
"Kenapa kamu mengiyakan permintaannya? Kamu tahu Han, kamu sudah memasuki jebakannya. Selamat! Ini nggak akan sekali, tapi tunggu saja, akan terjadi lagi lagi dan lagi. Orang seperti itu tak akan pernah puas, Han. Ia akan terus memeras kamu hingga akhir seperti lintah yang terus menghisap darah manusia yang dihinggapinya. Paham!" Aku meradang, begitu kesal Senna Yohana benar-benar tak mendengarkan aku, ia mau saja mengikuti jebakan itu padahal jelas-jelas ini bukan salah kami. Aku dan Yohana tak pernah lepas tangan pada kedua anak itu, kami juga menyayangi mereka seperti anak kandung kami sendiri meski aku dan Yohana tak punya anak.
"Hanya sepuluh juta, sayang." Jawab Yohana.
"Hanya? Hei, ini bukan masalah nominal, tapi ini tentang pemerasan. aku tak akan pernah keberatan kamu memberikan berapa pun pada mereka yang membutuhkan, tapi tidak pada dua orang itu. Mereka tak pantas. kamu lihat, mereka lebih memilih uang ketimbang putri mereka. Tidak mengapa dua anak malang itu hilang asal mereka dapat uang. Jahat sekali itu!" Aku mencekal sikap Bandaro dan istrinya. rasanya tak rela hasil kerja keras kami dipakai untuk kebutuhan foya-foya mereka. Apalagi uang itu diberikan karena anak-anak mereka. sungguh bagi mereka kedua anak itu tak lebih berharga dari uang. Saat seperti itu kadang aku sedih hingga berpikir yang buruk terhadap penciptaku; kenapa Tuhan malah memberi anak pada mereka yang sebenarnya tak pantas menjadi orang tua. Mereka bahkan tak peduli dengan anak-anaknya. Tetapi kami yang begitu ingin malah tak diberi.
Akibat dari pertengkaran ini, aku dan Yohana kembali berselisih paham. Kami saling diam meski berada di tempat yang sama. Aku tetap tak suka jika anak-anak dianggap tak lebih berharga dari uang!
"Maafkan aku, semua ku lakukan demi masa depan karirmu sayang. Aku tak mau ia melakukan hak buruk padamu." Kata Yohana.
"Ia tak akan berani!" Kataku.
"Baiklah, setelah ini aku gak akan memberi lagi kalau mereka meminta!" Kata Yohana.
***
__ADS_1
Aku, Yohana dan Caca kembali ke Jakarta. Kami sampai malam Minggu. Di rumah sudah menunggu seorang gadis yang tak asing lagi olehku. Nilam. Entah apa tujuannya datang ke sini, tapi melihatnya datang dalam kondisi menangis membuatku yakin kalau ia sedang tidak baik-baik saja, hanya saja, aku agak ragu untuk mendekatinya karena ada istri dan putriku. Aku takut mereka salah paham.
"Sayang, kamu kenal dia?" Tanya Yohana.
"Oh eh iya, dia anak magang di kantor." Aku terpaksa menerima Nilam bertamu ke rumah kami meski ini sudah sangat larut. Kami berbicara di teras, sementara Yohana dan Caca masuk ke dalam. "Ada apa malam-malam ke sini? Kamu tahu, kehadiran kamu yang tiba-tiba seperti ini bisa membuat istri saya salah paham." Kataku.
"Ma ... maaf, pak. Saya kira, setelah bapak mengatakan bahwa saya boleh menganggap bapak seperti ayah sendiri itu benar, bukan sekedar basa-basi meski saat memutuskan datang ke sini sangat berat untuk saya karena saya harus membunuh ego saya sendiri. Tapi saya tak punya pilihan lain, saya benar-benar tak tahu harus kemana. Tapi, saya siap pergi jika memang bapak tak berkenan, saya bisa berlindung di masjid atau dimana saja asalkan saya aman dari para penjahat itu." Ia terisak.
"Penjahat apa?"
