
Mobil carteran memasuki halaman rumah yang tak terlalu luas. Abah yang duduk di depan langsung menyeletuk kalau kami sudah tiba di rumah. Berarti Abah ingat tentang rumah ini. Tapi, apakah Abah masih ingat dengan Yohana dan mbak Lila? Kalau iya, bagaimana jika Abah masih marah pada mbak Lila, padahal saat ini ia tinggal di sini agar bisa membersamai Alif. Saat bimbang seperti itu, aku berusaha untuk menenangkan diri. Kalau memang kemungkinan buruk yang ku pikirkan akan terjadi, aku akan mencarikan solusi terbaik agar tidak merugikan siapapun terutama Alif.
Kami turun dari mobil, tampak Yohana, mbak Lila yang sedang menggendong Alif menunggu di depan pintu. Mbak Lila sepertinya sama seperti kami, takut-takut melihat kedatangan Abah.
"Hana, kamu sudah pulang?" Kata Abah. "Ingat, kalau belanja ke pasar jangan terlalu lama. Pasar itu adalah tempat yang paling buruk, kamu harusnya banyak-banyak ngaji. Belanjanya kan bisa minta tolong Ben, atau itu ... Bisa belanja pakai apa itu Mi, yang di Hp." Abah beralih pada Ami. Untungnya dia paham apa yang dimaksud Abah, jadi bisa langsung menjawabnya.
"Aplikasi bah. Untuk belanja online." Kata Ami.
"Nah itu, belanjanya di sana saja. Jangan keseringan ke pasar. Perempuan kok senangnya blusukan di pasar, senangnya itu harusnya di rumah " Abah masih mengomel tentang kenangannya di masa lalu yang sering memarahi Yohana karena sering ke pasar. Padahal bunda yang menyuruh Yohana, tapi abah tak tahu itu. "Nah ini, yang jaga Alif? Oh, sudah dapat tho orangnya? Kenapa ibu kalian nggak ngomong ke Abah? Ya sudahlah kalau begitu, baik-baik di sini, jangan suka keluyuran, apalagi bergosip dengan tetangga. Ibu nggak akan suka. Kerjanya yang baik, jagain dan ajari Alif!" Kata Abah pada mbak Lila.
Kami berempat saling pandang, lalu bernafas lega karena sepertinya pikiran kami sama. Abah mengira mbak Lila adalah pengasuh Alif yang memang dahulu pernah diminta bunda pada Abah untuk membantu menjaga Alif agar semuanya tak dilimpahkan pada Yohana. Tapi sayangnya tak kunjung dapat karena Abah dan Bunda mematuk gaji rendah namun dengan banyak tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan majikan lain.
"Oh ya, bunda kalian mana? Jangan-jangan dia masih tidur?" Abah hendak menuju kamarnya, namun Ami segera melarang sambil menggelengkan kepalanya. "Oh, Abah mengerti, bunda kalian pergi arisan, kan? Sudah Abah katakan untuk nggak ikut acara apapun. Sudah, ikut kajian Abah saja. Ngapain toh ikut arisan-arisan." Abah berjalan ke ruang tamu sambil mengomel. "Han, buatkan abah kopi!" Kata Abah sambil duduk di ruang tamu
Yohana hendak ke belakang untuk membuatkan kopi, tapi ditahan oleh mbak Lila. Ia memberi isyarat agar tugas itu di berikan padanya.
Meski tak diterima sebagai menantu di keluarga ini, tapi mbak Lila sudah menganggap keluarga ini seperti keluarganya sendiri, ia ingin mengabdikan dirinya. Makanya ia ingin membuatkan Abah kopi sebagai bentuk baktinya. Ia tak peduli apakah akan diterima atau tidak, yang jelas, ia mengatakan Ingin merasakan menjadi menantu dari orang tua bang Sigit.
Kopi seduhan mbak Lila sepertinya cocok dengan Abah, ia mendapat pujian dan aku melihat bagaimana mata mbak Lila tiba-tiba berubah jadi berkaca-kaca.
