
"Yo ... Yohana!" panggilku, saat ia hendak pergi meninggalkan aku. "Yohana hei!"
"Kamu memanggilku seperti itu, Ben?" ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tahu, sudah lama aku menanti kamu memanggilku seperti itu. Yo ... Yohana. Persis seperti penyanyi Rep. Dulu, sewaktu kita masih sekolah kamu sering begitu. Tapi tak pernah lagi setelah aku menjadi kakak iparmu." Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. "Ben, apa kamu sudah kembali?"
Pertanyaan itu tak bisa aku pahami. Dulu, aku memang sering usil memanggilnya begitu. Apalagi kalau ia sudah ngambek. Kadang aku melemparnya dengan benda-benda ringan seperti bunga, ranting kecil atau kertas kecil yang diremukkan demi untuk mencari perhatiannya.
"Ben ... apakah kita bisa seperti dulu?" ia masih menatapku dengan tatapan yang sama, dengan wajah penuh harap.
"Apa Han?" tanyaku.
Tiba-tiba ia tersenyum. "Maaf Ben, aku hanya terlalu rindu dengan masa dulu saat kita masih kecil. Aku ...." Ia tak bisa melanjutkan ucapannya. Hanya menggeleng lemah lalu menundukkan kepalanya. "Ada benteng yang kokoh membatasi kita. Iya kan Ben?" ucapnya.
"Han, boleh aku tahu, bagaimana hidupmu sekarang? Apa kamu Bahagia?" tanyaku.
Yohana, kehidupannya dahulu memang tak terlalu baik. Ia ada di rumah bukan benar-bemar diperlakukan sebagai anak angkat, tapi lebih tepatnya ada di rumah untuk membantu mengurus hampir semua pekerjaan rumah tangga.. bayarannya, ia disekolahkan dengan sekolah yang sama denganku hingga bangku SMA. Bahkan, seluruh perlengkapan sekolahnya kecuali seragam adalah lungsuran bekas punyaku atau bang Sigit. Uang jajan, ia hanyabdapat seperempat dari jajan kami. Itupun harus ditabung untuk transportasi dan membeli buku.
Lalu terpaksa menikah di usia delapan belas tahun. Bebannya bertambah dengan mengurus penuh bayi yang bukan darah dagingnya. Ia melakoni semuanya dengan tenang tanpa pernah mengeluh sedikitpun.
Tapi Yohana ku lihat hari ini jauh lebih menyedihkan dari saat ia di rumah kami. Ia menjadi lebih kurus dan kulitnya bertambah hitam. Wajahnya pun jarang mengguratkan kebahagiaan. Ia seperti tertekan. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Kenapa tidak dijawab?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamu sendiri bagaimana, Ben? Apa bahagia?" ia malah balik bertanya.
"Aku bahagia menemukan kamu kembali, Han." Kataku.
"Oh ya?" Ia menatapku dengan tatapan berkaca-kaca. "Kalau kamu bahagia menemukan aku, kenapa baru mencariku sekarang, Ben? Kenapa? Melawan pernikahan itu dosa, Ben dan aku benci mendengarnya!" ia benar-benar menangis. Air mata itu turun amat deras. Aku tak kuasa melihatnya. Andai saja ia halal untukku, sudah ku peluk Yohana erat-erat.
Jadi pernikahanmu tak bahagia, Han? Kehidupan seperti apa yang diberikan suamimu? ahh, melihat ia kemarin dan bekerja di sini dengan hutang yang lumayan banyak harusnya aku bisa menyimpulkan sendiri bagaimana ia.
"Kenapa kamu tak bercerai saja, Han?" ingin aku berteriak seperti itu, tapi tak kuasa, hanya bisa mempertanyakan dalam hati. Siapa aku, apa Yohana akan mendengar apa yang ku suruh kan? Lalu bagaimana dengan dosanya?
"Kenapa Ben? Kenapa tak menjawab?" Ia menyadarkan aku dari lamunan.
"Sudahlah Ben. Pembicaraan kita semakin tak jelas. Aku harus kembali bekerja." Ia melambaikan tangannya.
"Han ..." Panggilku, saat ia menoleh ku katakan keinginan untuk berkunjung ke rumahnya. Ia tak menjawab, hanya melambaikan tangannya.
