Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Minta Maaf Pada Orang-orang Yang Disakiti Abah


__ADS_3

Sebagai anak laki-laki tertua dan satu-satunya yang tersisa, aku bertanggung jawab kepada kedua orang tuaku juga Ami dan Alif. Aku tak bisa lagi bermain-main sebab beban di pundakku tidaklah ringan. Saat ini aku harus berusaha keras untuk mereka.


"Ben, boleh bunda bicara?" Kata bunda, sambil duduk di kursi sebelahku. "Ben, kamu tahu bagaimana Abah dan Bunda di masa lalu. Begitu banyak dosa-dosa yang kami torehkan pada orang lain, entah itu sengaja maupun tidak sengaja. Kesombongan dan kezaliman kami sudah sangat melampaui batas. Ben, bunda menyesali semuanya dan ingin bertaubat. Hanya saja ada beberapa dosa besar yang masih mengganjal hati bunda dan bunda yakini dosa itu juga yang membuat bunda dan abahmu menjadi manusia yang hilang arah saat ini. Bunda sedikit demi sedikit kehilangan penglihatan juga sakit yang terus menggerogoti. Sementara Abah, Ia seperti linglung, Allah buat ia membuka aib yang sendiri sehingga ia makin direndahkan orang lain. Bunda sangat yakin kita sudah menjadi bahan gibahan orang-orang seperti dulu kami menggiring orang-orang untuk menggibah siapapun yang menurut kami mengganggu hidup kami. Mungkin dengan meminta keridhaan dari orang-orang yang disakiti Abah, hatinya bisa lebih tenang dan tak emosian lagi seperti sekarang." Kata bunda.


"Lalu aku harus bagaimana, Bun?" Tanyaku, sambil menatap bunda. Sejujurnya masalah ini benar-benar menguras energi ku, namun inilah bakti yang harus aku jalani. Berat memang, mengingat aku manusia cuek yang bisa dikatakan sangat minim dalam berinteraksi dengan orang lain karena kerasnya didikan yang ku dapat saat masih kecil. Akupun sering secara sebagian atau tidak direndahkan oleh Abah bila tak sesuai dengan maunya. Makanya aku selalu menutup diri dari orang lain.


"Ben, bisakah kamu menggantikan Abah meminta keridhaan mereka?" Bunda menjelaskan padaku tentang beberapa orang yang diyakini menyimpan dendam yang teramat besar pada Abah. "Ialah pak Diki yang anaknya kemarin nyaris di pukul Abah. Ia dulu hampir mati dipukuli masa karena ulah Abah yang mengatakan bahwa pak Diki itu main dukun dan numbal. Bunda sangat yakin ia dendam pada Abah sebab setelah itu istrinya meninggal dunia, tak kuat dengan orang-orang yang menyudutkannya." Kata bunda.


Mendengar cerita bunda membuatku bergidik. Semengerikan itu Abah? Hanya gara-gara anaknya kuliah di Kairo Mesir, Abah khawatir anaknya kelak akan menyaingi bang Sigit yang hanya kuliah di UIN, makanya Abah sampai mengarang cerita seperti itu agar anaknya berhenti kuliah. Abah memang berhasil memporak-porandakan keluarga itu. Anak sulungnya tak lulus dari Cairo, akhirnya hanya lulus pondok saja.

__ADS_1


"Lalu ibunya Alif." Kata bunda.


"Yohana?" Aku menatap bunda.


