bagaimana? Nilam ... Nilam yang datang ke rumah kita, itu adalah Puti? Benar begitu sayang? Katakan? Aku benar-benar tak paham." Yohana tampak bingung.
"Ya, tadi tetangga mereka yang bercerita. Puti mengganti namanya menjadi Nilam. Benar begitu kan, Pik?" aku melihat ke arah Upik.
"Pik, benar begitu nak? Jawablah, ibu enggak akan marah." tukas Yohana.
"Ibu ... om Ben, sebenarnya apa yang sudah dilakukan Puti sehingga kalian mencarinya dengan nama Nilam?" tanya Upik.
Aku menceritakan secara singkat apa yang sudah terjadi antara aku dan Puti, juga semua gosip yang ia sebarkan. Entah apa tujuannya. Aku sangat yakin ini adalah kesengajaan sebab ia pasti mengenali kami. Aku dan Yohana. Jadi semua sudah direncanakan olehnya.
"Astagfirullah, jadi dia benar-benar melakukan semuanya. Bahkan dengan skenario yang lebih mengerikan. Benar Puti begitu, Om?" Upik pun tampak sangat kaget.
__ADS_1
" Ya Pik, Puti sudah melakukan semuanya. Nak, sekarang katakan, ceritakan semuanya. Juga dimana ia berada. Kami tak akan melakukan hal-hal yang buruk padanya. Kami hanya ingin membawanya ke sini, ke rumahnya, sebagai anak-anak kami. Yang lalu cukup diselesaikan, setelah itu semua akan dimaafkan." kataku.