
Sejak kehadiran Caca di rumah, Yohana kembali bersemangat. Ia benar-benar berubah menjadi seorang istri dan ibu yang ceria. Selalu memenuhi kebutuhan kami tanpa pernah mengeluh. Melihat Yohana sekarang membuatku lega, setidaknya sudah ada yang mengobati lukanya setelah kehilangan dua keponakan meski tiap malam aku selalu menyaksikan ia menangis usai salat saat berdoa demi keselamatan Upik dan Puti.
Sebenarnya wajar jika Yohana masih menangisi dua anak tersebut karena mereka adalah keponakannya. Keberadaan mereka hingga sekarang belum diketahui, Yohana pun menangis kalau saat salat saja. Setelah itu ia akan berusaha bersikap biasa saja, agar tak mengubah suasana rumah. Fokus pada keluarga kecil kami.
Caca sendiri, sejak hari pertama tinggal di sini tak pernah canggung, layaknya anak perempuan biasa yang ada sisi manja namun juga selalu menyenangkan hati kami orang tua angkatnya. Ia benar-benar jadi obat untuk kami. Seberapa melelahkan menghadapi pekerjaan yang terus saja menumpuk namun terasa kembali ringan saat pulang dan bermain bersama Caca.
Ia pun kini sudah mulai bisa berjalan, meski masih perlu berpegang pada benda di sekelilingnya karena Caca belum sempurna mampu menopang berat badannya. Namun gadis kecil itu masih terus bersemangat menjalani terapi. Aku yang mengantarkan di saat hari libur selalu terpukau dengan semangat anak ini. Ia selalu bersungguh-sungguh tiap menjalani sesi terapi.
"Sebentar lagi Caca akan bisa berjalan." Kata Yohana dengan penuh semangat.
"Aamiin."aku tak bisa menahan haru melihat semangat gadis kecil itu. Ia sebenarnya sangat luar biasa, ia seperti Yohana kecil yang penuh semangat. Kekurangannya tak menjadi penghalang untuknya terus maju. Dan benar saja dugaanku, kini gadis kecil itu mulai melepaskan pegangannya dan berjalan pelan. Satu, dua, tiga langkah. Akhirnya ia mantap berjalan menuju Yohana. Gadis itu memeluk erat perempuan yang kini telah jadi ibu angkatnya.
"Anak baik, anak pintar, anak kuat. Bunda tahu kamu pasti bisa!" kata Yohana, sambil mengecup keningnya. Ibu dan anak itu larut dalam keharuan. Usaha keras mereka agar Caca bisa jalan akhirnya berhasil juga. Sebagai suporter, aku pun ikut bahagia.
Dokter yang menangani Caca juga menyatakan kemajuannya yang sangat pesat. Seperti sebuah keajaiban sebab anak-anak dengan riwayat sepertinya biasanya butuh waktu bertahun-tahun, bahkan ketika mereka sudah bisa berjalan masih menyisakan bekas dengan sekali-kali gamang atau terjatuh. Namun tidak dengan Caca, ia bisa seperti tak pernah sakit sebelumnya. Yohana memang sangat telaten mengurus Caca, selain terapi di rumah sakit, ia juga rutin menerapi Caca sendiri.
__ADS_1
"Sayang, sekarang perkembangan Caca kan sudah bagus. Apa kamu benar-benar tak tertarik untuk mengangkat anak satu lagi. Kamu ingat bayi yang semula ingin kita adopsi? Ia masih di panti asuhan, mungkin saja ia juga jodoh kita. Rasanya tak akan jadi masalah kalau kita mengasuh dua anak angkat. Secara perekonomian kita masih mampu dan secara kasih sayang aku yakin kamu bisa mencukupinya." Kataku, saat kami baru pulang dari rumah sakit.
"Tidak. Cukup Caca saja. Aku ingin fokus dengannya. Lagipula kita tak hanya punya satu anak. Ada Upik dan Puti juga. Mereka tetap akan jadi anak angkat kita kalau sudah ketemu kan sayang?" Yohana menatapku untuk mencari jawaban apakah aku masih konsisten dengan pendapat ku kala itu.
