
Aku sampai di mes dengan nafas ngos-ngosan menahan segala amarah di dada. Entah apa yang dikatakan oleh Reni pada Yohana hingga ia pergi. Aku sangat yakin ia sudah mengusirnya sebab sebelumnya hubungan kami baik-baik saja. Apa jangan-jangan yang dikatakan Riko benar?
Beberapa kali aku mengetuk pintu kamar, hingga akhirnya pintu terbuka. Tampak Reni dengan penampilan yang tak seperti dia biasanya. Aku yang semula sangat marah sempat terdiam, berpikir ada apa ini?
Reni memakai kerudung dengan baju kurung. Persis seperti gaya Yohana. Ia seperti bukan ia yang biasanya. Sebelumnya ia berpakaian dengan gaya layaknya anak muda di ibukota. Lebih suka memakai celana jeans dan baju kaus atau blus jika ke kampus. Perubahannya ini membuat kecurigaanku semakin menjadi-jadi.
"Ben," ia pun merubah cara bicaranya, persis seperti Yohana.
"Bre mana?" kataku
"Ada di dalam. Sedang tidur. Masuklah." ia membuka pintu lebih lebar, lalu memberi jalan agar aku masuk, tapi aku tak mau.
"Apa yang kamu katakan pada Yohana? Kenapa dia pergi? Kemana ia pergi?" aku memberondong pertanyaan sebab tak mau berlama-lama dekat dengan Reni. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan atas semua yang terjadi padaku. Termasuk tentang urusan kantor karena hanya ia yang bebas keluar masuk kamar mesku. Tapi saat ini keberadaan Yohana jauh lebih penting dari apapun juga. Makanya ia lah yang pertama aku pertanyakan.
"Kamu bicara apa, Ben. Kenapa datang-datang nanya seper itu. Oh iya, bagaimana penampilan baruku? Bagus tidak? aku memutuskan memakai kerudung ...." Reni memutar badannya, memperlihatkan pakaiannya padaku.
"Jawab Ren, mana Yohana? Kamu pasti sudah merencanakan sesuatu. Iya, kan?"
"Ini ada apa sih? Aku nggak ngerti. Yohana Yohana. Memangnya aku tahu dia pergi kemana? Aku dan Yohana itu nggak dekat, Ben. Kalaupun dia pergi ya nggak harus pamit padaku."
"Enggak usah berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya. Kakak ipar Yohana sudah mengatakan semuanya saat kami bertemu "
Mendadak wajah Reni pucat. "Kamu ketemu dimana? Terus dia bilang apa lagi?"
"Itu tidak penting, yang jelas kamu pasti tahu tentang Yohana, kan? Ia terakhir bersama kamu. Katakan atau aku akan marah!"
__ADS_1
"Ben sudahlah, aku juga sudah sangat lelah dengan semua ini. Sekarang ayo kita kembali saja ke Jakarta. Ayo kita mulai semuanya dari awal. Aku dan Bre tidak cocok di sini."
"Tidak ada yang menyuruh kamu datang ke sini. Kalau kamu tidak cocok maka pergilah. Biarkan aku di sini karena memang mencari Yohana adalah tujuanku!"
"Ben!"
"Aku akan meminta orang tuamu untuk menjemput, bahkan kalau mereka tetap mengelak maka aku akan meminta Riko yang mengantarkan. Kamu di sini juga tidak betah, kan?"
"Ben, aku mohon. Sudahi. Aku tak ingin kamu terus-menerus mencari Yohana, biarkan ia membuka lembaran baru di hidupnya."
"Lembaran barunya itu adalah aku. Jadi jangan terlalu ikut campur urusanku Ren!"
"Kita sudah menikah, Ben."
"Oh, jadi kamu mau lepas tanggung jawab begitu saja? Kamu mau membiarkan aku sendiri merawat Bre? Ingat Ben, kalau bukan karena kamu kejadian itu tak akan pernah terjadi, masa depanku tak akan hancur, Bre tak akan ada di sini. Aku masih bebas memperjuangkan masa depanku sebagai dokter spesialis, tapi semua gagal karena kamu meninggalkan aku dan sekarang kamu mau lepas tangan?"
