Tiba-tiba Jadi Suami

Tiba-tiba Jadi Suami
Anak Magang


__ADS_3

[Bunda sakit, Yah. Sudah dibawa ke rumah sakit dan kata dokter magh bunda kambuh lagi karena banyak pikiran.] Pesan dari Caca yang menyatakan kondisi Yohana sekaligus mengabari bahwa mereka tak jadi pulang sore ini. Kondisi Yohana seperti itu cukup mengkhawatirkan kalau harus melakukan perjalanan meski itu lewat udara yang lebih singkat, tapi tetap saja ada perjalanan darat yang harus ia tempuh dengan waktu yang tak sedikit.


[Kalau begitu istirahat dulu di hotel satu atau dua hari ini. Ingatkan bunda untuk makan tepat waktu dan jangan lupa minum obat. Jaga bunda baik-baik ya nak!] pintaku dalam pesan terakhir.


Kepalaku berdenyut memikirkan Yohana yang semakin sering sakit. Entah bagaimana cara agar ia kembali seperti dahulu sebab aku meyakini obatnya hanya menemukan Upik dan Puti. Hanya saja harus mencari kemana? Kami sudah lapor polisi, sudah menyebar informasi ke tengah masyarakat, sudah menyewa detektif namun hasilnya masih nihil. Anak-anak itu seperti ditekan bumi.


Tok tok tok. Pintu ruanganku di ketuk. Sekretaris masuk bersama seorang gadis muda memakai kemeja putih dan rok hitam panjang yang ku yakini anak magang. Di kantor kami tiap bulannya memang biasanya ada anak magang yang masuk. Mereka biasanya belajar di sini mulai dari tiga bulan sampai satu tahun, tergantung kebutuhannya.


"Maaf pak, perkenalkan ini Bukan Sari, ia magang di sini selama enam bulan " kata sekretaris, memperkenalkan gadis muda yang ku perkirakan usianya dua puluh tahunan.


Pertama melihatnya aku merasa tak asing dengan wajahnya. Seperti pernah melihat tapi entah dimana. Anak itu tersenyum. Semakin membuatku mengingat seseorang. Berkas-berkas biodata miliknya langsung ku periksa. Namanya Nilam Sari, dari Sumatera Barat.


"Apa kita saling kenal sebelumnya?" Tanyaku. "Maaf, maksud saya, wajah anda seperti keponakan istri saya, apalagi anda berasal dari daerah yang sama dengannya." kataku lagi.


"Maaf pak, sepertinya kita baru bertemu." Katanya.


"Oh, begitu ya? Baiklah. Sekarang silakan lanjutkan pekerjaan kalian." Kataku. Begitu ia keluar ruangan, aku langsung mengecek Hp, melihat sebuah foto yang diambil beberapa tahun silam. Foto Yohana bersama Upik dan Puti. Ya, gadis itu sangat mirip dengan Upik atau Puti. Tapi melihat biodatanya, rasa-rasanya tak mungkin itu salah satu dari mereka. Anak ini sejak kecil sudah bersekolah di Jakarta. "Ini pasti gara-gara aku terlalu memikirkan mereka. Makanya orang baru akan terlihat seperti mereka." tak ingin larut dalam pikiran sendiri, ku putuskan untuk berwudhu dan menenangkan diri dengan salat.


***

__ADS_1


"Sepertinya aku tak bisa berdamai dengan diri sendiri. Aku benar-benar merasa sangat menderita." Kata Yohana saat ia sudah kembali. "sayang, apa sebaiknya aku tinggal di Sumatra saja agar bisa menanti kalau-kalau kedua anak itu kembali."


"Kamu bicara apa sayang? Kalau kamu tinggal di sana, bagaimana dengan aku dan Caca? Kami juga membutuhkan kamu." Kataku. Ahhh Han, aku pun juga merindukan kamu, mungkin rasanya sama besar dengan kerinduan kamu pada dua anak itu atau juga lebih. Sudah cukup lama kamu mengabaikan aku, padahal aku jauh lebih berhak atas kamu. "Bisakah kamu juga menjadikan aku sebagai prioritas? Aku ini suamimu, Han. Aku juga berhak diperhatikan dan di urus." Kataku.