"Ya tentu saja. Upik dan Puti akan jadi kakak Caca." Kataku, sambil mengusap kepala Yohana hingga ia tersenyum lega. "Saat mereka berdua ketemu, kita akan membawanya dan tinggal di sini." Aku berjanji.
***
Yohana berteriak dan menangis. Aku yang tengah asik dengan laptop langsung menghampirinya yang sedang tertidur. Ini malam kedua ia bermimpi, pastinya mimpi buruk. Entah apa mimpinya, tapi seperti anjuran bahwa dilarang menceritakan mimpi buruk kita, makanya Yohana menyimpannya.
"Belum ada kabar sama sekali, sayang. Bersabarlah ya. Aku masih terus berusa mencari mereka." Kataku, membujuk Yohana agar ia tenang, tapi sepertinya usahaku gagal.
Yohana kali ini tak mau diam. Ia mengajakku keluar untuk mencari dua anak tersebut. Tentu saja aku agak aneh sebab Upik dan Puti hilang di Sumatera, tetapi ia meminta mencarinya di Jakarta. Namun karena ingin menenangkan hati Yohana, makanya aku ikut saja. Berkeliling Jakarta hingga dini hari.
"Kemana mereka? Kalau terjadi sesuatu yang buruk maka aku tak akan memaafkan diri sendiri." Kata Yohana, saat kami berhenti di dekat Monas.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan diri seperti itu Han, kita sudah mengajak anak-anak untuk ikut, tapi mereka yang menolak dan kita tak bisa memaksakan kehendak." Kataku, mencoba untuk menenangkan hatinya.
"Tidak sayang. Mereka masih anak-anak. Harusnya kita yang mengambil keputusan untuk mereka, bukan pasrah begitu saja." Kata Yohana. "Sayang, apa kamu tahu dimana tempat lokalisasi di sini?"
"Untuk apa membicarakan itu?" Aku mencoba memahami maksud Yohana, berharap tak seperti dugaanku.
"Entahlah, aku merasa ...." Yohana terlihat bingung. Ia melihat ke kiri kanan, lalu kembali kebingungan sendiri.
"Han, jangan negatif thinking. Ingat, mereka itu anak-anak. Lagipula mereka hilang di Sumatera, kenapa juga carinya ke sana. Sudahlah. Kita pulang saja, kasihan Caca kalau ia terbangun dan tak melihat kita berdua di rumah pasti ia sangat khawatir sekali." Kataku, membujuk Yohana agar mau pulang, tetapi ia masih tetap diam tak bergeming.
"Ini semua salahku, harusnya aku tak membiarkan anak-anak di sana. Harusnya aku menemaninya. Harusnya ...." Yohana kembali menyalakan dirinya sendiri. Aku benar-benar bingung menghadapi. Apalagi malam mendekati dini hari, mata mengantuk, badan lelah. Untungnya saat itu Ami menelepon, mengabari kalau Caca menangis mencari ibunya. Mendengar itu barulah Yohana langsung bergerak mengajakku pulang. Ia tak tahan mendengar suara tangis anaknya. Melihat itu membuatku berpikir, rencana apa yang sedang Allah siapkan untuk kami, Yohana yang memiliki jiwa keibuan begitu besar namun ditakdirkan belum memiliki keturunan.
***
Hari terus berlalu, Yohana masih belum bisa melupakan kesedihannya atas kehilangan Upik dan Puti. Meski begitu, ada Caca yang menjadi obat hati untuknya. Gadis kecil itu selalu bisa membuat Yohana kembali tersenyum dan bersemangat melanjutkan hidup.
__ADS_1
Aku sangat bersyukur dengan kehadirannya yang meski tak lahir dari kami berdua namun selalu bisa menjadi obat hati kami dikala lara menghampiri. Tetapi meski begitu aku juga tak lepas tangan, terus mencari dua anak itu. Tiap bulan juga tak melupakan kewajiban ke panti, menyalurkan sedekah kami dengan harapan bisa menemukan Upik dan Puti dalam keadaan baik-baik saja.