Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Baju Kurung Untuk Yohana


__ADS_3

Jam lima teng. Aku langsung bangkit dari kursi, mengisi absen lalu keluar dari kantor masuk bilik ATM yang masih berada di area kantor dan yang aku tahu jadi satu-satunya ATM yang ada di kampung ini. Uang yang ditransfer Reni ku ambil semuanya. Lalu segera ke pasar kecil yang masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dan rata-rata orang di kampung ini kemana-mana jalan kaki.


Pasar tradisional ini terhitung kecil, tapi jualan mereka cukup lengkap sebab menjadi pasar sentral kampung ini. Khusus untuk sayur dan lauk pauk mentah, hanya beroperasi dari pagi hingga pukul tiga sore. Sementara warung nasi, panganan dan toko-toko buka sampai jam delapan malam.


Aku langsung menuju salah satu toko pakaian wanita. Begitu masuk, penjaga toko langsung menyapa dengan ramah.


"Selamat sore bang, mau cari apa? Pakaian untuk siapa, bang? Pacarnya atau siapa?" tanya perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Rita itu. Ternyata usianya masih sangat muda, baru genap berusia dua puluh tahun, namun terlihat lebih dewasa karena dandanannya cukup menor. "Abang ini pasti bukan asli sini, kan? Karena Rini hafal semua cowok-cowok asli sini. Abang pasti kerja di perusahaan kelapa sawit itu, kan? Ngomong-ngomong nama Abang siapa?"


"Ben." aku menjawab pendek sambil mengitari toko, mencari yang cocok untuk Yohana.


"O, bang Ben. Abang asalnya dari mana?"


"Jakarta."


"O, Jakarta. Pantas Abang beda sama orang-orang sini. Abang lebih gagah dan gayanya berbeda dari orang-orang sini. Katanya sih orang Jakarta itu macho-macho, keren-keren, juga kaya-kaya. Dan setelah melihat Abang baru aku yakin apa yang dikatakan orang-orang itu benar. Abang ganteng banget. Abang sudah punya pacar belum?"


Mbak Rini itu terus mengikuti aku, mencoba sok akrab walau keseringan aku cuekin sebab fokusku ke pakaian. Makanya banyak pertanyaan dia yang tak ku jawab. Kini tanganku meraih satu step baju kurung berwarna merah maroon. Cantik sekali, apalagi kalau Yohana yang mengenakan. Sekarang kulitnya memang agak menghitam, tapi dia tetap menawan. Selain warna maroon, aku juga mengambil tiga baju kurung dengan model dan warna berbeda. Warna putih tulang, warna biru muda dan warna coklat susu.


"Wah, selera Abang bagus sekali. Cantik-cantik bajunya yang Abang pilih. Pacar Abang pasti suka. Apalagi kalau dibelikan sebanyak ini. Rini saja kalau dibelikan satu sudah kegirangan bang!" Ucap mbak Rini sambil tertawa genit.

__ADS_1


Setelah selesai, aku langsung meninggalkan toko itu tanpa menghiraukan permintaan mbak Rini yang meminta nomor teleponku dengan alasan mau berkabar kalau ada barang bagus yang nanti datang lagi.


Selain berbelanja pakaian, aku juga membeli beberapa panganan untuk Yohana. Setidaknya untuk basa-basi nantinya agar suaminya tidak curiga padaku. Toh sebenarnya tujuanku baik, aku hanya ingin melihat Yohana memakai baju yang pantas. Bukan baju lusuh yang penuh tambalan seperti yang biasa ia pakai.


Azan Maghrib baru saja selesai berkumandang. Aku langsung menghampiri salah satu surau untuk menunaikan salat. Setelah itu mau berkeliling sebentar mencari rumah Yohana sebab aku sendiri belum tahu dimana rumah Yihana tepatnya. Tapi sayangnya, hingga Isya belum juga ku temukan. Makanya ku putuskan ke Bali ke mes saja sebelum hari semakin gelap.


"Lho, mas Ben baru pulang?" pak Zainal yang berdiri di depan gerbang mes menyapaku.


"Iya pak, saya masuk dulu." aku sengaja menghindari karena sudah terlalu lelah makanya malas untuk berbasa-basi. Sejak pulang kerja sampai tadi, aku berjalan cukup jauh mencari rumah Yohana.


"Oh ya mas Ben, ini, saya sudah dapat alamatnya mbak Yohana. Mas Ben masih butuh?" Panggil pak Zainal saat aku sudah berlalu Beberapa meter.


"Wah, makasi banyak lho mas. Semoga rezekinya tambah banyak ya!" Kata pak Zainal, sambil mengibaskan uang yang tadi aku berikan.


Sesampainya di kamar, aku langsung membaca alamat tersebut, tapi karena baru makanya alamat itu terasa asing untukku. Aku sampai nyari di google map tapi tetap saja tidak ketemu. Meski begitu aku tak akan putus semangat. Besok aku akan bertanya pada OB di kantor atau pada siapapun.


***


Esok harinya,sesuai rencana, setelah pulang kerja aku langsung meluncur menuju alamat rumah Yohana setelah mendapat petunjuk dari beberapa OB. Kontrakan Yohana ternyata masuk-masuk ke gang kecil, tapi tak terlalu sulit ditemukan sebab orang-orang di sekitar cukup membantu sehingga dengan petunjuk aku akhirnya sampai di kontrakan Yohana setelah lima belas menit berjalan.

__ADS_1


Kontrakan itu hanya sebuah kamar kecil. Yohana agak kaget mendapati aku sudah berdiri di depan kamarnya. Sementara ia baru saja hendak keluar untuk mandi.


"Ben, kamu ada di sini? Bagaimana kamu bisa menemukan kosanku?" Katanya..


"Ya Han, aku benar-benar serius mencari tempat tinggal kamu." Kataku.


"Ya Allah." ia tampak kaget ketika aku bercerita darimana menemukannya. "Kenapa sampai segitunya, Ben? Kan kita bisa ketemu di mes setiap hari " katanya.


"Aku ingin tahu bagaimana kehidupan kamu, Han." kataku dengan jujur. Tapi tanpa perlu dijelaskan, melihat kondisi kosannya yang jauh dari kata layak bisa ku simpulkan hidupnya memang tidak baik-baik saja. Berarti ia dan suaminya tinggal di sini, di kamar sempit yang bahkan kamar mandinya berada terpisah di luar.


Lalu ku berikan bungkusan pakaian dan makanan yang memang khusus untuk Yohana.


Baru beberapa detik Yohana memegang, tiba-tiba dua anak perempuan berbadan kecil berlari-lari sambil memanggil ibu. Mereka menghambur, memeluk kaki Yohana. "Ibu ... apa ini Bu? Makanan. Hore banyak makanan!" kata anak yang lebih besar, sementara yang kecil ikut-ikutan kakaknya mengintip kantong belanjaan yang ku bawa.


"Eh jangan berebut. Upik, Puti. Ayo salim sama om Ben!" kata Yohana.


Dua anak perempuan bernama Upik dan Puti itu menurut, mereka menyalami aku dengan santun, lalu kembali beralih pada kantong belanjaan yang ku bawa. Yohana membiarkan dua anak itu membawanya masuk.


Ternyata bukan hanya tinggal berdua, ada dua anak kecil juga. berarti laki-laki itu duda.

__ADS_1


Ya Allah, Han. Kenapa nasibnya begini, belum punya keturunan tapi harus menjadi ibu dari anak-anak orang lain. Apakah ini bisa disebut berkah? Mungkin Tuhan tahu Yohana perempuan berhati lembut, makanya ia dititipkan anak dari perempuan lain.


__ADS_2