Takdir hidup orang memang aneh. Ada yang Tuhan beri ia kebahagiaan dan kemudahan dari awal hingga akhir, ada juga yang harus menjalani ujian yang tak habis-habisnyq.
"Jangan jadi kufur nikmat, Ben!" Aku mengingatkan diri sendiri. Lalu berlalu ke kamarku.
***
__ADS_1
Hutang-hutang Yohana ternyata tidak hanya pada pak Zainal, tapi masih ada di beberapa tempat. Aku kembali melihat ia ditagih oleh ibu-ibu rentenir. Yohana hanya tertunduk. Dari pak Zainal sebenarnya aku juga sudah mendapatkan informasi bagaimana kehidupan Yohana selama beberapa hampir empat bulan bekerja sebagai cleaning servis di mess ini. Ia kerap berhutang dan hampir tiap bulan minta cas bon. Tentu saja pak Zainal yang juga memegang bagian keuangan untuk para cleaning servis tak bisa memberi dengan mudah karena ia juga menjadikan ini sebagai lahan untuk mencari nafkah tambahan. Boleh berhutang asalkan berbunga.
"Kadang saya ya jengkel juga sama mbak Hana itu. Ngutang ya sebulan bisa sampai lima kali. Belum lunas satu sudah ngutang lagi. Gaji buat nutupin juga sudah tergadai. Entah dipakai kemana uangnya. Padahal gaya hidupnya juga begitu-begitu saja. Nggak kayak si Lela temannya. Uang habis buat belanja baju, alat makeup dan sepatu. Kalau mbak Hana itu kan bajunya ya begitu-begitu saja. Malah sering pakai baju usang. Untung saja di sini dia pakai seragam kalau enggak kelihatan banget pakaiannya sudah buluk. Nggak keurus lah, padahal ya cantik sebenarnya." Kata pak Zainal.
"Kalau tempat tinggalnya, bapak tahu?" tanyaku.
"Alamatnya ya pindah-pindah, mas. Kemarin saja ada yang nyari. Rentenir. Katanya mbak Hana di cari di kontrakan lama malah menghilang. Makanya nyari di tempat kerjanya lagi. Entah sengaja pindah-pindah atau memang sudah telanjur habis kontrakannya juga saya enggak tahu, mas. Yang jelas dia memang suka menghilang-hilang gitu."
"Oh, begitu ya." Aku mengangguk-angguk. Lalu pamit.
Begitu komplek permasalahan hidup kamu, Han. Punya pasangan hidup tapi seperti itu. Tempat tinggal yang tidak menetap juga hutang yang begitu banyak. Untuk apa itu semua, Han? Seperti yang dikatakan pak Zainal, meski baru menyadari sekarang, aku juga merasa kehidupan kamu sepertinya memang di bawah kata sederhana. Kamu selalu memakai pakaian lusuh, sepatu sudah bolong, tas yang tak pantas.
Meski belum juga mendapatkan informasi tentang tempat tinggal Yohana, tapi aku tak putus asa. Masih berusaha mencari tahu lewat teman-temannya sesama cleaning servis. Hasilnya, sama saja seperti aku, mereka juga tak tahu.
"Yohana itu anaknya sangat pendiam, jarang mau bercerita. Ditanya paling cuma jawab satu-satu, pak. Itupun hal-hal penting terkait pekerjaan. Diajak jalan apalagi ngumpul-ngumpul juga dia enggak mau. Kami ketemu hanya ketika mengambil perlengkapan kerja, mengganti seragam dan saat pembayaran gaji. Selebihnya ia hanya sendiri." Kata salah satu cleaning servis Perempuan yang juga bertanggung jawab atas mess seperti Yohana.
"Kalau teman dekatnya benar-bemar enggak ada?" Tanyaku lagi.
"Enggak pak. Dia benar-benar sendirian. Enggak punya kawan sama sekali."
Aku paham itu. Dari dulu Yohana memang begitu. Ia benar-benar sendirian. Tak punya teman. Kalaupun ada paling hanya teman sebangku itupun Yohana tak terlalu mau banyak berinteraksi. Ia lebih memilih fokus dengan sekolahnya. Padahal yang mau berteman dengannya saat itu banyak sebab selain cantik ia juga pintar. Tapi kondisi membuat Yohana menutup diri
__ADS_1