Andai saja dahulu Abah tak melarang bang Sigit dan mbak Lila bersatu, mungkin kami tak harus melewati rangkaian kejadian tak mengenakkan ini. Tapi begitulah hidup, semuanya sudah selesai dituliskan oleh Allah.
Sayangnya, ketenangan itu hanya sementara saja. Abah kembali sering mengamuk. Marah-marah tak jelas, menunjuk sudut ruangan yang tak ada siapa-siapa. Tapi Abah seolah sedang berbicara dengan seseorang di sana.
__ADS_1
"Halah, ngapain lagi kamu di sini. mau gangguin aku? Memang kurang aja- kamu. Penjahat. Kamu sudah membuat anakku mati, istriku mati. sekarang kamu ngincar nyawaku juga, kan!" hardik Abah sambil berkacak pinggang.
Supaya tidak terjadi keributan apalagi Alig sudah terlihat ketakutan melihat kakeknya, makanya aku segera menarik Abah ke kamar, memberinya obat tidur, sampai Abah terlelap, aku tak berhenti membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk menenangkan Abah. entah ini berpengaruh atau tidak, tapi Abah menjadi lebih tenang dan kemudian tertidur sambil mendengkur.
***
"Bang, sepertinya ada yang aneh dengan Abah." bisik Ami saat kami berdua. Yohana dan mbak Lila membawa Alif jalan-jalan ke taman untuk menenangkannya.
"Aneh apanya?" kataku, sambil mengurus jualan.
"Abah teriak -teriak seperti itu persis orang kesurupan. Apa jangan-jangan memang benar kecurigaan aku kalau Abah itu diganggu jin."
"Maksudnya apa? Jangan sembarang ngomong Mi!"
"Tau dari mana kamu?"
Ami langsung membuka Hpnya, ia memperlihatkan isi chat-nya dengan salah satu ustadzah ternama yang kami yakini orangnya lurus. Beliau sekarang menjadi guru mengaji Ami. Beliau menjelaskan bahwa itu adalah ajimat.
"Berarti Abah pernah ke dukun, begitu?' tanyaku.
"Entah, tapi yang jelas ini ada kaitannya dengan bunda dan bang Sigit juga. Aku kepikiran karena tadi Abah mengatakan semuanya pada entah siapa yang berada di pojok rumah kita."
Aku tak mengerti harus menanggapi apa. Kalau soal perdukunan itu, aku tak pernah tahu sebab dari dulu kedua orang tua kami sangatlah tertutup. Tapi, Ami pernah memperlihatkan benda-benda mencurigakan yang ia temui di kamar Abah dan Bunda saat Abah masuk RSJ. Juga cerita tentang ancaman pak Diki, yang akan mengguna-guna keluarga kami. Entah itu hanya sebatas ancaman atau benar sudah ia lakukan. Aku hanya bisa berserah diri pada Allah.
__ADS_1
"Kita harus melakukan sesuatu sebelum ada korban berikutnya, bang." kata Ami
"Apa? Aku nggak paham." kataku yang sejujurnya sangat tidak tertarik membicarakan masalah ini.
"Jangan sampai menyesal nantinya!"
"Iya iya. Tapi harus ngelakuin apa?"
"Apa saja, supaya semua ini berhenti karena jujur aku sudah lelah, bang."
"Akupun begitu, Mi. Tapi bagaimana? Kamu kan tahu aku nggak dekat dengan Abah. aku pergi meninggalkan rumah ini, kamu lebih tahu banyak hal dari pada aku " kataku.
"Kita ke dukun saja."
"Ngawur kamu. Itu sama saja menduakan Tuhan, bisa-bisa salat kamu nggak diterima empat puluh hari!"
"Ya lalu bagaimana?"
"Nanti aku akan bicara dengan Abah." kataku, untuk menenangkan Ami.
"Benar ya bang, jangan ditunda-tunda. Kalau Abang nggak Nemu jalan keluarnya, aku akan cari jalan sendiri untuk menyelesaikan semua ini." kata Ami.
Ia benar-benar serius dengan tuntutannya. Ami memang paling paham tentang keluarga ini dibandingkan aku.
__ADS_1