Bukannya mengikuti keinginanku, Yohana malah mengabaikan. Ia tetap saja membicarakan Upik dan Puti. Menganggap kepergian mereka adalah salahnya. Kalaupun itu benar salah Yohana, apakah harus menghabiskan waktu hanya untuk itu? Sementara ada yang lain juga? Atau ingin yang ada pergi juga agar bisa diperhatikan?


"Kenapa sih kamu tak mau memahami aku? Bukankah semuanya sudah aku lakukan. Apapun yang kamu mau? Aku memang tak bisa melupakan kedua anak itu karena kewajiban aku untuk melindungi mereka!" Kata Yohana yang ikut terpancing emosi. Memang, dalam kondisi lelah yang namanya emosi sangat mudah tersulut. "Kita sendiri-sendiri saja dulu!" Kata Yohana yang membuat aku makin tak habis pikir.


"Oh begitu? Baiklah. Lakukan apapun yang kamu mau. Oh ya, ingat Han, kalau hati terus diabaikan bisa saja dengan mudah berpaling! Jangan sampai kamu menyesal karena biasanya penyesalan akan datang belakangan!" Aku segera bangkit, mengambil koper kecil, memasukkan beberapa lembar pakaian terutama pakaian kerja dan juga pekerjaan kantor. Setelah itu pergi meninggalkannya.


Kecewa rasanya ketika Yohana tak melakukan apapun. Ia hanya diam saja. Bahkan melihat pun enggak.


"Ayah dan bunda sedang tidak baik-baik saja. Bunda ingin menjaga jarak dulu, makanya ayah akan pergi beberapa hari. Kamu bisa kan menjaga bunda, nak?" tanyaku.


"Ya, bisa yah. Tapi ayah jangan pergi lama-lama ya. Kalau bunda memanggil ayah, segera datang ya." Syarat dari Caca ku iyakan meski kenyataannya Yohana tidak akan memanggilku. Sepertinya ia lebih memilih kesedihannya.


***


"Ini untuk bapak " Nilam, anak magang itu tiba-tiba menyerahkan sebuah kotak makan berisi lontong sayur dan segelas kopi susu hangat ke hadapanku. "Maaf kalau saya lancang. Sepagi ini ada di sini, saya menebak bapak belum sarapan dan kebetulan saya membeli makanan lebih, awalnya untuk makan siang tapi saya sadar kalau makanan ini tak akan enak dimakan siang, apalagi minumannya."

__ADS_1


"Kamu ini ada-ada saja. Tapi kamu mirip anak saya. Sepertinya ia lebih muda. Berapa usia kamu?" tanyaku, sambil membuka kotak makanan tersebut dan tiba-tiba aku yang belum makan sejak semalam langsung merasa lapar.


"Dua puluh tahun, pak."


"Oh, putri saya tujuh belas tahun."


"Hah, tujuh belas?"


"Ya, kenapa?"


"Oh tidak. Saya malah berpikir jauh lebih muda dari itu. Empat atau lima tahun lebih muda dari tujuh belas tahun." Katanya. "Baiklah kalau begitu, selamat sarapan, pak. Saya mau pamit dulu."


"Tunggu. Mbak Nilam, saya tidak suka berhutang budi." Aku membuka dompet, memberikan dua lembar ratusan ribu sebagai ganti pembelian lontong sayur dan kopi susu yang ia berikan.


"Tak perlu pak, saya ikhlas kok." Ia menundukkan kepalanya.


"Iya, saya tahu. Anggap saja ini traktiran dari saya. Dari seorang ayah!" Aku kembali mengulurkan. "Atau kurang?" Aku kembali hendak membuka dompet, tapi ia menolak dengan keras."


"Kalau traktir ya langsung dibelikan. Nanti saja jam makan siang, saya tunggu traktiran bapak!" tanpa menunggu apakah aku setuju mentraktirnya, dengan penuh percaya diri Nilam menyatakan akan menunggu ditraktir di cafe nanti siang , kemudian ia berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Anak-anak sekarang memang aneh." Aku menggumam. "Seenaknya saja menentukan sesuatu tanpa persetujuan orang lain." lagi-lagi aku dibuat ingat akan Caca. Ahhh, putriku pun kadang begitu. Kalau menginginkan sesuatu suka mengaminkan sendiri dan dengan percaya diri menganggap kita pun sudah setuju.


__ADS_2