"Bukan Ben, tapi ibu kandungnya. Namanya Lila Nuryani. Dia itu teman satu kampus abangmu, hanya saja ia terkenal sebagai perempuan malam. Mereka pernah menjalin cinta, entah bagaimana awalnya, tapi abangmu mengatakan kalau ia mencintai perempuan itu dan perempuan itu sudah berubah. Abangmu juga sudah bisa menerima masa lalunya dan siap mendidik mbak Lika. Hanya saja Abah tak bisa menerimanya sebagai menantu sebab ia hamil duluan dan latar belakangnya yang tak baik di mata Abah meski sebenarnya gadis itu sudah bertaubat. Abah benar-bemar gencar melakukan tekanan padanya, membuat mbak Lila dikeluarkan dari kampus dan yang paling menyakitkan itu adalah abahmu sempat menyuruh orang-orang untuk melecehkannya sehingga ia sempat terpuruk dan akhirnya ia kabur." Kata bunda sambil berlinang air mata. "Dari bang Sigit bunda sempat dengar kalau mbak Lila itu sempat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa karena tekanan batin setelah melahirkan Alif, namun sejak saat itu kami kehilangan jejaknya. Bunda hanya tahu rumah orang tuanya di daerah Bogor, entah ia kembali kesana atau tidak."


Apakah Abah tak takut jika nanti Alif dewasa dan mengetahui semuanya lalu membenci Abah? Aku hanya bisa beristighfar berulang kali.


"Dan yang terakhir tentunya Yohana, Ben. Ia yang paling banyak menerima kezaliman kami." Bunda tak sanggup melanjutkan ceritanya, meski begitu aku sangat tahu semuanya sebab kami satu usia dah tumbuh bersama tentunya dengan ketimpangan yang sangat jelas. "Ben, kamu mau kan? Abah dan Bunda nggak tahu apakah bisa kembali pada Allah dengan tenang jika belum mendapatkan keikhlasan dari mereka. Kami sudah sangat tersiksa, Ben. bunda sudah berulang kali bertaubat, namun rasanya hati masih belum tenang sebab tiga ganjalan besar itu. Mohon kamu mintakan maaf dari mereka, Ben. Bunda sudah lelah dengan sakit yang bunda derita juga abahmu yang semakin hari semakin mengerikan."

__ADS_1


Bunda menangis dalam pelukanku. Aku mencoba menenangkan bunda yang mengatakan sudah sangat takut dan lelah menghadapi semua ini.


Begitulah hidup, kadang, balasan perbuatan jahat kita Allah balaskan sejak di dunia, namun ada juga yang Allah mudahkan hidupnya meski seumur hidupnya penuh dengan dosa hingga ia tak sadar akan kesalahannya.


"Ben akan coba, Bun." Kataku. Entah bagaimana caranya, sebagai anak dengan kondisi Abah dan Bunda yang sudah seperti ini, aku memang harus ambil bagian. Lagipula aku tak ingin kedua orang tuaku meninggal dengan membawa kebencian orang lain, setidaknya aku harus memohon maaf, entah bagaimanapun caranya.


Sayangnya aku yang biasanya cuek ini benar-benar tak punya ide untuk menemui orang-orang yang dikatakan bunda. Tak mungkin dengan cara biasa mengingat mereka pernah terluka oleh kata-kata dan perbuatan abah. Yang bisa aku lakukan adalah mencari di google. Sangat lucu memang, tapi dari pada tidak melakukan apapun. Dahulu, saat Yohana masih ada, ialah yang mengajariku bagaimana meminta maaf. Ia yang memiliki hati lembut selalu bisa menyentuh hati orang lain dengan ketulusannya.


"Ahhh Han, kamu dimana? Aku benar-benar rindu, Han. Semuanya sedang tidak baik-baik saja dan kamu adalah salah satu dari tiga nama yang bunda sebutkan. Sebenarnya aku sangat yakin kamu pasti akan memaafkan Abah dan Bunda, hanya saja dimana kamu berada sekarang? Aku benar-benar ingin Bertemu!" Aku menutup wajah dengan kedua tangan, kembali menangis sebab tak sanggup dengan perasaan ini. Aku benar-benar payah, namun tak ada lagi yang bisa aku lakukan saat ini selain menanti kabar darimu dari berita-berita yang aku sebarkan ke orang-orang tentang kamu yang menghilang.

__ADS_1


__ADS_2