
"Sayang, bagaimana kalau kita liburan bersama. Aku, kamu, Ami, mbak Lila dan Alif. Masalah yang kita hadapi sudah terlalu banyak, sebaiknya kita istirahat sejenak sebelum memulai kembali ini semua." Kataku pada Yohana yang sedang sibuk menghitung keuangan keripik.
"Liburan?" Ia mengerutkan keningnya. "Kemana? Pasti butuh dana yang besar, apa tidak sebaiknya uangnya kita simpan saja, atau ditabung untuk modal tambahan, atau untuk biaya hidup kita. Atau untuk apa saja asal jangan dihambur-hamburkan." Tambahnya. Yohana itu memang terbiasa hidup sederhana, bahkan sangat hemat. Seumur hidupnya, baru sekali yang namanya liburan yaitu saat aku masih bekerja di Sumatra, ketika aku mengajaknya jalan-jalan bersama Upik dan Puti.
"Kita kan jarang sekali liburan sayang. Ami dan mbak Lila juga butuh hiburan. Mereka sepertinya sudah teramat suntuk dengan maslaha kemarin." Kataku lagi, membujuk Yohana. "Kadang badan kita juga butuh refreshing agar nanti kembali bersemangat kerjanya."
"Tapi kemana?"
Aku menunjukkan beberapa tempat wisata di daerah puncak. Rencananya kami akan berangkat akhir pekan setelah menyelesaikan orderan besar untuk sebuah toko oleh-oleh. Kami memang baru mendapatkan kesempatan untuk kembali mengisi di tempat lama, tentunya setelah negosiasi yang cukup alot. Yohana setuju. Saat berita ini ku sampaikan, Ami dan mbak Lila tampak senang. Wajah-wajah butuh liburan itu tersenyum sumringah. Meski hanya berlibur dua hari, tapi cukup membuat mereka kegirangan.
Jum'at sore Kami berangkat ke puncak dengan mobil sewaan. Bekal makanan sudah dibeli oleh Yohana dan mbak Lila. Sementara aku dan Ami menyiapkan berbagai perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan. Meski kami menyewa sebuah Homestay, tapi rencananya kami akan mengadakan acara Bebakaran, jadi butuh alat-alat untuk masak juga karena di sana hanya menyediakan peralatan masak sederhana seperti wajan dan piring-piring.
Sampai di homestay, Ami dan Alif langsung berenang, sementara Yohana dan mbak Lila sibuk mengatur makanan di kulkas sembari menyiapkan makan malam yang meski sudah kami beli matang, tapi harus tetap di tata.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya aku dan mbak Lila harus keluar sebentar." Kata Yohana, rupanya mereka kelupaan membawa minyak goreng, padahal ada makanan yang harus di goreng. Untungnya di dekat sini ada warung sehingga kami tak perlu turun lagi ke kota.
Saat Yohana dan mbak Lila sedang pergi, aku menyempatkan diri untuk memeriksa pesanan. Ada beberapa yang masuk, namun karena libur, aku meminta waktu pengiriman hari Senin pagi sebab rencananya kami akan kembali hari Ahad pagi. Ketika itulah masuk telepon dari panti tempat Upik dan Puti berada. Dua anak itu yang menelepon. Kebetulan kami memang belum menelepon mereka karena kejadian kemarin, tetapi aku tak pernah lupa untuk mentransfer biaya Upik dan Puti.
"Ibu mana om?" Tanya Upik. Mereka terdengar kecewa saat ku katakan kalau Yohana sedang di luar, tapi aku berjanji akan menelepon kembali jika ia sudah kembali. "Kami akan jalan-jalan hari Ahad ini bersama teman-teman di panti ke kebun binatang yang dahulu pernah kita kunjungi." Kata Upik dengan sangat antusias.
"Selamat bersenang-senang anak-anak, nanti akan om transfer uang tambahan untuk jajan ya." Kataku.