"Saya nyaris di jahati pak oleh lelaki yang mengaku mencintai saya. Saya benar-benar takut bertemu dengannya lagi. Semula saya tak berpikir ia akan sejahat itu. Ia sengaja membuat saya keluar dari kos-kosan saya, lalu ia mengajak saya bermalam di kosannya karena tadi saya benar-benar tak punya tujuan. Ia berjanji akan menjaga saya dengan baik, bahkan kami berencana menikah. Tetapi ternyata ia malah menjahati saya, ingin melakukan hak terlarang pada saya "
"Kamu tak perlu khawatir, katakan dimana tempat tinggalnya karena saya sendiri yang akan menghajarnya. Saya akan memberinya pelajaran sekaligus menyeretnya ke penjara." Kataku
"Enggak. Jangan lakukan itu pak karena ia menyimpan aib saya. Kalau bapak sampai melakukan hak itu maka saya yang akan kena masalah. Ia akan membenarkan video tak senonoh saya."
__ADS_1
"Astagfirullah. Kamu ... kenapa bisa membuat video seperti itu?".
"Pak, saya dicekoki miras, saya tidak sadar hingga tak tahu sudah melakukan apa. Saya benar-benar menyesal, seandainya saya masih punya keluarga dan tak sendiri saja pasti saya tak akan mengalami ini semua. Akan ada ayah dan ibu yang melindungi saya "
Mendengar cerita Nilam, membuatku sangat iba. Bagaimana seorang gadis muda yang begitu rapuh sepertinya harus hidup sendiri tanpa ada yang menjaganya. Pastilah sangat berat..yang ada dalam pikiranku saat ini adalah melindunginya. Makanya aku menemui Yohana, meminta izin agar Nilam bisa tinggal sementara waktu bersama kami hingga masalahnya terselesaikan.
Yohana sebenarnya keberatan karena ia merasa tak etis memasukkan gadis yang tak jelas asal-usulnya dalam rumah kami. Ia khawatir akan mendapatkan masalah baru. Bahkan Yohana menyarankan agar kami mencarikan tempat tinggal baru saja untuknya sekaligus dibayari untuk beberapa bulan. Tetapi menurutku itu bukan solusi sebab Nilam mengalami ketakutan. Ia butuh seseorang yang bisa melindunginya. Lagipula ia seperti gamang karena kehilangan sosok orang tuanya.
"Kan bisa tidur dengan Caca." Pintaku. "Nilam juga bisa menjadi teman untuk Caca. Aku sangat yakin mereka akan cocok. Aku juga sudah bicara dengan Caca dan ia tak keberatan. Ya?"
"Apa? Kamu sudah bicara dengan Caca terlebih dahulu sebelum denganku? Aku tak mengerti kenapa kamu begitu mengusahakan semuanya untuknya. Memangnya siapa gadis, itu? Bagaimana ia begitu penting di hidup kamu sementara kita sedang mengalami masalah besar. Semoga saja kecurigaan ku tidak benar!" Yohana masih kelihatan belum bisa menerima. Makanya saat mereka berdua ku perkenalkan, sikapnya masih saja dingin.
***
Pagi ini, kami berempat sedang sarapan di meja makan. Caca tampak begitu senang dengan kehadiran Nilam, ia begitu menyambut kehadirannya. Berbeda dengan Yohana yang masih saja cuek. Bahkan terkesan dingin sehingga membuatku tak enak pada Nilam, khawatir ia salah paham.
__ADS_1
"Maafkan istri saya, ya. Sebenarnya ia sangat baik, hanya saja ia sedang banyak pikiran makanya sikapnya dingin. Tunggulah beberapa waktu lagi, ia akan berubah jadi ibu yang menyenangkan." Kataku, menjelaskan tentang karakter Yohana saat kami berangkat ke kantor dengan mobil dinas.
"Iya pak, tidak masalah. Saya juga yakin Bu Yohana orang yang baik dan ramah. Mungkin karena saya datang di waktu yang tidak tepat." Kata Nilam. "Kalau saya bisa mendapatkan kasih sayang Bu Yohana, itu akan jadi hadiah terbesar di hidup saya." Tambah Nilam.