"Aku memang bersalah Ren, tapi aku sudah bertanggung jawab dengan menjadi ayah Bre secara hukum. Lalu apa lagi yang kamu harapkan? Kalau tentang masa depan, ada Riko yang sangat mencintai kamu yang akan bertanggung jawab. Ia bahkan siap menjadi ayah untuk Bre!"
"Aku nggak mau Riko aku maunya kamu!" secara gamblang Reni mengatakan keinginan hatinya menjadi bagian hidupku. Ia ingin menjadi istriku sesungguhnya, membina rumah tangga layaknya rumah tangga sebenarnya. Ia tak ingin hidup bersama Riko sebab akulah laki-laki yang dicintainya.
Mendengar itu tentu aku tak terima. Meski Riko sudah memberi tahu sebelumnya tapi aku tetap kaget.
"Gila kamu!" kataku, lalu meninggalkannya yang terus meracau tak jelas.
Aku sengaja menjauh dari mes agar Reni tak bisa mengikuti. Sekarang rasanya buntu, entah kemana harus mencari Yohana, satu-satunya cara hanya mencari informasi lewat abangnya. Itupun kalau ia mau buka mulut
__ADS_1
Semua kejadian ini ku ceritakan pada keluargaku, Riko dan keluarga Reni. Aku meminta Riko mencarikan pengacara dan mengurus perceraianku, sementara orang tua Reni ku minta untuk menjemput putri dan cucunya.
[Bunda sudah curiga kalau akan ada akhir yang tidak baik seperti ini, sekarang kamu fokus pada Yohana saja, bunda akan bantu mengurus perceraian dari sini.] kata Bunda yang ikut menguatkan aku.
Yohana kamu dimana? Aku menatap jauh kedeoan, berharap segera mendapatkan petunjuk keberadaannya.
***
Esok harinya, mes dibuat heboh dengan Reni yang naik ke atas atap mes. Tentunya ia tak sendiri, tapi membawa serta Bre sekalian. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya yang singkat itu.
"Mungkin istri bapak kena baby blues." kata karyawan lain. Selain itu ada juga yang menyalahgunakan aku Senna gosip yang beredar tentang kedekatan ku dengan Reni dan sikapku yang dinilai terlalu cuek. Istri lahiran tapi tinggal di kamar terpisah. Sayangnya aku tak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi untuk membungkam mulut mereka
Untungnya Bre dan Reni bisa diselamatkan. Mereka turun dengan selamat. Akibatnya, aku dipanggil oleh pihak HRD, mendapatkan peringatan keras dan diminta untuk mengundurkan diri sebab ini masalah besar.
Mengundurkan diri dalam posisi kasus belum terungkap sepenuhnya, ditambah Yohana yang menghilang tanpa sebab sangatlah berat rasanya. Tapi aku tak bisa lagi melakukan pembelaan diri sebab itu adalah putusan final.
"Ini semua gara-gara Reni!" aku merutuk keras.
Pihak perusahaan memberi waktu sepekan untukku pindah. Reni tampak senang dengan kabar itu seban ia berpikir berhasil membawaku kembali ke Jakarta. Tapi itu tak akan terjadi, aku tak akan pulang tanpa Yohana. Aku ke sini untuk Yohana, kalaupun harus pergi tentunya harus dengan Yohana.
Esoknya orang tua Reni datang untuk menjemput. Aku tentu menolak untuk ikut. Reni kembali histeris tapi aku tak peduli. Ia sudah bersama orang yang bertanggung jawab atasnya.
"Apa nak Ben benar-benar tidak bisa membantu? Ikutlah sebentar saja ke Jakarta. Nanti kalau Reni sudah tenang silakan kembali ke sini lagi." pinta ayahnya.
Aku tak bisa mengabulkan permintaan itu sebab tugasku pada Reni sudah berakhir. Surat-surat Bre sudah diurus oleh Riko, perjanjian antar kami juga akan berakhir.
__ADS_1