Setelah selesai menelepon, aku langsung mengirim uang untuk tambahan belanja Upik dan Puti saat jalan-jalan nantinya. Tak lupa ku lebihi sedikit untuk anak-anak yang lain. Setelah itu aku kembali sibuk dengan pekerjaan. Saking asyiknya bekerja, saat Yohana dan mbak Lila kembali, aku lupa mengabari tentang telepon anak-anak dari panti. Kami malah kembali sibuk melanjutkan acara liburan di homestay.
Sepanjang perjalanan, Yohana dan mbak Lila sibuk berbelanja sayur, bawang, tomat dan hasil bumi para petani sana yang dijual dengan harga murah. Aku, Ami dan Alif lebih suka menunggu di kedai-kedai terdekat sambil menikmati jagung bakar gorengan atau makanan kecil lainnya.
"Selanjutnya bagaimana, bang?" Tanya Ami, sambil menyuapi Alif jagung bakar. Bocah kecil itu sangat menyukai jagung, satu tongkol itu hampir habis dimakannya.
__ADS_1
"Kita lanjutkan usahanya, sembari terus melakukan inovasi." Kataku. Rencananya, selain menjual sanjai, kami juga akan berjualan panganan khas Sumatera Barat. Ada banyak jenisnya. Selama menetap di Sumatra Barat, Yohana banyak belajar memasak, dia yang akan menjadi kokinya, yang lain akan terus membantu.
***
Usai liburan, aku mengira kehidupan kami akan berjalan mulus. Tapi dihari pertama kami kembali ke rumah, mbak Lila menyampaikan kabar bahagia namun juga membuat kami sedih. Bahagia karena mas Yanuar melamarnya. Ya, begitulah jodoh. Tak jadi dengan bang Sigit, setelah terus memperbaiki diri ternyata mbak Lila berjodoh dengan mas Yanuar. Anaknya pak Diki, yang pernah menjadi musuh Abah namun kini akan menjadi ayah tiri Alif. Sedihnya, kami akan berpisah dengan Alif karena mbak Lila ingin merawatnya. Bagaimanapun, Alif akan ikut nasab mbak Lila sebab ia lahir diluar nikah.
Kami semua berusaha berbesar hati. Lamaran mbak Lila diadakan di rumah, begitu juga dengan akad nikahnya. Usai pernikahan, mbak Lila diboyong ke rumah mas Yanuar. Mereka ngontrak hanya beda gang dari rumah kami. Setidaknya, kami bisa bertemu kapanpun karena jaraknya tidak terlalu jauh.
"Sering-sering ke sini membawa Alif ya mbak," kata Yohana dan Ami saat mbak Lila, Alif dan mas Yanuar berpamitan.
"Tentu saja!" Kata sepasang pengantin baru itu. Meski sedih karena tak lagi serumah, tapi aku yakin inilah yang terbaik. Alif telah mendapatkan pengganti ayahnya, lelaki yang ku yakini akan jadi imam yang baik untuk anak dan istrinya.
***
__ADS_1
"Sedih tapi bahagia juga karena kita harus melepas lagi dua anggota keluarga secara bersamaan. Baru juga satu hari tapi rasanya sudah sangat rindu. aku benar-benar ingin bertemu Alif, tapi enggak enak dengan mbak Lila. Nanti, cepat atau lambat, akan ada masanya juga kita melepaskan Ami. Ketika ia menikah maka ia pun akan ikut suaminya. Lalu kita tinggal berdua." Kata Yohana pagi ini, saat kami sedang sibuk dengan pekerjaan sementara Ami sedang keluar untuk mengurus kuliahnya yang sempat cuti. "Rumah ini benar-benar akan sepi. rasanya akan sangat asing. aku benar-benar sedih memikirkannya."
"Begitulah hidup. Tapi jangan khawatir, kelak, kita akan punya anak-anak yang banyak, yang akan meramaikan rumah ini kembali." Kataku, sambil mengusap pelan kepala Yohana. Ia tak menjawab lagi, hanya tersenyum tipis.